15

49 5 2
                                        

Hanna mengeratkan coatnya ketika ia sudah keluar dari rumah. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat Jungkook yang awalnya duduk di tanah dan bersandar di mobilnya segera bangkit. Kedua tangannya dengan cepat menyapu celananya yang kotor. Hati Hanna mencelos sakit, ia tak pernah melihat Jungkook sekacau ini.

Jungkook merasa jantungnya berdetak semakin cepat, Hanna berjalan ke arahnya, semakin dekat dan rasanya kakinya mulai lemas. Perasaan rindu yang entah bagaimana datangnya menggulung bak angin topan yang menghancurkan pertahanannya. Sungguh, setelah delapan tahun berumah tangga, baru hari ini Jungkook merasa ia begitu merindukan Hanna.

"Kau jelek."

Satu kalimat yang membuat mata Jungkook memanas. Bulir air mata tak bisa ia bendung, menganak sungai di pipinya hingga jatuh ke dagunya. "Aku tahu, maafkan aku," ucap Jungkook tergugu. Pandangannya menunduk, perasaan malu lebih mendominasi. Jungkook malu, dengan semua masalah dan penderitaan yang ia berikan, Hanna masih mengizinkannya menangkup kedua tangan kecil itu.

"Kau tahu, aku membencimu," ucap Hanna serak. Tenggorokannya terasa kering. Bohong, jika ia tak merindukan Jungkook. Pria yang selalu menduduki tahta tertinggi di hatinya. Tiap malam, Hanna hanya mencoba tidur, karena ia tak pernah benar-benar tidur. Jika Jungkook kacau, maka ia hancur.

"Aku tahu, maafkan aku." Seolah hanya kalimat itu yang bisa diucapkan oleh Jungkook.

Hanna menarik tangannya. Kepalanya menggeleng dengan cepat. Mata mereka bertemu, meski dengan lelehan air mata yang tak pernah berhenti keluar. "Seperti tujuan awal, mari akhiri hubungan kita."

Kali ini, Jungkook yang merasa tak terima. Entah kenapa, rasanya lebih menyakitkan ketika Hanna yang mengucapkannya. Padahal beberapa hari yang lalu, Jungkook begitu percaya diri ingin menikahi Bella bahkan berani membawanya ke rumah besar.

"Aku akan meninggalkan Bella. Aku berjanji," sergah Jungkook ketika Hanna mulai mundur dan berbalik badan.

Kalimat itu berhasil membuat langkah Hanna berhenti. Kedua tangannya mengepal dengan erat. Tawaran yang Jungkook ucapkan begitu menggiurkan. Keluarga utuh yang kembali bahagia terdengar bagus, setiap hari ia tidak akan kesusahan tidur, dan calon anaknya tidak akan kehilangan sosok ayah. Sempurna.

****

"Karena kondisimu, aku tidak bisa meresepkan obat tidur. Cobalah beberapa terapi agar insomniamu berkurang. Aku harap di pertemuan berikutnya kantung matamu sudah hilang."

Dokter Shin Ji Woo sedikit menghela nafas berat ketika mendapat Hanna hanya melamun dan tak meresponnya. Tangannya menangkup tangan Hanna dan mengguncangnya dengan pelan. "Kau dengar aku?"

Hanna hanya mengangguk lemah. Pandangannya beralih menatap ke arah luar jendela yang memperlihatkan langit biru yang cerah. "Apa bisa?"

Ji Woo mengikuti arah pandang Hanna. Wanita itu sudah mengenal Hanna sejak kecil, ibunya merupakan dokter pribadi keluarga Hanna, dan sekarang ia pun mengikuti jejak sang ibu, tapi memilih mengabdi di rumah sakit pemerintahan. "Kadang, kita tak perlu menanyakan apakah kita bisa atau tidak. Cukup jalani saja dengan tujuan kalau setiap hari yang kau lewati waktu akan terus berlalu. Kalau kau tak ingin menyelesaikannya, maka biarkan saja. Tak semua masalah ada jalan keluarnya."

Kalimat itu tidak berpengaruh banyak, tapi berhasil menyentil hati kecil Hanna. Kenapa ia harus bersusah payah memikirkan semuanya. Anak ini, apapun keadaannya akan lahir dengan seorang ibu yang begitu mencintainya, yang sudah menunggu kehadirannya selama bertahun-tahun. Tak perlu ada yang dikhawatirkan, jika Jungkook tak bisa ia miliki, maka ia masih punya diri sendiri untuk selalu kuat.

Hanna keluar dari ruangan Ji Woo. Kakinya melangkah pelan menuju parkiran rumah sakit. Entah bagaimana bisa ia menelepon Seokjin dan meminta untuk dijemput. Pria itu sedikit demi sedikit membuat Hanna semakin bergantung padanya. Selangkah lagi, Hanna akan keluar dari pintu, tapi seseorang menghentikannya. Sebuah tangan kecil menahan lengan Hanna, seorang wanita yang tak pernah ia inginkan untuk bertemu.

****

"Wah, kau bahkan melipat kedua tanganmu di atas dada. Apa kau mulai merasa tidak aman?"

Hanna menatap tajam wanita di depannya. Posisi perlindungan diri adalah refleks, sebelumnya ia ingat betul wanita ini mengirimkan video yang begitu menjijikkan padanya. "Apa maumu, Bella?"

Decihan terdengar ketika Hanna mengucap namanya. Bella ingin tertawa, atau mungkin lebih tepatnya ingin mengamuk dan juga ingin menyobek pipi Hanna yang sialnya begitu angkuh di hadapannya. "Sampai kapan kau akan menyembunyikan Jungkook dariku?"

Kali ini, suara tertawa yang begitu angkuh terdengar dari Hanna. "Kau menanyakan itu pada istrinya? Apa kau sudah kehilangan akal?"

Bella mengeluarkan ponselnya, mendengarkan sebuah percakapan yang sempat ia rekam saat bersama Jungkook.

"Pergilah! Cari Hanna, dan tuntaskan masalahmu. Seperti katamu, aku akan disini untukmu dan akan selalu mengerti keadaan apapun yang kau alami. Hanya saja, janjikan padaku bahwa kau akan tetap kembali padaku."

"Aku berjanji."

Hanna merasa lututnya lemas. Itu suara Jungkook, ia tak mungkin tak bisa mengenalinya.

Jadi, selama ini dia mendatangiku hanya demi anaknya, dan akan tetap kembali pada Bella?

Fakta yang baru ia terima seolah bongkahan dinding besar yang ambruk dan menghantam tubuhnya. Kesadarannya seolah direnggut paksa, Hanna tergulung pada lubang hitam yang menghisap jiwanya sedikit demi sedikit, hingga akhirnya ia tersadar, apa yang Jungkook katakan hanyalah omong kosong.

"Jadi, nikmati saja waktumu yang tersisa. Jungkook tak pernah mengingkari janjinya. Kau pasti tahu itu!"

Bella beranjak pergi. Langkahnya terasa ringan dengan senyum tipis tercetak jelas di wajahnya. Berbanding terbalik dengan Hanna yang masih mematung dan menatap lantai dengan kosong. Tiba-tiba rasa percaya dirinya hilang, Hanna mulai terduduk dan memeluk tubuhnya. Meski tak ada air mata, tapi perilakunya mengatakan jika ia begitu terpukul.

"Aku bahkan tak sanggup menangis."

Cukup lama Hanna di sana, di ruangan tunggu rumah sakit yang dikhususkan untuk pasien VIP hingga sebuah jas tersampir pada bahunya.

"Ayo pulang."

Hanna mendongak, suara pria yang sudah mulai memasuki hidupnya terlalu jauh. "Maaf, karena sudah membuatmu menunggu, Seokjin."

"Aku siap menunggu."

Kalimat itu, memiliki arti dalam banyak hal. Dan Hanna tak cukup bodoh untuk mengartikannya. Pria itu berhasil membuat Hanna percaya jika ia layak untuk diperjuangkan, meski ia sudah dihancurkan berkali-kali oleh kenyataan.

"Apa orang bodoh itu sudah pergi?"

Itu Jungkook. Seokjin tahu siapa yang Hanna maksud. "Dia akan pergi kalau kau menginginkannya," sahut Seokjin mantap.

"Aku bahkan tak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan. Sepertinya ... sebentar lagi aku akan kehilangan diriku."

Forgive LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang