23

34 2 0
                                        

"Han ... kau sadar apa yang kau lakukan?"

Hanna yang sedang diombang ambing oleh alkohol itu beringsut menaiki pangkuan Seokjin. Kedua tangannya mengalung indah di leher pria itu, Seokjin bersumpah, ia mulai takut pada dirinya sendiri.

Sebuah kecupan kembali mendarat di pipi Seokjin, pria itu bahkan menahan nafasnya ketika Hanna kembali menghujaninya dengan kecupan-kecupan kecil yang menggelitik perutnya. Hanna akan kembali memagut bibir itu, tapi Seokjin segera memalingkan wajahnya hingga kecupan itu mendarat di lehernya.

Sial! Kalau begini terus aku bisa gila.

"Han, sadarlah. Kau akan membenciku setelah ini," ucap Seokjin frustrasi dan mengguncang bahu kecil itu sedikit keras.

"Jin..." ucap Hanna dengan mata sayu yang berhasil membuat pria itu kehilangan akal sehatnya.

Tergesa-gesa Seokjin melepas mantelnya, meraup bibir itu dan menahan tengkuk Hanna hingga ciuman itu semakin dalam. Persetan dengan besok pagi, persetan dengan semua norma, wanita di depannya memanggil namanya, seolah meminta lebih, dan Seokjin bukanlah orang suci.

Hanna memukul dada Seokjin beberapa kali sebagai tanda ia perlu oksigen, pria itu mengabulkan. Ciuman itu terputus dengan dahi keduanya yang masih menyatu. Satu detik, nafas mereka masih tak beraturan, detik berikutnya masih tak banyak perubahan, hingga detik ke lima, Hanna menjatuhkan kepalanya di bahu lebar itu.

Suara dengkuran halus terdengar. Hanna tertidur, bahkan dengan posisi yang masih ada di pangkuan Seokjin. Pria itu terkekeh, dalam hati ia mengucap syukur karena malam ini hanya sebatas ciuman, kalau saja Hanna masih terjaga dan mempertahankan tatapan sayu itu, Seokjin tak tahu bagaimana ia bisa menahan dirinya.

****

Tidur Hanna terusik, cahaya matahari yang kelewat terik bersinar tepat di wajahnya. Dahinya berkerut sebelum akhirnya membuka matanya yang terasa berat. Kaki jenjang itu menendang selimut sambil meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, denyutan di kepala terasa sakit ketika ia mencoba untuk bangun.

Hanna bangkit, memasang sandal rumahan berbulu kemudian menuju dapur. Tenggorokannya terasa kering, walau lantai terasa bergoyang, Hanna tetap melangkah sambil meringis menahan sakit kepalanya.
Ingatan tentang dirinya yang mendatangi sebuah bar terputar putus-putus dan acak di otaknya.

Mabuk memang bukan agendanya malam itu, tapi seakan larut dalam kehidupan yang kalau diingat-ingat begitu pelik, Hanna memilih membelokkan kakinya memasuki sebuah bar, meski Paul-pria botak yang ditugaskan sang ayah, akan melaporkan apa saja yang ia lakukan. Malam itu, ia tidak ingin minum sampai mabuk, berniat hanya menghangatkan diri karena Hanna sadar ia bukan peminum yang baik.

Semuanya berjalan lancar, sambil menikmati live music yang disediakan bar itu, Hanna tiba-tiba masuk ke dalam lubang yang jauh dan gelap ketika lagu favorit Jungkook terputar dengan apik. Sialan! Hanna belum bisa mengatasinya. Wanita itu tanpa sadar mengisi terus menerus cangkirnya hingga kesadarannya sudah hampir hilang kalau saja Paul tak menahan tangannya untuk menuang lagi.

"Nona sudah mabuk. Mari saya antar pulang," ucap Paul malam itu, meski Hanna mendengarnya seperti cicitan tikus yang tak menyenangkan.

Hanna ikut pulang, tapi ia meminta Paul untuk tak boleh mengikutinya hingga masuk apartemen, rasa muak karena sudah diawasi ia tumpahkan pada Paul malam itu, hingga Paul hanya diam dan memastikan sang Nona memasuki lift dan memilih lantai yang benar.

Tapi, demi Tuhan, Hanna sepertinya lebih baik kembali ke bar itu dan tak pernah pulang ke apartemennya sama sekali. Karena di hadapannya saat ini, seorang pria bertelanjang dada sedang membelakanginya dan sepertinya sedang memasak sesuatu.

Langkah Hanna yang berat dan terseok-seok membuat Seokjin langsung tahu kalau wanita itu sudah bangun. Senyum tercipta di bibirnya, sambil terus mengaduk sup yang akan meredakan mabuk, ia sengaja tak segera berbalik karena jujur saja, ia merindukan namanya dipanggil oleh bibir itu.

"Jin!?!"

Yes

Seokjin berbalik, memberi senyuman dengan bibir penuh menggoda yang sialnya Hanna langsung mengingat semua kejadian malam tadi yang memalukan ketika melihat bibir itu. "Se.sedang apa?" tanya Hanna gugup.

Pria itu mengambil kaos putih yang tersampir di bangku pantry, memasangnya dengan cepat kemudian mempersilahkan Hanna duduk dengan membuka kursi itu. "Aku memasak sup, bagus untuk meredakan pengar karena mabuk."

Hanna mendekat dengan malu-malu, sial! Siapa saja tolong kubur ia dalam-dalam.

"Maaf, aku...aku terlalu mabuk hingga... tak bisa berpikir dengan benar," cicit Hanna.

"Aku pikir kau akan melupakannya." Seokjin menaruh satu sup hangat beserta sebuah minuman pereda mabuk di samping mangkuk putih itu.

Hanna mengangkat wajahnya, tatapannya langsung tertuju pada bibir itu lalu dengan cepat ia membuang muka. Gara-gara ingatan itu, ia jadi tak bisa menatap dengan benar. Padahal sebelumnya, Hanna hanya menatap mata lawan bicaranya.

"Aku mungkin mabuk, tapi aku bisa mengingatnya. Lain kali, kau bisa mengikat ku agar tak terjadi hal yang tidak-tidak."

"Bagaimana jika aku menyukainya?"

****

Hanna menjadi begitu pendiam dan selalu menundukkan wajahnya bahkan ketika Seokjin membawanya menuju cafe milik temannya. Pria itu berbicara bahasa Spanyol dengan lancar, Hanna diam-diam merasa kagum, terlebih dengan penampilan Seokjin yang terlihat sangat berbeda saat di Korea. Di sana, pria itu cenderung memakai pakaian formal dan rapi, tapi saat ini, Hanna akan bersaksi jika pakaian casual sangat cocok bagi pria jangkung tersebut.

"Ini Williams, temanku semasa kuliah," ucap Seokjin memperkenalkan pada Hanna.

"Nice to meet you, William."

William yang berambut merah dengan bulu-bulu halus tumbuh di sekitar dagunya itu tersenyum ramah. "Well, are you guys dating?"

Seokjin tertawa, kemudian menepuk bahu William beberapa kali. "Date prisa y sirve comida, tengo hambre." (cepat sajikan makanan, aku lapar)

William mengerti jika saat itu temannya hanya sedang dekat dan belum berkencan. Seokjin memang seperti itu, tidak mau gegabah dalam memutuskan berpacaran, seperti saat ia dekat dengan Amanda dulu.

"Te arrepentirás dos veces si no eres honesto con él."
(Kau akan menyesal dua kali jika tidak jujur padanya)

Sialan! Williams itu dukun atau apa? batin Seokjin. Kenapa dia bisa tahu jika wanita di sebelah Seokjin adalah wanita incarannya. Dengan hanya mengangguk-angguk tanda mengerti Seokjin langsung mendorong tubuh Williams agar tak terlalu lama berbasa basi dengannya.

"Apa yang dia katakan?"tanya Hanna dengan wajah bingung.

"Hanya ucapan selamat tinggal karena akan membuatkan makan siang untuk kita," sahut Seokjin ringan.

Hanna mengedarkan pandangannya pada dinding kayu restoran yang terlihat mengkilat. Beberapa foto orang-orang yang pernah datang makan di tempat ini tertata rapi. Foto Williams yang sedang memakai toga menjadi yang paling besar dari yang lainnya. Hingga ada satu foto yang membuat Hanna harus menyipitkan matanya.

"Itu fotomu dengan siapa?" tunjuk Hanna setelah ia menyenggol siku Seokjin di sebelahnya.

Seokjin mengikuti arah telunjuk Hanna dan menemukan sebuah foto yang menampilkan dirinya sedang menggendong seorang wanita gaya bridal dengan latar belakang sebuah kampus dan teman-temannya yang tertawa di samping Seokjin.

Williams gila! Kenapa dia masih memajang foto itu!

Forgive LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang