Kamar yang gelap, bunyi rantai yang berderak, suara besi yang pengang, teriakan demi teriakan yang memilukan menjadi suasana setiap hari yang ada di ruangan bawah tanah milik Volta De Archi. Pria muda yang terkenal dengan kekejamannya karena menggantikan sang Ayah yang sudah tewas karena perebutan kekuasaan di Hungaria. Mafia? Rasanya kata itu terlalu baik sebagai sebutan lain dari dirinya, mungkin lebih tepatnya iblis yang diturunkan ke dunia.
"Jadi, kau sudah membuat keputusan rupanya." Volta menendang sepasang kaki yang terantai.
"Aku akan menuruti kemauanmu. Tapi, jangan sakiti adikku."
Volta tertawa. Nyaris seperti malaikat maut yang sudah siap mengambil nyawa. "Amanda akan selalu aman bersamaku. Jika kepalamu jadi taruhannya."
Ellen Rawless, pria jenius yang menjadi tentara Spanyol kini tergeletak lemah. Sebelum kematian atasannya yang mengerikan, pria itu dipercaya menyimpan satu rahasia negara dan rahasia itu begitu membahayakan banyak orang. Dan Volta menginginkan rahasia itu.
"Bersihkan dia!"
****
Hari berlalu begitu cepat. Hanna sudah siap dengan riasannya ketika Seokjin mengetuk pintu kamarnya malam itu. Dress hitam berkilau dengan satu lengan terbuka dan panjang dress setengah paha. Cukup sopan meski masih terlihat seksi saat di club malam. Sedang Seokjin hanya memakai kemeja hitam kain beludru yang terlihat bersinar ketika diterpa cahaya lampu dengan dua kancing terbuka, celana bahan berwarna coklat dan sebuah kalung bulgari yang pas di lipatan lehernya.
"Cantik," puji Seokjin. Pria itu mendekat dan melepas ikatan rambut yang dipakai Hanna. "Begini lebih baik."
Hanna merasa jantungnya berdetak cepat seiring ikat rambut yang meluncur lambat hingga ujung rambutnya. Sial! Hanna mulai merasa tidak aman dengan dirinya sendiri. Ini terlalu cepat untuk dibilang jatuh cinta, tapi perlakuan Seokjin mampu menggetarkan hatinya.
Mereka sampai pada club malam, plang nama dengan cahaya biru terlihat menyala bertulisan Paradise. Benarkah ini surga? Hanna hanya tak percaya mereka menamainya seperti itu. Memangnya, senikmat apa? Bukankah besoknya mereka akan sakit kepala karena terlalu mabuk, ditambah ada kemungkinan penyakit kelamin yang mematikan. Sungguh, ini bukan surga.
Seokjin menyapa seorang bartender, pria itu kemudian mengikuti arah telunjuk bartender itu kemudian mengucapkan terimakasih. Hanna pikir Seokjin sedang menanyakan sebuah meja yang dipesan Carlile, ternyata bukan meja, melainkan lantai.
Pria Rusia itu memesan satu lantai VIP untuk menjamu teman-temannya. Tidak banyak, hanya sekitar tujuh atau delapan orang yang masing-masing membawa pasangan. Hanya Carlile yang tampak sendiri, meski begitu ia tetap ceria dan menyapa semua orang.
"Nikmati saja, malam ini William tidak akan menyabotase minumanmu," ucap Carlile tertawa dan mengejek William yang hanya menggaruk tengkuknya ketika Seokjin menatapnya tajam.
Seokjin dan Hanna mulai menikmati pestanya. Walau hanya memesan limun, tapi Hanna tak merasa iri sekalipun ketika Seokjin menyesap merlot, minuman keras dengan kadar alkohol tinggi. Paling tidak, salah satu dari keduanya harus tetap sadar untuk berkendara ketika pulang.
Semua tampak baik-baik saja, Carlile yang memang memiliki sifat social butterfly membuat pestanya lebih terasa intim karena pria itu tidak melupakan tamu-tamunya. Dia terlihat senang menyambangi setiap meja yang diduduki teman-temannya, hingga sebuah keributan di lantai bawah membuat mereka serempak mendekat ke pagar pembatas.
Seorang perempuan tampak tersungkur di lantai, Hanna sedikit ngeri ketika mulutnya meneteskan darah, perkiraannya mungkin ia sedang di tampar oleh wanita lainnya, karena perkelahian semacam itu memang sering terjadi di sebuah club. Tapi, matanya membulat dengan lebar tatkala seorang pria bertubuh kekar mendekat dan menendang tubuh kecil itu dengan kuat.
Semua orang tak ada yang berani mendekat, tapi laki-laki yang ada di sebelah Hanna berlari sekuat tenaga menghampiri perempuan itu. Menuruni tangga dengan cepat kemudian menendang pria kekar itu, menaiki tubuhnya dan meninju wajahnya secara brutal. Hanna dan Carlile ikut turun, mencoba melerai perkelahian yang tak ada perlawanan tersebut.
"Jin, berhenti!"
Hanna memeluk pinggang Seokjin dengan kuat. Tubuhnya gemetar dengan kaki yang mulai lemas. Ia tak pernah melihat Seokjin semarah ini, apalagi berkelahi. Beruntung, Seokjin dapat mengendalikan dirinya dan berhenti ketika Hanna memeluknya.
"Carlile! Urus bajingan ini!"
Dari dulu, Carlile memang sering diandalkan untuk hal-hal seperti ini. Pria itu berteman dengan beberapa orang mafia dan sesekali melakukan kerjasama. Tentu, untuk perkelahian seperti ini Carlile akan memanfaatkan teman mafianya agar mereka lolos dari hukum polisi.
Seokjin melepas pelukan Hanna, mengusap lembut rambut wanita itu, "Maafkan aku membuatmu takut," ucap Seokjin yang hanya dibalas gelengan oleh Hanna.
Hanna ingin bertanya ada apa, apa yang membuat Seokjin begitu marah dan ikut campur, tapi pria itu segera berbalik dan mendekat ke arah perempuan yang masih terbatuk di lantai itu kemudian menggendongnya dengan ringan. "Han, bisa minta tolong?"
****
"Kita ke rumah sakit."
"Tidak, jangan ke sana, aku tidak mau ada pemberitaan esok hari di media."
"Tapi, kau sekarat."
"Bawa aku ke apartemen saja, kau bisa memanggil Gwen untuk mengobatiku."
"Kau keras kepala."
"Kejadian malam ini tidak boleh terendus media, atau karirku bisa tamat."
Hanna mengeratkan pegangannya pada setir kemudi. Percakapan antara Seokjin dan perempuan itu membuatnya bingung dan perasaan aneh lainnya. Hanna merasa ia pernah melihat perempuan itu, tapi sayangnya Hanna lupa di mana. "Jadi, kita ke mana?" tanya Hanna menginterupsi percakapan mereka.
"Kita pulang," ucap Seokjin dengan helaan nafas yang berat.
Hanna mengikuti. Perjalanan mereka terasa cepat karena sekarang Hanna sudah berbelok ke area gedung dan memarkirkan mobilnya. Seokjin mengeluarkan perempuan itu dengan hati-hati. Pria itu berniat menggendong ala bridal tapi ditolak karena merasa bisa berjalan meski dengan tertatih.
Sesampainya di apartemen, Hanna membawa tamunya itu menuju ruang tamu. Seokjin merebahkan perempuan itu dan mulai menelepon. Hanna yakin ia pasti menelepon dokter untuk memeriksa seseorang yang sekarang ia ingat pernah melihatnya di mana.
"Maaf, merepotkanmu."
Hanna menggeleng. Setelah mengambil kotak P3K miliknya dan mulai membersihkan sisa darah di ujung bibir perempuan itu, Hanna mulai tersenyum. "Kau bisa pakai tempat ini untuk penyembuhanmu," ucapnya ramah.
"Gwen akan datang, dan mungkin Martha juga," ucap Seokjin cepat. Tapi, wajah penuh kebingungan itu membuat Hanna merasa terganggu.
"Kenapa dengan wajahmu? Kau sedang bingung?"
Seokjin menatap Hanna dalam-dalam. Pikirannya dilema. Tempat ini memang miliknya, tapi Hanna menyewanya, otomatis ia tak punya wewenang apapun di sini. Pria itu harus meminta izin dari Hanna jika ingin memasukkan seseorang. Tapi masalahnya, perempuan yang ia bawa saat ini begitu rumit. Seokjin takut, tapi hatinya juga merasa iba dan tidak mungkin membiarkan perempuan itu seorang diri di luar sana.
"Apa kau tidak keberatan untuk menampung Amanda sementara waktu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Forgive Love
RomantikPerselingkuhan selalu menjadi momok menakutkan hingga menjadi sebuah trauma. Delapan tahun pernikahan, Hanna harus rela jika Jungkook akan mengkhianatinya dan meminta cerai. Tetapi, bukan hanya dipusingkan tentang bagaimana ia bertahan dan tetap wa...
