16

41 6 0
                                        

Malam datang dengan keheningan yang mendalam, disertai gemuruh hujan yang tak berhenti. Air hujan membasahi jalan-jalan yang sepi, membuat jalan menuju pulang terasa seperti diliputi selimut kehitaman. Lampu-lampu jalan yang berkelap-kelip memantulkan cahaya lembut di atas permukaan jalan basah, Hanna masih terdiam menatap pemandangan malam dalam mobil Seokjin yang menuju arah kembali ke villa.

Ban mobil berhenti tepat di belakang sebuah porsche hitam. Di sana, Hanna bisa melihat bagaimana titik air berjatuhan dari ujung kemeja yang Jungkook kenakan. "Keras kepala," lirih Hanna.

"Masuklah, aku akan bicara pada Jungkook untuk berhenti menunggumu." Seokjin menyerahkan sebuah payung hitam besar pada Hanna.

Kepalan tangan Jungkook mengerat. Hatinya terasa di cengkeram dengan kuat ketika melihat Hanna keluar beriringan dengan laki-laki lain. Pria itu, Jungkook benar-benar tak menyukainya. Tapi, dia pun tahu jika tak punya kuasa untuk meminta Hanna menjauhinya.

Pandangan kedua laki-laki itu bertemu setelah sebelumnya mereka sama-sama menatap pada satu arah yang sama, yaitu Hanna. Setelah memastikan wanita berambut hitam itu masuk ke dalam rumah, baik Seokjin maupun Jungkook saling menatap.

"Dia ingin kau pergi," ucap Seokjin mengawali pembicaraan.

"Aku akan tetap di sini," potong Jungkook cepat. "Dia masih istriku, aku ingatkan jika kau lupa."

Hujan semakin deras, pohon besar yang sebelumnya cukup untuk menaungi Jungkook dari tetesan hujan nyatanya sudah tak bisa lagi menampungnya. Petir menyambar dengan nyaring, Jungkook refleks ingin lari mengejar Hanna ketika mendengarnya tapi Seokjin menahan tangannya tak kalah cepat.

"Apa yang kau lakukan? Dia tidak ingin bertemu denganmu!" sergah Seokjin.

"Lepaskan! Hanna takut petir. Dia sendirian di sana!"jawab Jungkook sambil mencoba melepaskan cekalan tangan Seokjin di lengannya.

Baru saja kalimat yang Jungkook ucapkan selesai, sebuah pohon besar yang ada di samping rumah itu tumbang, disusul percikan api yang memadamkan lampu-lampu.

"Sialan! Hanna juga takut gelap!"

Seokjin melepas cekalannya. Mereka berdua berlari dengan cepat menuju rumah. "CEPAT BUKA!" kata Jungkook ketika Seokjin lupa sandi rumahnya hingga beberapa kali terjadi kesalahan.

Setelah masuk ke dalam rumah, ruangan begitu gelap. Jungkook mengikuti di belakang ketika pria yang sudah mengenal seluk beluk rumahnya itu bergegas menaiki tangga. Pintu kamar yang Hanna tempati terbuka dengan kasar, Seokjin segera meraih ponsel di kantong celananya dan menyalakan senter, hingga suara langkah lari menghampiri mereka.

"Aku takut," isak Hanna dengan tubuh bergetar. Tangannya erat memeluk orang di depannya.

"Tenanglah aku disini."

****

Hanna menggeliat pelan ketika ia merasa ada sesuatu yang menusuk-nusuk perutnya, sakit dan pedih. Saat mencoba bangun kepalanya pun ikut berdenyut dengan hebat. Hanna mencoba bangkit meski pandangannya mengabur dan lantai yang ia pijaki terasa bergelombang.

Susah payah Hanna berjalan untuk meraih gagang pintu kamar mandi, sebelumnya ia sempatkan melirik kembali ranjangnya yang terisi oleh satu orang yang tak terusik ketika ia bangun. Dinginnya lantai kamar mandi membuat dahi Hanna mengernyit, tubuhnya mendadak menggigil seiring sesuatu mengalir di pahanya.

"Da...darah?"

Dada Hanna bergemuruh hebat. Hal yang paling mengerikan terlintas di pikirannya. "Tidak mungkin," ucap Hanna lemah.

Forgive LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang