"Terimakasih, semoga masakanku tidak mengecewakan kalian."
"Tentu. Mungkin restoranmu akan menjadi tempat favoritku. Omong-omong, pastamu sangat enak,Will."
William terkekeh. "Itu resep turun temurun keluargaku. Aku senang kau menyukainya, Nona Choi Hanna."
"Hanna saja. Aku senang jika kau memanggilku begitu."
"Well. Aku akan mengadakan pesta kedatangan untuk teman lama ku Seokjin." William mengapit leher Seokjin dengan gemas. "Aku harap kau juga datang malam ini."
"Akan aku pikirkan," ucap Hanna dengan senyum yang sejak tadi selalu diperhatikan oleh Seokjin.
Mereka keluar dari restoran William. Sesuai janji Seokjin, pria itu membawa Hanna pada satu tempat rahasia yang tak banyak turis tahu. Berjalan kaki sekitar 450 meter, Seokjin mengajak Hanna menaiki sebuah jalan tanjakan yang terlihat sepi. "Sebentar lagi sampai," ucap Seokjin menenangkan. Pria itu tahu, Hanna sedang merasa takut kalau-kalau mereka tersesat.
"Kau yakin? Aku sudah lelah berjalan." Hanna berhenti dan memegang kedua lututnya. Beruntung dia memakai sepatu boots berbulu tanpa hak. Kalau tidak, entahlah, Hanna yakin ia tak akan sanggup lagi berdiri setelahnya.
Seokjin yang lebih dulu beberapa langkah dari Hanna, mundur kemudian berlutut dan memberi isyarat pada Hanna untuk menaiki punggungnya. "Jalanan licin karena sisa salju semalam yang sepertinya belum dibersihkan di area sini."
Hanna ragu, menaiki punggung laki-laki di depanmya mengingatkannya kembali pada sosok Jungkook saat mereka masih berkuliah di London. Menggeleng kepala cepat, Hanna mencoba membuyarkan ingatannya tentang mantan suaminya itu. Tidak! Dia akan mengganti setiap kenangan itu dengan orang lain, mungkin seperti saat ini.
"Aku berat."
"Kau meragukan kekuatanku?" Seokjin berbalik dengan satu alis yang naik.
Pria itu memutuskan berdiri, menghadap penuh pada Hanna yang menatapnya malu. "Aku bahkan bisa mengangkat mu dengan satu tangan."
Hanna yang semula menunduk pun mengangkat wajahnya. Obsidian hitam yang saat ini menatapnya sedikit berbeda dengan beberapa saat yang lalu. Hanna kesusahan meneguk ludahnya. "Seperti pada foto yang terpajang di restoran William?"
Sial!
"Di sana, aku memakai dua tangan. Saat itu aku masih sangat kurus," ucap Seokjin menjelaskan. Meski terdengar ragu saat mengucapkannya.
"Kau tidak ingin cerita siapa dia?"
****
"Dia kembali!"
Amanda tersentak. Dua orang wanita yang berada di sampingnya melonjak terkejut dan sisir yang mereka pegang jatuh ke lantai.
"Kau bercanda, Martha?"
Perempuan yang disebut Martha itu menggeleng dengan cepat. "William memberitahuku, dia makan di restorannya tadi siang." Martha menyerahkan ponselnya yang sudah terpampang foto Seokjin dengan William yang sedang berselfie.
Mata Amanda memanas. Pria Asia itu masih sama, bahkan tak terlihat menua sama sekali. Senyum tipis dengan bibir penuh itu pun tak berbeda pada setiap foto yang sering mereka lakukan di masa lalu. Amanda menitikkan air matanya, delapan tahun, selama itu ia hanya bisa merindukan sosok Seokjin yang ternyata begitu sulit untuk ditemui.
"Atur penerbanganku setelah pemotretan ini."
Martha lagi-lagi menggeleng dengan cepat. "Tuan Volta akan marah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Forgive Love
RomancePerselingkuhan selalu menjadi momok menakutkan hingga menjadi sebuah trauma. Delapan tahun pernikahan, Hanna harus rela jika Jungkook akan mengkhianatinya dan meminta cerai. Tetapi, bukan hanya dipusingkan tentang bagaimana ia bertahan dan tetap wa...
