22

30 2 0
                                        

Seokjin hampir lupa kapan punggungnya bersandar penuh dengan rasa nyaman. Beberapa hari yang lalu benar-benar menguras energinya. Kurang tidur, kurang makan, ditambah perjalanan jauh. Meski sudah memesan pesawat first class, nyatanya tubuh jangkung itu tetap merasa pegal.

Niat hati ingin menyambangi langsung apartemen yang dihuni Hanna, tapi rasa kantuk yang kelewat hebat membuatnya berhenti pada sebuah hotel bintang lima yang tak jauh dari bandara. Seokjin melirik arloji di tangannya, jam enam sore. Jika perkiraannya tepat, dia akan terbangun jam tujuh kemudian bersiap dan akan memberi kejutan pada Hanna yang kabarnya akan mendatangi sungai malam ini. Dinner romantis, jika memungkinkan.

Setelah membersihkan diri, Seokjin mulai menutup mata. Rasa kantuk luar biasa membuatnya segera terlelap. Mengabaikan fakta jika dia lupa membuat alarm peringatan atau bahkan menyuruh seorang staf hotel untuk membangunkannya. Mengingat Seokjin selalu bangun tepat waktu sesuai perkiraannya.

Sejam, dua jam, bahkan berlalu hingga lima jam, tubuh yang memiliki bahu lebar itu menggeliat pelan dengan erangan khas seseorang yang bangun tidur. Seokjin bangkit, merenggangkan otot tangan dan mengendurkan otot leher hingga terdengar bunyi retakan tulang. Ada senyum puas karena kualitas tidur yang baru saja ia dapatkan.

Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidur, hampir saja kehilangan kedua matanya ketika melihat jam di ponselnya. "Shit!" umpatnya kesal dan segera berlalu ke kamar mandi.

Waktu menunjukkan jam sebelas malam. Bagaimana bisa ia tertidur begitu lama, batin Seokjin. Guyuran air hangat menyentuh kepala, membuat dinding kamar mandi beruap hingga siluet Seokjin tampak lebih misterius di dalam sana. Gagal sudah rencana makan malamnya, ia tak begitu menyesal tentang reservasi restoran mahal yang tidak jadi ia datangi, tapi tertunda bertemu Hanna membuatnya kembali berdecak beberapa kali.

Keluar hanya menggunakan bathrobe abu-abu yang tersedia dari hotel, Seokjin menelepon wanita itu. Satu panggilan, dua, bahkan hingga ke sepuluh, Seokjin tidak bisa membuatnya tersambung dan mendengar suara bening dan cerah di ujung sana. Mendadak, pikirannya menjadi liar. Paris bagus, tapi bukan tempat yang sangat aman bagi turis. Terkadang, para pemabuk pinggir jalan membuat ngeri.

Menyambar kaos putih dan jeans hitam longgar, lengkap dengan mantel coklat dari kulit yang memiliki aksen bulu di kerahnya, Seokjin memakainya dengan terburu-buru. Sambil terus mencoba menghubungi Hanna yang sialnya belum tersambung, pria itu segera keluar dari hotel dan memakai fasilitas mobil yang ia dapatkan ketika menginap.

Dua puluh menit, tapi selama itu kakinya bergerak gelisah. Salju-salju mulai turun hingga membuat pengendara harus berhati-hati karena jalanan yang licin, Seokjin tahu betul ia tak mungkin meminta sopir untuk melaju lebih cepat, meski rasanya kepalanya memanas dan hampir meledak karena memikirkan hal yang tidak-tidak. Terlebih, Mathilda bilang Hanna pergi sendiri dan meninggalkannya.

Seokjin kembali menggigit ujung kuku jari tangannya, kemudian menggigit bibir bawahnya beberapa kali, menatap arloji dan kembali lagi menatap ponsel yang masih terus menghubungi Hanna. Sialan, ia tak suka cemas, dan ia lupa kapan pernah mencemaskan sesuatu dalam hidupnya sebelum bertemu Hanna.

Satu belokan lagi Seokjin akan sampai. Ia hafal jalannya, terlebih pada sebuah taman kecil di samping lampu lalu lintas, juga kedai bunga yang ternyata masih ada semenjak ia memilih meninggalkan Paris delapan tahun yang lalu. Memori itu datang, bertumpuk-tumpuk membuat Seokjin menghela nafas berat. Kalau saja bukan Hanna, dia bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kakinya di sini lagi.

Kaki panjang itu memasuki pelataran gedung dengan terburu-buru. Security di sana tersenyum lebar melihat Seokjin dari kejauhan, pria tua itu tak berubah, masih ramah seperti biasanya. Tapi, mungkin hanya rambut perutnya yang mengalami perubahan, membuat Seokjin terkikik geli dan menyapanya dengan basa-basi. Tak bisa lama-lama, Seokjin berjanji akan mentraktir security itu kopi lain kali.

Nomor 241, Seokjin menekan bel beberapa kali, tapi tak ada jawaban. Menelepon Mathilda yang sialnya sedang berada di pub dan sepertinya ia takkan pulang malam ini. Seokjin sudah menyerahkan password apartemen pada Hanna dan ketika ia memasukkan password yang lama, pintu itu tak terbuka. Tentu Hanna sudah menggantinya, siapa yang mau memakai password yang sebenarnya angka ulang tahun seseorang.

"Jin... kau kah itu?"

Seokjin berbalik dengan cepat. Hanna di sana, berdiri dengan sesekali menggeleng kepalanya seakan pandangannya kabur. Pria itu mendekat dengan tergesa, hidungnya mencium bau alkohol yang kuat. "Kau mabuk?"

Awalnya hanya tersenyum, kemudian Hanna tertawa kemudian memeluk Seokjin. "Aku tidak mabuk, baru saja aku pikir aku merindukanmu, dan ternyata kau datang," ucapnya dengan suara berat khas orang mabuk.

Tubuh Seokjin menegang. Ini sentuhan pertama yang Hanna lakukan untuknya, dia bukan lelaki kuno yang menjaga keperjakaannya. Perlu ia ingat, ia sudah pernah meniduri wanita, tapi tubuh hangat yang sekarang memeluknya lebih dulu, berhasil membuatnya layaknya remaja yang baru jatuh cinta. Sial, lututnya gemetar.

"Berapa sandinya? Kita harus masuk." Seokjin menjauhkan tubuh Hanna dengan mendorong bahunya dengan lembut.

"Ulang tahun Jungkook." Hanna tak tahu apa yang ada di pikirannya ketika memilih sandi itu, mungkin terbiasa dengan angka itu atau memang ia belum bisa melupakan mantan suaminya.

Seokjin mencoba mengatur perasaannya. "Berapa? Aku tidak tahu," jujur Seokjin.

Hanna lagi-lagi tertawa, tangan Seokjin yang merengkuh pinggangnya membuat kepalanya yang terasa berat jatuh pada bahu lelaki itu. Tangannya yang lemah meraih smart door lock, menekan angka 0901 dengan sedikit kesusahan.

Pintu terbuka, Seokjin memapah Hanna yang tubuhnya mulai memberat. Menekuk lututnya kemudian mendudukkan Hanna pada sofa putih yang sebelumnya tak ada. Seokjin yakin, Hanna mengganti beberapa perabot bahkan di hari pertama kedatangannya.

Melepas sepatu boots yang Hanna kenakan, Seokjin dengan telaten juga melepas mantel juga menaruh tas tangan Hanna dengan hati-hati. Turtle neck sewarna gading membelit tubuh Hanna dengan pas, aroma alkohol bercampur dengan aroma parfum seketika membuat Seokjin juga ikut merasa mabuk.

"Kenapa mabuk sendirian?" tanya Seokjin, meski ia tahu Hanna tak menjawab karena wanita itu sepertinya mulai tertidur. Pasti berat, batin Seokjin. Ia cukup mengerti patah hati itu benar-benar mengacaukan hidup seseorang.

Tangan Seokjin merapikan rambut Hanna yang tergerai karena gulungan rambut itu sudah terurai menutup wajahnya. Warna rambutnya berubah, sekarang menjadi coklat seperti daun mapel yang kering. Hanna mengejap beberapa kali, meski ia mabuk, tapi tubuhnya merespons kelewat sigap ketika seseorang menyentuhnya.

Netra coklat terang itu terlihat sayu, bibir penuh di hadapannya membuatnya tergoda. Bayang-bayang wajah Seokjin menjadi dua, ia menutup mata dan membukanya beberapa kali mencoba menghilangkan pening di kepalanya.

"Kenapa wajahmu ada dua?" tanya Hanna polos sambil mencoba mencolek pipi Seokjin dengan telunjuknya.

Suara kekehan terdengar, begitu berat khas seorang pria matang. Hanna menutup matanya, meresapi alunan tawa itu yang anehnya terdengar begitu merdu. "Aku hanya satu, kau sedang mabuk makanya mata-mmpphhh"

Seokjin bungkam. Bukan, lebih tetapnya di bungkam oleh benda kenyal yang terasa dingin. Matanya membulat, tangannya terkepal kuat, deru nafas hangat menggelitik pipinya. Sialan, ia bahkan bisa merasakan Hanna tersenyum di sela-sela bibirnya.

"Aku merindukanmu,"lirih Hanna.

Forgive LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang