28

18 1 0
                                        

Memangnya Hanna bisa apa? Dari kecil, kalau diingat-ingat ia begitu bergantung pada saudaranya Min Yoona. Setelah kepergian sang kakak, hidupnya kembali bergantung pada suaminya. Hanna tak punya banyak pilihan selain hidup menjadi anak tunggal dari seorang mantan menteri pertahanan, kemudian memiliki depresi hingga membuat emosinya tidak stabil.

Hanna tumbuh dengan keegoisan dan kerapuhan sekaligus. Dan ketika ia seharusnya bisa menolak kehadiran Amanda di tempat tinggalnya, wanita itu hanya mengangguk dengan senyum tipis. "Ku pikir seperti itu lebih baik," sahut Hanna membuat Seokjin bernafas lega.

Amanda. Wanita yang membuat Hanna berpikir kembali tentang debarannya tentang Seokjin beberapa waktu lalu. Pria itu masih ada di masa lalu, dan Hanna tak punya keinginan untuk menarik tangan Seokjin dan membawanya ke masa sekarang. Hanna melirik Seokjin yang mulai melepaskan tali sepatu wanita itu, sangat luwes, seolah dia sudah sering melakukannya.

"Terus saja pakai sepatu dengan lilitan seperti ini," gerutu Seokjin yang mulai kesal karena lilitan sepatu Amanda mulai kusut.

Benar bukan. "Kau sangat mengenalnya rupanya."

Tangan Seokjin terhenti. Kepalanya memutar dengan cepat ke arah Hanna. Sialan! "Kami teman masa kuliah, Han. Bertahun-tahun, tentu aku tahu bagaimana kebiasaannya."

Amanda menangkap sesuatu yang berbeda dari percakapan dua orang di depannya. Hatinya mencelos sakit, bertahun-tahun ia memendam cintanya yang tak pernah usai pada pria Korea itu, tapi ia tak pernah melihat Seokjin begitu takut tentang keberadaan orang lain dan menjelaskannya dengan sungguh-sungguh.

"She's your girlfriend?"

****

Pagi datang, sinar lembut matahari mengusir titik-titik embun yang hingga di setiap kaca rumah orang-orang. Hanna memulai harinya dengan cepolan tinggi dan apron berwarna merah muda di pinggangnya. Seokjin yang juga sibuk dengan sebuah laptop di depannya menjadikan rumah itu terasa seperti rumah pengantin baru.

"Kami akan membawa Amanda pergi," ucap Martha asisten Amanda, ketika ia keluar dari pintu kamar yang Amanda tempati. Wanita dengan kacamata itu tampak sungkan kepada Seokjin dan Hanna yang menatapnya dengan bingung.

"Kau yakin?" Seokjin menutup laptopnya kemudian menatap sebentar pada pintu kamar di belakang Martha. "Tulang rusuknya patah. Dia tidak bisa bergerak."

Ya, setelah Gwen datang, dokter muda itu memberikan diagnosis jika ada retakan di tulang rusuk Amanda. Tanpa rontgen dan hanya menyentuh kulit luar, Gwen bisa langsung tahu apa yang terjadi di bawah kulit itu. Si genius sejak lahir, tidak heran dia bisa jadi dokter dengan mudah.

"Gwen akan menjemputnya dan merawatnya. Helikopternya akan segera datang," potong Martha cepat.

Kegilaan apa lagi pikir Hanna. Begitu banyak hal yang tak wajar tentang lingkaran pertemanan yang Seokjin miliki di sini. Apakah semua orang kaya memang begitu? Hanna juga kaya, dia tak pernah merasakan kesusahan, tapi ia juga tak pernah benar-benar menikmati kekayaan. Selain barang-barangnya yang mahal, gaun-gaunnya yang edisi terbatas, perhiasan yang bagus, Hanna tak pernah tahu jika ia masih berada jauh di levelnya Seokjin.

Seokjin tak banyak bicara, Hanna tahu ada hal yang ingin pria itu katakan tapi tak bisa ia ucapkan. Setelah mengantar Amanda dengan tandunya, Seokjin menatap helikopter itu dengan wajah datar.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Hanna setelah helikopter itu menjauh pergi dan hanya meninggalkan suara yang masih menggema di langit.

"Amanda berada di bawah kekuasaan mafia. Helikopter itu milik keluarga De Archi, dan Gwen pun sama."

"Apa itu buruk?"

Seokjin menoleh, menatap mata bulat Hanna yang terlihat begitu penasaran. "Apa yang kau pikirkan tentang Mafia? Apakah dia sosok yang baik hati menurutmu?"

Hanna menggeleng lemah. "Aku tak pernah benar-benar tahu definisi mafia sesungguhnya. Bukankah mafia itu adalah kata lain dari serakah?"

"Berarti aku bisa dibilang mafia, Han."

Hanna mengernyitkan dahi, menatap Seokjin yang terlihat begitu serius menanggapi ucapannya. "Setiap orang memang serakah, hanya kadarnya saja yang berbeda-beda," ucap Hanna terdengar canggung.

"Aku serakah karena ingin berlama-lama denganmu disini, aku serakah ingin memilikimu, aku serakah karena tak memberimu kesempatan bertemu orang baru, karena aku ingin aku lah orang baru yang kau kenal itu. Aku ... mencintaimu, Han. Mungkin terdengar tak masuk akal, tapi aku jatuh cinta padamu sejak kita bertemu di halte bus rumah sakit waktu itu."

Tubuh Hanna menegang. Mendadak ujung-ujung jarinya dingin dan terasa beku. Pengakuan cinta yang tiba-tiba membuat Hanna merasa tak berpijak di tanah. "Bukankah, terlalu cepat?" tanya Hanna pelan.

"Tidak. Ini waktu yang tepat. Tapi, ada satu hal lagi yang harus kau tahu, Han," potong Seokjin cepat.

Seokjin meraih ponselnya, mencari sesuatu di sana kemudian menyerahkannya pada Hanna. "Berikan jawabanmu setelah kita pulang ke Korea."

Hanna menerima ponsel Seokjin, foto Jungkook sedang terbaring di ranjang rumah sakit dan dengan semua peralatan medis di tubuhnya membuat kaki Hanna terasa lemas dan akhirnya terduduk di lantai. Air matanya luruh, tangannya gemetar dan hampir saja ia menjatuhkan ponsel itu saat Soekjin juga ikut berlutut dan membawa Hanna dalam dekapannya.

"Jungkook koma setelah meninggalkan pernikahannya dan ingin menyusulmu ke bandara. Kedua kakinya patah, tapi hari ini ia bangun dari koma dan terus mencarimu seperti orang gila."

Seokjin meraih pundak Hanna dan membuat mereka saling bertatapan. "Pulang lah ke Korea dan temui Jungkook."

****

Forgive LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang