20

41 3 0
                                        

Beberapa hari yang lalu...

"Cucu Ahn Woo Bin. Tidak ku sangka akan bertemu denganmu."

Choi Hansol berujar ramah dengan kekehan khas orang tua. Sedang Seokjin sedikit menegang karena dibawa ke dalam ruang kerja yang sialnya terdapat beberapa senjata laras panjang yang tergantung rapi di dinding dan membuatnya ngeri.

"Saya akan membantu Hanna untuk mencari tempat yang bagus di Paris. Saya harap, Paman memberi izin."

Choi Hansol hanya mengangguk tanda mengerti. "Ku izinkan. Oh ya, bagaimana kabar kakekmu? Apa dia bisa berjalan dengan baik?"

Kening Seokjin mengernyit. "Bagaimana Paman tahu tentang insiden itu?"

Choi Hansol menyemburkan tawa. Beberapa detik berlalu tapi ayah Hanna hanya menggeleng kepala beberapa kali seolah sedang mengingat hal yang paling menggelikan dalam hidupnya. "Kakekmu adalah atasanku di Kementrian Pertahanan. Kalau saja aku tidak cepat menyeretnya, mungkin dia akan kehilangan kakinya untuk selamanya. Saat itu, aku dalam dilema." Choi Hansol merubah mimik wajahnya menjadi datar. "Kakekmu sangat kejam pada kami bawahannya, di satu sisi aku muak dengan cara kakekmu memerintah kami, tapi di satu sisi ada malaikat dalam diriku yang berbisik begitu kuat untuk menolongnya. Dan, akhirnya aku memilih menolongnya."

Seokjin tak tahu harus bereaksi seperti apa, ikut tertawa rasanya tidak mungkin, karena yang sedang dibicarakan adalah kakeknya sendiri, tapi mendengar cerita ayah Hanna yang tak suka dengan cara Kakeknya dalam memimpin pasukan, Seokjin juga ikut membenarkan, karena karakter kakeknya juga sama saat memimpin keluarganya, hanya saja Seokjin menjadi cucu kesayangan karena memenuhi semua ekspektasi sang kakek tentang seorang pewaris keluarga hingga sikapnya melunak.

"Anda benar, kakek memang seperti itu," ucap Seokjin menyetujui.

Choi Hansol kembali membenarkan posisinya, menatap Seokjin yang masih duduk tegak di hadapannya yang hanya dipisah oleh meja kerja licin dan mengkilat. Pria tua itu mengamati Seokjin begitu lamat, bahkan mungkin melebihi cara x-ray dalam memindai tubuh. "Kau menyukai anakku?"

****

Hanna meremas tali tas yang tersampir di bahunya. Perasaan aneh terus menggerogoti hatinya yang membuatnya tak nyaman. Setelah pergi dari gedung pernikahan Jungkook, Hanna langsung menuju bandara dan akan terbang ke Paris untuk memulai hidup baru. Ya, hidup tanpa Jungkook. Terdengar sepele, tapi Hanna berkali-kali berperang dengan batinnya. Keputusan ini begitu sulit.

"Makanlah." Sebuah roti isi sosis tersodor di depan Hanna. "Aku tahu kau belum makan sesuatu," ucap Seokjin kembali.

Hanna meraih roti itu dan menatapnya tak berminat. "Kau sudah menyerahkan suratku?"

Seokjin menduduki tempat di samping Hanna. Menatap wanita bernetra coklat itu dengan senyum tipis. Tangannya terulur merapikan rambut Hanna yang sedikit berantakan. "Kau yakin untuk pergi? Kita bisa batalkan penerbangannya jika hatimu masih berat."

Hanna menggeleng dengan cepat. "Aku tidak sekuat itu. Aku masih wanita penakut sekaligus pengecut. Pergi adalah jalan terbaik, meski ... aku yakin tak bisa sembuh dengan cepat."

"Maaf, aku tak bisa menemanimu saat ini. Aku harus mengatur jadwalku lebih dulu. Tapi, aku janji aku akan berkunjung dan mengajakmu mendatangi tempat rahasia yang ada di Paris."

"Kau seperti penduduk Paris saja," ejek Hanna.

Seokjin menghela nafas, terdengar berat tapi kemudian sebuah senyum terbit di wajahnya. "Aku cukup lama tinggal di sana saat masa kuliah. Paris seperti rumah kedua bagiku."

"Apa di sana juga banyak mantan kekasihmu?" goda Hanna.

"Tidak," balas Seokjin cepat. "Aku tidak pernah memiliki mantan kekasih," sambungnya.

Tidak ada mantan kekasih, karena tidak ada hubungan yang terjalin antara aku dan Amanda, batin Seokjin.

"Baiklah. Aku akan menunggumu di sana. Aku tak akan berkeliling sampai kau datang."

"Sesampainya di sana, ada temanku yang akan menjemputmu. Namanya Mathilda, teman baikku semasa kuliah. Dia lancar berbahasa Korea, aku yakin kau akan berteman baik dengannya."

Hanna mengangguk mengerti, senyumnya tercetak jelas meski ada jejak air mata di kedua sudut matanya. "Terimakasih, kali ini aku yang akan menunggumu."

****

Hampir 14 jam, Hanna akhirnya menghirup udara kota Paris yang terasa berbeda. Cuaca mulai berubah karena memasuki bulan Desember, Hanna mengeratkan coat-nya dan mulai mencari seseorang yang bernama Mathilda.

Sebuah papan nama yang dipegang oleh seorang wanita membawa Hanna untuk mendekat. "Kau Mathilda?"

Perempuan yang bernama Mathilda itu tersenyum ramah. "Benar, ayo ikut aku."

Keduanya akhirnya menuju parkiran dan memasuki sebuah mobil hitam yang beratap rendah. "Senang bertemu denganmu Hanna, sesuai seperti yang Seokjin katakan.," ucapnya dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.

"Memangnya apa yang dia katakan?" tanya Hanna mulai penasaran.

"Dia bilang kau cantik, juga terlihat berkelas. Aku langsung tahu itu kau ketika kau keluar tadi."

Hanna hanya menanggapi dengan senyuman. Jujur saja, dia memang punya waktu yang lebih lama untuk akrab dengan seseorang, tapi sepertinya Mathilda adalah wanita yang baik. Mungkin Hanna akan mencoba lebih membuka diri karena saat ini ia tak punya kenalan satu orang pun di kota ini.

Tak banyak percakapan serius selama dalam perjalanan menuju sebuah apartemen yang ternyata milik Seokjin, Hanna baru tahu ketika Mathilda menjelaskan. "Jadi, aku harus bayar sewa pada Seokjin?"

"Entahlah, kau tanya saja dia. Tempat tinggal ku ada di sebelah apartemen ini, kau bisa datang padaku kapanpun kau mau."

Hanna mengangguk mengerti dan kembali menata barangnya ketika Mathilda pamit pergi. Satu persatu bajunya keluar dari koper, tak banyak yang ia bawa, Hanna berencana membeli yang lainnya di sini saja. Semua kegiatan berlangsung tenang sebelum Hanna tak sengaja mengeluarkan sebuah hoodie berwarna hitam.

"Kenapa aku membawa ini?"

Hanna meremas hoodie itu kemudian memeluknya erat. Aroma Jungkook menguar hingga membuat tangisnya pecah. Hanna sebenarnya tak ingin menangis lagi, tapi rasanya ia memiliki pabrik air mata hingga terus keluar dan membanjiri wajahnya.

"Aku harus membuang ini," lirih Hanna dalam isakannya. Segera ia mendekati tong sampah dan membuangnya di sana, pandangannya masih tertuju pada hoodie itu, selama ini barang itu cukup membantunya untuk tidur meski memang tak senyenyak sebelumnya.

"Kenapa aku harus mencintaimu sedalam ini?" Hanna merutuki dirinya yang terlalu bodoh. Dia lupa jika sebuah hubungan akan mengalami perpisahan, baik itu hidup ataupun mati, cepat atau lambat. Tidak ada yang tahu, itu sebabnya Hanna tak pernah mempersiapkan dirinya untuk perpisahan ini.

Ponselnya berdering. Hanna menatap layar ponsel itu dan membiarkan panggilan yang masuk tanpa berniat mengangkatnya. Nama Jungkook tertulis di sana, entah apa yang pria itu pikirkan ketika menelepon Hanna bahkan di saat ia sudah menikah dengan Bella.

Hanna menatap jam digital yang berada di samping tempat tidur. "Ini malam pertamamu, dan kau meneleponku? Dasar gila!"

Forgive LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang