25

26 1 0
                                        

Bella merasa ia tak pernah segugup sekarang. Keringat dingin membasahi pelipisnya, ujung-ujung jarinya dingin dengan kaki yang bergerak tak beraturan. Senjata yang tergantung apik di dinding lumayan cukup menciutkan nyalinya. Meski begitu, tekadnya sudah kuat.

"Kau sangat berani menunjukkan wajahmu di depanku."

Suara pria itu terdengar dingin. Bella tahu, ia tak punya alasan apapun untuk pembelaan dirinya. Lututnya ia turunkan, tangannya bertaut untuk memohon. "Tolong saya Tuan Choi, saya akan berjanji pergi jauh asal Hanna mau kembali pada Jungkook."

Ayah Hanna berdecak mengejek. "Setelah apa yang kalian lakukan pada anakku? Apa aku tidak salah dengar?"

Bella mengeratkan remasan tangannya pada dress biru muda selutut yang ia pakai. Perut buncitnya bergerak, membuat Bella meringis tak nyaman. "Jungkook membutuhkan Hanna ketika ia bangun, bukan saya," lirih Bella dengan linangan air mata yang mengalir di sudut matanya.

"Pria itu, walaupun sedang koma tetap merepotkan saja ternyata." Tuan Choi melirik perut Bella yang tampak lebih besar dari kebiasaan perut wanita hamil pada umumnya.

"Kecelakaan itu karena Jungkook mengejar Hanna ke bandara dan meninggalkan saya di altar. Menurut saya, bukankah itu hukuman yang setimpal?"

"Kau bernegosiasi denganku?"

Bella menggeleng lemah. "Saya tidak punya kapasitas seperti itu. Saat ini, saya sedang menerima karma saya. Anak ini akan kehilangan ayahnya, dan saya sudah mendapat hukuman sosial yang membuat saya malu untuk keluar rumah."

"Kau pantas mendapatkannya," potong Tuan Choi cepat. "Kau tidak tahu dan tak pernah merasa hidup dalam depresi yang berkepanjangan seperti Hanna. Kemudian Jungkook datang, menyembuhkannya, membuatnya normal seperti manusia lainnya." Suara Tuan Choi bergetar ketika mengucapkannya. "Dan, kau datang merebut satu-satunya alasan Hanna melanjutkan hidup. Kau pikir, hukumanmu setimpal?"

Bella tercekat. Rasa-rasanya ludahnya sedang menikam dirinya sendiri. Tak pernah ia pikirkan, kalau hal seperti ini begitu rumit dan penuh air mata.

"Lalu apa yang harus saya lakukan?" ucap Bella frustrasi.

"Pulanglah, aku tak punya jawabannya untukmu. Dan ku harap, ini pertemuan kita yang terakhir."

Wanita itu tahu jika ia tak mungkin lagi bisa memaksakan kehendaknya. Maka dengan langkah gontai ia pergi. Bella merasa ia tak punya tujuan. Hidup sebatang kara yang bahkan tak tahu orang tuanya siapa membuat ia tak punya sandaran siapapun selain dirinya sendiri. Keluar dari panti asuhan dan terus menerus mendapatkan beasiswa membuat Bella bisa berada di posisi sekarang. Hingga pertemuannya dengan pria yang ia sebut Tuan Lee Jungkook.

"Andai saja hidup kita mudah," ucap Bella sambil mengusap lembut perutnya. Tak ada satu baju pun yang bisa menutupi perut buncitnya. Kakinya kadang terasa sakit karena beban yang terus bertambah.

Pelataran rumah sakit cukup lama Bella pandangi. Hatinya mendadak ragu untuk melangkah masuk. Penolakan kedua orang tua Jungkook masih merasa ngeri, meski begitu ia tetap datang. Mengendap-endap layaknya seorang pencuri kemudian mencuri dengar tentang bagaimana kondisi Jungkook.

"Masih belum ada perubahan."

Suara lemah dari wanita berumur lima puluh tahunan itu membuat Bella meremas dadanya. Bersembunyi di balik dinding membuat Bella bisa tahu apa yang terjadi. Ibu Jungkook terus menerus mengusirnya setiap kali ia ingin membesuk. Walau tak terlalu keras, tapi Bella cukup tahu diri untuk tak melawan.

Flashback...

"Pergilah," ucap Bella lirih.

Netra Jungkook bergetar, ia tahu apa yang akan terjadi jika ia mengejar Hanna. Bella akan menanggung malu, dan kehidupannya akan berubah. Tapi, Hanna akan pergi. Meninggalkannya. Bahkan memikirkannya saja membuatnya merinding.

"Maafkan aku."

Jungkook berbalik dan berlari, meninggalkan Bella yang terduduk lemah di altar. Demi apapun, Jungkook tak pernah tahu jika berpisah dengan Hanna semenakutkan ini. Ternyata itu bukan cinta. Jungkook sadar ia tak pernah mencintai Bella. Perasaan itu hanya ketertarikan semata yang membuatnya buta.

Melempar asal jasnya yang sudah terpasang mawar merah di kantong jas, Jungkook segera menginjak gasnya. Kecepatan di atas rata-rata itu melaju hingga menyebabkan ia tak bisa berkendara dengan benar dan hampir menerobos lampu merah. Jungkook segera membanting setir ketika ia melihat sebuah motor akan melintas di hadapannya. Dan, kecelakaan itu terjadi.

Mobil Jungkook menabrak tiang trotoar hingga masuk ke dalam sebuah bangunan gedung yang baru di bangun, menghantam keras dinding semen hingga kakinya terjepit dan kepalanya terbentur hebat. Di sisa kesadarannya, Jungkook mencoba menggapai cincin perkawinannya dengan Hanna yang tergantung di kaca mobil bagian dalam. Meremasnya dengan tangan yang berlumuran darah hingga kesadarannya hilang.

Flashback off...

"Itu pesta untukmu. Dan sepertinya aku sudah tak sanggup lagi berjalan," ucap Hanna sambil melirik kakinya yang ia selonjorkan.

Seokjin meringis. "Maafkan aku, aku membawamu berjalan terlalu jauh."

"Kalau kau merasa bersalah, maka masakkan aku makanan Korea. Aku bosan mengisi perutku dengan pasta dan roti."

"Baiklah, besok aku akan datang kembali." Seokjin semringah karena Hanna benar-benar membuka diri untuknya. Kalau ia tak salah arti, Hanna sedang mengajaknya berkencan, bukan?

"Bukankah ini apartemenmu?"

"Aku tidak mungkin tinggal di sini tanpa izinmu."

Hanna terlihat tampak berpikir, dan jujur saja Seokjin menyukai ekspresi wajah Hanna dengan kedua alis yang bertaut samar.

"Kau ... bisa menggunakan kamar yang satunya."

Yes! "Baiklah, aku harus mengambil barangku di hotel."

Seokjin pergi dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya. Tidak sia-sia ia meninggalkan perusahaannya kalau Hanna memberinya izin untuk tinggal bersama. Tidak ada niat untuk mesum, Seokjin bahkan tak pernah membayangkannya sama sekali. Hanna begitu ia hormati hingga ia memberi janji pada dirinya sendiri untuk tak menyentuh Hanna sampai mereka menikah.

****

Restoran William tutup lebih awal karena pria itu menginginkan pesta di tempatnya, alih-alih di club malam seperti saat mereka kuliah dulu. Bangunan berlantai tiga dengan rooftop terbuka sangat pas untuk membuat pesta kecil-kecilan. Hanya beberapa orang yang datang karena banyak teman lain yang sudah pergi dari Paris untuk memulai hidupnya masing-masing.

Seokjin menjadi pria yang datang di akhir. William dan Carlile-pria berambut merah asal Rusia- menyapa Seokjin lebih dulu dengan mengangkat tangannya. "Kau terlihat berbeda sejak terakhir kita bertemu. Dan lihat kaosmu. Gucci!?! Yang benar saja?"

Meski mereka berteman sangat akrab, tapi tak ada satupun yang tahu kalau Seokjin adalah anak orang kaya, atau cucu dari Ahn Woo Bin, seorang pendiri perusahaan raksasa yang bergelut di bidang real estate dan penjualan baja.

Sebenarnya, dari mereka berempat-Seokjin, William, Carlile, dan Takudo- hanya Seokjin yang tak pernah mengambil pekerjaan paruh waktu. Uang sakunya sudah begitu cukup untuk hidupnya selama di Paris bahkan untuk berfoya-foya. Mengambil jurusan arsitek kuno, Seokjin sukses mengimplementasikan ilmunya pada hotel yang ia bangun di Korea.

"Kehidupanku jauh lebih baik," ujar Seokjin mencoba bijaksana. Pria itu meraih satu seloki berisi Wishkey yang dituang oleh William. Meminumnya perlahan hingga rasa panas menjalari kerongkongannya. Cuaca yang dingin membuat minuman itu bekerja lebih cepat dari biasanya.

"Kau memasukkan apa di minumanku?" tanya Seokjin curiga sambil menatap William yang hanya tersenyum tak berdosa.

Belum sempat William menjawab, sepasang tangan kecil melingkari pinggang Seokjin dari belakang. Seseorang menghirup punggungnya  dengan rakus. "Aromamu tak berubah. Aku menyukainya."

Forgive LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang