Pantulan bayangan pria terlihat dari sebuah gelas yang mulai terisi dengan wiski. Sebuah senyum samar mengiring ketika si penuang minuman berbalik dan menatap orang yang datang. "Kakek pikir, kau masih sibuk dengan wanita itu," ucapnya dengan suara serak yang khas.
"Bagaimana kesehatan Kakek?"
Suara kekehan terdengar bahkan ketika mereka sudah mulai duduk bersama. "Aku tahu bukan itu yang membuatmu datang."
"Baiklah, pria tua sok tahu. Cucumu ini sedang perlu bantuan."
Si pria tua itu menyesap wiski-nya. Musim hujan yang menjengkelkan akan segera berakhir. Meski ia punya cara lain untuk menghangatkan diri, nyatanya alkohol adalah sebuah kehangatan dalam pelarian yang indah.
"Menjodohkanmu dengan anak Choi Hansol?" ungkapnya terus terang.
"Apa Kakek tidak keberatan?"
"Dia memiliki pendidikan yang bagus, kalau kau suka, aku tidak akan menghalangi. Terlebih dia lebih bermartabat ketimbang wanitamu yang di Milan."
Seokjin mematung. Kakeknya memang selalu tahu banyak hal. "Aku sudah berakhir dengannya. Kakek tidak usah mencemaskan hal yang tidak-tidak."
Pria tua itu hanya mengangguk mengerti. "Benarkah? Meski dia datang dan menemuimu saat ini?"
"Dia disini!?" tanya Seokjin cepat.
"Wah, lihatlah reaksi seseorang yang baru mengatakan hubungannya sudah berakhir beberapa detik yang lalu. Apa seperti ini?"
"Jangan mengerjaiku. Aku tahu dia tidak mungkin datang."
Percakapan itu berakhir seiring jam yang berdentang menandakan waktu tengah malam. Pria tua itu kembali ke meja kerjanya. Menarik sebuah laci kemudian mengambil sebuah kertas dan foto seorang perempuan.
"Amanda Rawless. Sayang sekali, cucuku tidak akan pernah ku izinkan untuk bersamamu lagi."
****
Hanna menatap kaca yang dialiri oleh tetesan hujan. Menghitung dalam hati sudah berapa bulir yang jatuh atau malah bersatu dengan tetesan lainnya. Jalanan yang basah dengan beberapa orang yang menerjang hujan menjadi pemandangan satu-satunya yang ia lihat. Hanna duduk termenung, meski sudah satu bulan sejak kepulangannya dari rumah sakit, tapi perasaan kosong itu masih begitu terasa.
Hanna sudah mencoba semuanya, bahkan memasuki kelas balet yang begitu ia benci demi mengusir rasa sedihnya karena kehilangan janinnya. Tapi, semua itu seperti tak berpengaruh apa-apa. Hatinya tetap hampa, netranya tetap berair, dan sialnya ia merindukan kehidupannya yang dulu.
"Maaf menunggu lama, aku terjebak hujan."
Suara bariton pria itu membuat Hanna menoleh dengan malas. Melirik sebentar kemudian kembali lagi ke tempat semula menatap satu persatu orang yang berlalu lalang melewati cafe yang ia tempati.
"Mana Bella?"
Jungkook hanya berdehem, kemudian memanggil pelayan guna memesan sebuah kopi hangat. "Dia di rumah, untuk apa bertanya?"
"Berhenti mendatangiku di rumah Papa. Pikirkan Bella yang mengandung anakmu."
Terdengar helaan nafas berat dari bibir tipis pria itu. "Aku harus mencoba sampai Papa mau memaafkanku."
Hanna berbalik, menatap Jungkook yang terlihat tak begitu bersemangat. Binar matanya redup, padahal Hanna menyukai cahaya semua galaksi yang ada di matanya. "Papa mengetahui Bella, dan bertanya mau ku apa."
KAMU SEDANG MEMBACA
Forgive Love
RomancePerselingkuhan selalu menjadi momok menakutkan hingga menjadi sebuah trauma. Delapan tahun pernikahan, Hanna harus rela jika Jungkook akan mengkhianatinya dan meminta cerai. Tetapi, bukan hanya dipusingkan tentang bagaimana ia bertahan dan tetap wa...
