Jungkook menatap hutan kota yang berada di belakang halaman rumah sakit dengan tatapan kosong. Sesekali matanya bergerak ketika melihat burung terbang dengan gerombolannya dan setelah burung itu tak terlihat, tatapannya kembali datar. Tidak ada cahaya di sana, binar matanya redup, bahunya merosot lemah. Siapa sangka, ia berakhir di rumah sakit jiwa.
Kakinya masih mati rasa, Jungkook bahkan tak sadar jika semut merah sudah menaiki kursi rodanya dan menggigiti kulit kakinya. Jungkook membiarkannya, tak berniat membersihkan semut itu dengan tangannya, baginya semuanya sudah tak dapat ia kendalikan. Hingga seseorang datang dan menyapu kaki tanpa alas kaki itu dengan gerakan cepat sebelum semut-semut semakin banyak yang datang.
Lagi-lagi, Jungkook tak bergeming. Kursi rodanya berbalik, membawa Jungkook berteduh pada sebuah pohon. Terik panas yang sebelumnya membakar kulit tergantikan dengan keteduhan yang membuat Jungkook secara tak sadar bernafas lega.
"Jangan terlalu sering mendatangiku di sini," ucap Jungkook pelan dan masih membuang muka tak ingin menatap orang yang diajaknya bicara.
"Aku akan selalu di sini, menemanimu. Kau tahu, kemarin aku ke dokter, kau pasti tidak menyangka apa yang dokter katakan."
Jungkook mulai tertarik. Mereka akhirnya saling menatap. "Apa yang dikatakannya?"
"Kau bisa kembali ke rumah sakit biasa, kemarin kau hanya dalam fase tidak terima tentang kenyataan. Tapi, dua hari di sini kau menunjukkan perubahan yang bagus. Aku pikir-"
"Kandunganmu ... bagaimana dengan anak ... kita?" potong Jungkook cepat dan sedikit ragu.
Bella mematung, matanya memanas seiring kalimat itu keluar dari bibir Jungkook. "Mereka baik-baik saja," ucap Bella sambil menghapus kasar aliran air mata di pipinya dan tersenyum lebar.
"Mereka?"
"Ya, mereka. Ada dua di sini." Bella mengelus lembut perutnya yang membuncit. Memang terlihat lebih besar dari pada kandungan orang lain pada umumnya.
Tangan Jungkook terulur dan meraba dengan lembut perut Bella, ada getar rindu yang tak mampu ia sembunyikan. Bagaimanapun, ia pernah begitu sangat memperjuangkan Bella dan mencampakkan Hanna. Tapi sayangnya, perasaan itu adalah hal yang tak abadi. Saat ini, ia hanya ingin melihat Hanna, jauh lebih rindu dari sebelumnya.
****
Pesawat mendarat dengan selamat. Semua orang mulai turun dengan perasaan lega, ada beberapa orang yang terlihat letih pun tak jauh sama dengan Hanna yang mendadak perutnya kembali mual. Beberapa kilas balik kehidupannya terputar apik saat ia sudah mendarat kembali ke Korea. Sejauh apapun melangkah pergi, rupanya ia tetap kembali.
Perasaannya begitu campur aduk. Rindu, iba, merasa bersalah, dan rasa penolakan yang kuat masing-masing merong-rong dalam pikirannya. Kembali ke Korea bukan saja menambah luka baru, tapi kembali menggores luka yang masih belum kering.
Tangannya tergenggam hangat oleh Seokjin. Pria itu tak banyak bicara, hanya membiarkan Hanna larut dalam pikirannya sendiri selama di perjalanan. Setelah pengakuan cinta mengejutkan, keduanya memutuskan kembali ke Korea demi Jungkook. Mantan suami Hanna yang sialnya tak bisa dilupakan begitu saja.
Suara derap langkah cepat terdengar di selasar rumah sakit. Beberapa kali Hanna menelan ludahnya susah payah. Apa yang akan ia katakan? Atau apa kata pertama yang akan ia ucapkan ketika bertemu mantan suaminya itu? Hanna merasa kosong, seolah bukan dirinya. Seolah tindakan yang ia ambil salah, dan sebaiknya ia tetap pergi guna melupakan Jungkook. Tapi kenyataannya dia di sini. Dunia memang begitu mengejutkan.
****
Seorang pria memakai kursi roda sedang menatap jendela di kamar inapnya. Tak bereaksi apapun ketika suara pintu terbuka yang menandakan seseorang sedang memasuki ruangannya. Jungkook hanya tak punya energi untuk melihat, setiap waktu yang ia jalani hanya berisi penyesalan dan penyesalan yang memenuhi rongga dada. Sesekali, ia melempar barang, mencoba mengurangi sesaknya, tapi suara pecah itu tak membuatnya lega sama sekali.
"Jungkook..."
Suara lembut itu mengalun merdu, menyabotase kebisuan Jungkook hingga pria itu menoleh begitu cepat. Jantungnya berdegup kencang, ia hidup. Ya, Jungkook pikir jantungnya tak bekerja sama sekali semenjak kepergian Hanna.
"Han, kaukah itu?"
Masih tak percaya. Jungkook bahkan tak ingin berkedip sedikit pun kalau-kalau wanita di hadapannya ini hanyalah halusinasinya. Demi Tuhan, bisakah halusinasi ini lebih lama, Jungkook bergegas memutar kursi roda dan mendorongnya dengan cepat hingga ia sudah berada tepat di depan Hanna.
Jungkook mendongak, matanya bergetar, menatap bergantian pada netra Hanna yang sewarna madu itu. Tangannya terulur ragu, meraih pipi Hanna mencoba memastikan jika wanita itu memang bisa ia rasakan kehadirannya dengan tangannya.
Hanna menangkup tangan Jungkook, menggenggamnya erat seolah memberi makna jika ia pun sama lemahnya. "Ini aku," ucap Hanna sambil terisak.
Seokjin bersandar pada dinding kamar rumah sakit. Pertemuan Hanna dan Jungkook sebaiknya tak boleh diganggu oleh dirinya atau siapapun. Meski rasanya hatinya mendadak takut karena Hanna dan Jungkook masih memiliki cinta yang sama besarnya. Tapi, Seokjin tak ingin membebani wanita itu dengan memilihnya. Ia tahu, Hanna masih terjebak di masa lalu, sama seperti dirinya.
****
"Kenapa aku minum susu pisang?"
"Karena kau sedang sakit."
"Dan kenapa kau dan dia minum soda? Berdua? Dengan merk yang sama?"
Hanna menghela napas. Kepalanya menggeleng beberapa kali melihat tingkah kekanak-kanakan Jungkook. "Karena Seokjin tidak sakit. Dia sehat, dia tidak sedang masa pengobatan, dia juga tidak sedang masa terapi, tidak ada pilihan merk lain di mesin pendingin. Masa hal seperti ini kau tak mengerti," ucap Hanna sedikit kesal.
Jungkook menatap Hanna dan Seokjin bergantian. Rasa kesalnya makin memuncak ketika Seokjin hanya diam saja dan tersenyum miring seolah mengejeknya. "Dan kau ..." Jungkook menunjuk Seokjin yang duduk dengan kaki bersilang. "Kenapa harus datang menjenguk? Aku hanya ingin bertemu Hanna."
"Tapi aku ingin bertemu denganmu," sahut Seokjin cepat. "Apalagi, Hanna masih jetlag dia sedikit pegal dan dia sering meminta aku memijatnya."
"Berhenti! Aku tidak mau mendengarnya." Jungkook meminum habis susu pisangnya kemudian berbalik membelakangi Seokjin dan Hanna.
"Jangan macam-macam di belakangku. Aku punya mata-mata dimanapun kalian berada," ucap Jungkook sekali lagi.
"Jadi, kau melihat kami malam itu?" goda Seokjin dan hanya ditanggapi Hanna dengan memutar bola matanya malas.
Hening cukup lama, Hanna pikir Jungkook sudah mulai tertidur, tapi pria itu berbalik dengan pelan. Menatap tepat di mata Hanna dan seketika atmosfer ruangan itu jadi berbeda.
"Jangan menolak perasaan Seokjin jika itu karena aku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Forgive Love
RomansaPerselingkuhan selalu menjadi momok menakutkan hingga menjadi sebuah trauma. Delapan tahun pernikahan, Hanna harus rela jika Jungkook akan mengkhianatinya dan meminta cerai. Tetapi, bukan hanya dipusingkan tentang bagaimana ia bertahan dan tetap wa...
