26

29 1 0
                                        

Seokjin yakin ia sedang bermimpi. Hanna di atasnya, bergoyang teratur dengan rambut yang menjuntai dan menutupi kedua pucuk dadanya. Pemandangan yang sangat indah, ingatkan Seokjin jika ia akan menulis mimpi ini di jurnal pribadinya. Dalam mimpi, Seokjin mengukur setiap inci tubuh Hanna dengan bibirnya. Wanita itu menggeliat senang, terlebih suaranya saat memanggil namanya. Seokjin yakin, selama tiga puluh dua tahun hidupnya, ini adalah mimpi basah yang sangat indah.

Tapi, ketika Seokjin mencoba bangun, sebidang bahu polos tanpa kain di depannya menjadi pemandangan pertama ketika ia membuka mata. Pria itu tersenyum, kemudian mengecupi bahu itu beberapa kali. Ternyata masih mimpi, ucap Seokjin dalam hati.

Seokjin berniat kembali tertidur dan memeluk posesif Hanna di depannya. Demi tuhan, dia tidak ingin bangun, tapi suara dering telepon benar-benar mengganggu. Seokjin berbalik, melepas pelukannya dan meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas samping ranjangnya.

"Kapan kau datang, aku mulai lapar."

Seokjin mengernyitkan dahi, alisnya terpaut dalam. "Hanna?" tanya Seokjin ragu.

"Ini aku, kau lupa dengan janjimu?"

Seokjin membuka matanya dengan cepat. Pandangannya mengedar meneliti ruangan yang ia tempati. Ini hotel tempatnya bermalam, ia ingat menaruh mantelnya pada gantungan lemari yang ada di depannya. Lalu, Seokjin menatap di sampingnya. Jantungnya berdetak cepat. "Han, a...aku akan kesana. Tunggu aku," ucapnya terbata.

Rambut itu berwarna coklat dengan highlight pirang dan berombak sedangkan Hanna memiliki rambut lurus yang hitam. Seokjin meneguk ludahnya dengan susah. Tangannya terulur meraih bahu itu dan membalik tubuhnya. Matanya menatap tak percaya, "A...amanda?"

Wanita yang merasa dipanggil namanya itu bangun, dengan mata yang setengah tertutup ia tersenyum pada Seokjin. "Pagi, Jin," ucapnya serak.

Di antara semua hari sialnya, mungkin ini adalah hari yang terburuk. Bagaimana bisa? Seokjin mencoba mengingat-ingat apa yang sudah terjadi, denyutan sakit di kepalanya memberinya jawaban. Dia mabuk, dan William yang selalu mempermainkan minumannya tak pernah berubah sejak masa kuliah.

"Cepat pergi setelah aku keluar dari kamar ini," ujar Seokjin dingin dan melenggang pergi ke kamar mandi tanpa berniat sedikitpun menutupi tubuhnya yang tak memakai apapun.

Amanda menatap getir punggung lebar itu yang sudah hilang terhalang pintu. Seokjin masih marah, dan ia tak punya banyak waktu untuk membujuk pria itu. Amanda menatap jam digital yang terpasang di atas kabinet. Jam sembilan pagi, ia harus sampai Belgia secepatnya. Volta sudah mengultimatum akan memberi hukuman jika ia terlambat makan siang dengannya.

Tak lama, pintu kamar mandi itu terbuka. Menampilkan Seokjin dengan bathrobe abu-abu yang bahkan tak melirik Amanda sama sekali. Pria itu segera mengambil beberapa lembar baju dalam kopernya dan kembali memasuki kamar mandi.

Sial! Dia bahkan tak menganggapku ada.

Amanda bangkit, sama seperti Seokjin dia juga berkeliaran di kamar hotel tanpa kain yang menutupi tubuhnya. Seolah mereka terbiasa, seolah itu hanya rutinitas pagi yang tak perlu dipikirkan, dan baik Amanda atau Seokjin sudah sering melakukannya beberapa tahun yang lalu.

"Siapa Hanna?" tanya Amanda tepat ketika Seokjin sudah keluar kamar mandi dengan pakaian rapi.

"Kau tak perlu tahu." Seokjin meraih jam tangan yang ada di meja rias bersebelahan dengan kabinet yang menyediakan beberapa jenis minuman sachet dan Amanda sedang menyeduh kopi di sana.

Forgive LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang