Flashback ...
"Anda harus memutuskan, ibu atau anaknya." Dokter itu menghela nafas berat ketika mengucapkannya. Siapapun tahu, jika tak pernah ada yang ingin berada dalam pilihan sulit tersebut.
"Tentu ibunya, apapun, selamatkan ibunya, Dok!" sahut Jungkook cepat. Dia tidak akan pernah menyerah untuk memilih hidup Hanna meski ia tahu jika hidup wanita itu takkan pernah lagi sama setelahnya.
Dokter wanita itu mengangguk, menyerahkan sebuah kertas yang harus di tandatangani oleh Jungkook. Pria itu tanpa ragu menyetujuinya, merapal dalam-dalam sebuah doa agar Hanna selamat dan kalau bisa dengan keajaiban tentang buah hati mereka.
"Kami akan melakukan semaksimal mungkin."
Flashback off ...
Di tengah keheningan taman rumah sakit, Hanna terduduk sendirian. Memandang pada tanah yang pernah ia impikan menginjaknya dengan sepasang kaki mungil yang menemaninya. Bibirnya bergetar, mencoba menahan gelombang emosi dalam dirinya yang ingin keluar. Remas an tangannya pada baju biru muda yang menjadi seragam rumah sakit itu menguat, susah payah ia mencoba menelan ludahnya sendiri, tapi Hanna tak sekuat itu.
Tangisnya pecah, isakannya terdengar memilukan, bahu mungil itu bergoyang hingga Hanna memutuskan meraung dengan hebat. Hanna tak pernah tahu jika kehilangan ternyata begitu menyakitkan seperti ini. Tubuh kecil yang sedang menangis itu akhirnya di rengkuh oleh seseorang, tangannya meraih wajah Hanna dalam dekapannya, berharap kesedihan itu dapat ia bagi dengan dirinya sendiri.
"Maafkan aku,"ucapnya lirih.
Hanna tak merespons, ia tahu jika keputusan Jungkook benar, hanya saja ia perlu meluapkan kesedihan yang mencekiknya. Terasa kecupan di pucuk kepalanya beberapa kali, Hanna membiarkannya, karena Hanna membutuhkannya. Saat ini, Hanna memang memerlukan Jungkook untuknya. Persetan dengan semua hal yang sudah mereka lalui.
****
Hanna mengemas perlengkapannya. Dahinya mengernyit karena beberapa barang tidak ia kenali, Seokjin pasti membelinya dengan acak. Pria itu tak terlihat ketika ia membuka mata, tapi semua perlengkapan untuknya tersedia dengan baik bahkan sekecil lip balm rasa stroberi yang sedang Hanna sentuh. Hanna tahu betul, Jungkook tak punya inisiatif seperti itu.
"Kau sudah berkemas?"
Hanna menoleh ketika mendengar suara Jungkook datang dari balik pintu yang ia belakangi. "Hm, sudah." Sebuah ikat rambut hitam menjadi barang terakhir yang ia masukkan ke dalam tas.
Jungkook mendekat, memeriksa semua barang yang sudah Hanna rapikan. Tangannya terulur mengusap lembut kepala Hanna, keduanya saling tatap kemudian memilih saling tersenyum. "Ayo, Papa dan Mama sudah menunggu di depan."
Hanna mengangguk, tas yang ia bawa berpindah tangan pada Jungkook, dan laki-laki itu meraih pinggang Hanna untuk keluar dari ruangan. Hanna tak menolak, perasaan nyaman saat bersama Jungkook tengah ia nikmati. Meski ia tahu, perasaan ini tak akan berlangsung lama.
Keduanya memilih pulang ke rumah orang tua Hanna. Kabar tentang Hanna yang kehilangan bayinya begitu membuat kedua orang tuanya terpukul, Hanna diharuskan pulang ke rumah dan tak diizinkan untuk menanggung hidupnya sendiri.
Selama perjalanan Hanna hanya diam. Sesekali menghela nafas berat, kemudian melirik tangannya yang hilang di genggaman Jungkook. Sudah berapa lama tidak seperti ini? Kenapa rasanya begitu berbeda? Hanna bahkan tak bisa berhenti memikirkan Seokjin yang tak menjenguknya sama sekali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forgive Love
RomancePerselingkuhan selalu menjadi momok menakutkan hingga menjadi sebuah trauma. Delapan tahun pernikahan, Hanna harus rela jika Jungkook akan mengkhianatinya dan meminta cerai. Tetapi, bukan hanya dipusingkan tentang bagaimana ia bertahan dan tetap wa...
