Lily, mawar, serta peony menjadi bunga yang akan menjadi saksi bisu perjanjian pernikahan Bella dan Jungkook. Dirangkai menyerupai gerbang dengan altar putih yang memanjang. Pemandangan kota dari ketinggian lantai tiga puluh menjadi daya tarik pernikahan yang Bella inginkan.
Meja dan kursi masih kosong. Para tamu akan datang satu jam sesuai undangan yang mereka terima. Bella sudah bersiap di ruangannya. Gaun pertama yang ia coba di butik tempo hari lalu sudah membalut indah tubuhnya. Para perias tidak perlu usaha terlalu banyak karena Bella dikaruniai wajah yang begitu cantik.
"Sempurna," puji sang makeup artist saat sentuhan terakhirnya di area bibir.
Bella hanya tersenyum menanggapi, hanya saja senyumannya luntur seiring seseorang membuka pintu dan menampakkan diri.
"Hanna!?"
Bella bereaksi berlebihan dengan bergerak mundur dan akhirnya menabrak gantungan baju hingga dirinya hampir terjungkal, beruntung Hanna meraih tangannya tak kalah cepat, hingga Bella bisa kembali berdiri dengan benar.
Semua orang yang ada di sana terkejut, karena kalau saja Hanna tak tepat waktu meraih tangannya, entah apa yang akan terjadi dengan kandungan itu. Dengan isyarat dagu Hanna, para perias itu pergi memberi waktu dan tempat untuk mereka berdua.
"Jangan ceroboh, kau bisa membahayakan dia," ucap Hanna dengan tatapan yang tertuju pada perut Bella.
"Untuk apa kau datang? Mau menggagalkan pernikahanku? Belum puas kau membuat Jungkook seperti orang gila yang setiap saat ingin bertemu denganmu dan malah terpaksa menikahiku, padahal sebelumnya dia yang bersikeras ingin kalian berpisah," balas Bella menggebu-gebu. Perasaannya terlalu campur aduk hingga ia tak bisa mengontrol emosinya dengan benar.
Hanna menghela nafas berat. Siapa yang menyakiti siapa, Hanna rasa perasaan itu abu-abu. Nyatanya, baik dirinya maupun Bella sama-sama terluka. Sama-sama berkorban, bahkan yang paling muak untuk diakui, mereka sama-sama terlalu mencintai Jungkook.
Hanna meraih vas bunga yang untungnya tidak pecah dan menata kembali pada meja rias. "Selamat," lirih Hanna.
Tubuh Bella membeku. Untuk kali pertama ia melihat tak ada kemarahan di netra Hanna untuknya. "A..pa maksudmu?"
"Selamat untuk pernikahanmu dan tolong cintai Jungkook sepenuh hatimu," sahut Hanna cepat.
"Jauhkan dia dari microwave, karena dia sangat takut dengan benda itu, kau tidak boleh membiarkannya terlalu lama di dapur karena dia memiliki kulit wajah yang sensitif," sambung Hanna dengan suara bergetar. Netranya berkaca-kaca, menatap Bella dengan tatapan memohon.
"Dan aku akan pergi. Aku mungkin mengikhlaskan Jungkook untukmu, tapi melihat kalian berdua, sepertinya aku belum bisa." Hanna mendekat dan memeluk Bella dengan lembut.
"Semoga kalian bahagia." Hanna akan melepas pelukannya tapi Bella menahannya dan kembali membalas pelukan Hanna.
"Maafkan aku," isak Bella. "Mungkin terlambat, tapi aku benar-benar minta maaf."
Hanna mengangguk di bahu Bella. "Ya, berbahagialah."
****
"Ku pikir kau tidak datang." Jungkook berucap ketika presensi Seokjin datang dari balik pintu.
Mereka keduanya berdiri di depan sebuah jendela besar yang memberi pemandangan kota di siang hari. Mobil-mobil di jalanan tampak kecil dan orang-orang yang berlalu lalang tak lebih besar dari semut. Hotel De Grace menyajikan pemandangan kota siang dan malam yang menakjubkan. Menjadi tempat yang pas untuk berlibur, mencari inspirasi, bahkan menikah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forgive Love
Roman d'amourPerselingkuhan selalu menjadi momok menakutkan hingga menjadi sebuah trauma. Delapan tahun pernikahan, Hanna harus rela jika Jungkook akan mengkhianatinya dan meminta cerai. Tetapi, bukan hanya dipusingkan tentang bagaimana ia bertahan dan tetap wa...
