21

40 2 0
                                        

Apartemen Hanna berbunyi, waktu bahkan baru menunjukkan jam tujuh pagi. Wanita berambut hitam berombak itu masih bergelung dalam selimutnya. Decakkan kesal terdengar, dengan mata yang masih setengah menutup Hanna keluar dan menuju pintu utama. Demi Tuhan, kalau hanya orang iseng dia akan memakai orang itu karena Hanna baru bisa tidur jam tiga pagi.

Satu hal yang pertama Hanna lihat adalah seorang pria berpakaian rapi, dengan tubuh kekar dan kepala botak. Dahi Hanna mengernyit, dia tidak ingat pernah mengenal pria di depannya. "Who are you?"

Pria botak itu membungkuk hormat khas orang Korea. "Saya pengawal Anda, Nona. Tuan Choi menugaskan saya di sini untuk menjaga Nona," ucapnya sopan.

Mata Hanna membulat, sungguh, ayahnya itu memang kadang kelewatan. Bagaimana bisa wanita berumur tiga puluh tahun seperti dirinya memiliki bodyguard, tidak masuk akal!

"Oh god!" ucap Hanna frustrasi. Momen seperti ini mengingatkannya kembali saat baru berkuliah di London dan belum bertemu dengan Jungkook. Bahkan saat itu lebih parah, dia memiliki tiga orang yang selalu ada menjaganya.

"Kau bisa masuk." Hanna membuka pintu apartemennya lebih lebar, karena pria di depannya memiliki tubuh tiga kali lebih besar dari dirinya.

"Tidak. Saya hanya akan berjaga di luar," pria itu menunjuk sebuah sofa di luar ruangan yang memang di sediakan oleh apartemen itu.

Hanna hanya mengangguk mengerti dan kembali menutup pintu. Protes dengan ayahnya pun percuma, dia hanya perlu membiasakan diri kembali dan mulai menjalani hidup seperti yang ia inginkan. Dalam hati, Hanna berharap Seokjin bisa cepat datang, karena jujur saja dia tidak tahu harus melakukan apa.

"Baiklah, hari ini hanya ku habiskan dengan belanja," gumam Hanna dengan senyum tipis. "I can do it!"

****

Tiga hari berlalu semenjak Hanna pergi. Hwang Yoongi yang menjadi asisten pribadi Seokjin bahkan belum sempat pulang ke rumahnya karena atasannya itu terus berada di kantor dan menyelesaikan semua pekerjaan yang seharusnya bisa ditunda. "Aku harus pulang, kucingku bisa mati," ucap Yoongi sedikit kesal ketika Seokjin kembali memerintah staff untuk kembali membawa berkas yang perlu ia tanda tangani.

Seokjin melirik dari balik kaca matanya, "Satu jam, siapapun suruh dia memberi makan kucing mu itu, aku harus segera pergi esok."

Yoongi hanya menghela nafas berat kemudian berlalu dari ruangan yang mulai muak ia datangi. Beruntung, tempatnya tidak terlalu jauh, dan Yoongi hanya perlu menyeberang jalan. "Dia benar-benar sudah gila," monolog Yoongi.

Entah sudah berapa gelas kopi yang menyambangi perutnya. Sesekali Seokjin meregangkan ototnya dan mulai mengangkat beban juga melakukan push up, kantornya menjadi rumah kedua sejak tiga hari yang lalu, beberapa pakaian berserakan di sofa, dan dia belum sempat memanggil para cleaning service untuk membersihkan semuanya.

Suara ketukan dari pintu ruangannya terdengar, Seokjin mengernyitkan dahi dan menatap jam tangannya. Ini bahkan belum satu jam sejak Yoongi meminta keluar, dan dia sudah meminta staff-nya untuk tak membiarkan siapapun untuk bertemu.

Ketukan yang kedua kali membuat daun pintu itu bergoyang. Menampilkan sosok pria tua bertongkat dan pria muda di belakangnya. Seokjin segera bangkit, ikut menyambut kedatangan pria tua itu dan menuntunnya menuju sofa di tengah ruangan.

"Kenapa Kakek tidak memberitahuku akan datang ke sini?" tanya Seokjin lembut.

"Itu karena ponselmu mati, dasar anak bodoh!"

Seokjin meringis, menatap pria muda di belakangnya yang menahan senyum. "Sepertinya aku lupa, ada apa Kek?"

"Pergilah, aku tahu kau bekerja seperti orang gila tiga hari ini hanya karena ingin pergi ke Paris. Perusahaan ini biar Namjoon yang ambil alih."

Sebuah senyum lebar tercetak jelas dari wajah Seokjin. Kepalanya yang mungkin sedang panas berasap mendadak mendapat siraman air dingin yang menyejukkan. "Kakek, apa kau benar-benar manusia? Ku pikir sepertinya Kakek adalah malaikat yang ditu-"

Kalimat Seokjin terhenti tiba-tiba ketika kakeknya langsung membungkam mulutnya dengan tangan. "Berisik, cepat pergi. Kau mengenaskan!"

Seokjin mengangguk meski dengan mulut yang masih terkatup rapat. Dia menyalami sang kakek dan memeluk Namjoon yang merupakan sepupunya itu. "Terimakasih, kau menyelamatkanku," bisik Seokjin.

"Kau bisa tenang. Jangan pikirkan perusahaan. Aku akan mengambil hati Kakek dengan kemampuanku."

Namjoon merupakan anak pertama dari Ahn JungWoo, anak kedua dari kakeknya. Dari awal, Namjoon memang memiliki ketertarikan di dunia bisnis seperti dirinya, hanya saja saat itu ia masih berkuliah dan mengejar pendidikannya. Dan tahun ini ia sudah kembali dari Inggris setelah menempuh pendidikan S3-nya. Pria itu semakin matang dengan pendidikannya dan tubuh atletis yang indah. Seokjin merasa lega karena Namjoon akan membantunya dalam memimpin perusahaan kakeknya itu.

"Dia pergi begitu saja dengan meninggalkan banyak sampah di sini, dasar cucu tidak tahu diri," omel pria tua itu ketika melihat kantor Seokjin yang tidak tertata rapi.

"Tenanglah Kek, aku akan membereskannya," ucap Namjoon yang mulai mengumpulkan beberapa pakaian Seokjin yang berserakan di sofa bahkan di tiang lampu.

****

"How your day?"

Hanna tersenyum mendengar kalimat itu dari pria yang sedang meneleponnya. "Tidak begitu buruk, selain pengawal Papa yang botak itu."

"Bagaimana apartemennya? Kau suka?"

"Ya, begitu luas dan bersih. Lengkap dengan dapur yang tak pernah ku sentuh saat datang," kekeh Hanna. Langkahnya berhenti dan menempati sebuah bangku yang berada di balkon, wanita itu mulai memosisikan diri dengan nyaman.

"Mathilda sering mengunjungimu?"

"Ya, kami bahkan membuat janji malam ini untuk jalan-jalan. Mathilda bilang, dia akan membawaku menuju pinggiran sungai yang indah. Aku sudah tidak sabar."

"Di sana ada banyak penyanyi jalanan yang memiliki suara bagus, aku pastikan kau akan terhibur."

Hanna memilin rambutnya. Pandangannya tertuju pada sebuah pot bunga krisan yang tergantung di pinggiran balkon. "Seokjin, kapan kau ... datang?"

Panggilan itu hening. Bukan karena sudah putus tapi karena Seokjin hanya diam. "Kalau kau bilang merindukanku, maka aku akan datang."

Hanna berdecak. "Kau menyebalkan!"

Seokjin terkekeh. Dia sudah bisa membayangkan bagaimana raut wajah Hanna yang terlihat kesat. "Nikmati saja dulu malam ini dengan Mathilda, aku akan mengabarimu ketika aku sudah di sana."

Hanna hanya berdehem tanda menyetujui dan panggilan itu berakhir. Tiba-tiba ia merasa memerlukan pria itu di saat seperti ini. Beberapa part dalam hidupnya yang sulit ia habiskan bersama Seokjin. Pria itu tahu cara membawa diri hingga membuat Hanna merasa nyaman.

Ponsel yang sekarang Hanna pegangi adalah ponsel baru. Ponsel lama sudah ia buang ketika Jungkook terus meneleponnya. Dan Seokjin menjadi orang pertama yang ia hubungi ketimbang orang tuanya. Meski begitu, Hanna masih kesusahan tidur.  Di Paris dia tidak bisa mendapatkan obat tidur sebebas di Korea.

Hanna menatap langit yang biru. Meski salju mulai turun, tapi saat siang cuaca masih sangat cerah. Tiba-tiba kenangannya bersama Jungkook kembali terputar dengan apik, membawa gelombang air mata yang mulai membasahi sudut matanya. "Paris, aku datang kembali, tapi tanpa dirinya," lirih Hanna.

Forgive LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang