30

7 0 0
                                        

Jungkook tidak bodoh. Dia berhasil menangkap sinyal cinta antara Seokjin dan Hanna. Bagaimana pria itu menatap mantan istrinya, bagaimana dia menenteng tas Hanna ketika mereka pergi karena jam besuk sudah habis, atau bagaimana pria itu hanya diam menatap kedekatannya pada Hanna. Jungkook tidak buta dan kehadiran Seokjin mengusik hatinya.

"Jadi, kami boleh meresmikan hubungan kami?" tanya Seokjin cepat berusaha menggoda Jungkook.

"Hanya jika Hanna tahu apa yang ada di hatinya."

Hanna merasa kepalanya berdenyut, ada apa ini? Mereka berdua sedang apa? Hanna hanya menggeleng kepalanya pelan dan berdecak. "Lalu, bagaimana dengan pernikahanmu yang batal dengan Bella? Enteng sekali kau memintaku menerima Seokjin sedang kau sendiri menggantungkan perasaan orang lain. Bella itu sebatang kara, dan kau berhasil mempermalukannya di depan banyak orang," geram Hanna. Sejak kemarin dia ingin sekali memarahi Jungkook, karena biar bagaimanapun Bella sudah berkorban banyak, dan semenjak dua hari Hanna datang, dia tidak melihat wanita itu.

"Aku mencintaimu, Han."

"Ah, bullshit!" potong Hanna cepat. Kalau memang Jungkook mencintainya, tentu tidak akan pernah ada Bella di antara mereka. Dan sekarang pria itu mengucap cinta? Setelah semuanya ia lalui dengan babak belur? Yang benar saja.

"Aku tahu ini terlambat. Aku hanya ingin mengatakan perasaanku. Hanya untuk hari ini, berikan aku pelukan yang terakhir."

Jungkook membuka tangannya. Rindu sekali, rasanya kalau bisa ia ingin berlari dan memeluk Hanna dengan erat. Tapi sayangnya, kaki patah ini membuat pergerakannya terbatas. Sedang Hanna nampak ragu. Alisnya berkerut dalam. Bukan apa-apa, aroma Jungkook itu menyebalkan. Bagaimana bisa ia memeluk pria itu tanpa perasaan apapun.

Hanna mendekat dengan ragu. Tangannya terulur dan menyentuh ujung jari Jungkook, sedetik kemudian mereka bersatu, untuk kembali hancur. Bersatu untuk kembali menikam. Bersatu ... untuk berpisah. Tanpa mereka tahu, Bella berada di ambang pintu, tangannya gemetar. Mendadak ujung-ujung jari tangan dan kakinya dingin. Berkali-kali Bella memukul dadanya berharap sesaknya berkurang, tapi sayang tak berguna sama sekali.

Beberapa buah apel menggelinding, berjatuhan dari kantung belanja milik Bella, membuat Jungkook dan Hanna berbalik, keduanya sedikit terkejut ketika melihat Bella yang nampak gugup memungut buahnya.

"Maafkan aku, aku ... tidak tahu," ucap Bella sedikit terbata. Wanita itu kesusahan mengeluarkan suaranya dan meredam tangis di saat bersamaan. Sedang Seokjin hanya meringis melihatnya, ia tahu wanita itu sedang menyimpulkan sendiri maksud pelukan Hanna dan Jungkook.

Tak semua buah yang Bella pungut, rasanya tangannya tak sanggup menggapai buah yang hanya berjarak satu langkah dari kaki Hanna. Wanitu itu mengusap airmatanya dengan kasar dan mencoba tersenyum. Sungguh, apa yang ia harapkan lagi dengan perasaan cintanya. Pria yang begitu menggilainya sebelum ini, bahkan saat ini tak meliriknya sama sekali.

"Aku akan pergi, maaf menganggu." Setelah merapikan bajunya, Bella akan bersiap pergi tapi sebuah suara menghentikannya.

"Bella ..."

Suara itu menggetarkan hatinya. Rindu, sangat. Jika boleh Bella ingin mengatakan itu sebanyak mungkin. Jungkook menjadi orang yang begitu banyak mengambil alih perasaan dan emosinya dibanding logikanya.

Sebuah tepukan lembut Bella rasakan di ujung bahunya dan senyum hangat Hanna menjadi pemandangan pertama ketika Bella berbalik. Sebenarnya, siapa Hanna itu? Bagaimana ia bisa tersenyum begitu manis di hadapan seseorang yang sudah menghancurkan hidupnya.

"Datanglah, Jungkook menunggumu."

****

"Kau siap?"

"Apa yang harus aku katakan pada keluargamu?"

Seokjin meraih lembut tangan wanitanya dan mengecupnya singkat. Rasa dingin dengan cepat menjangkiti telapaknya sendiri, senyum geli terbit hingga membuat si wanita sedikit kesal dan menarik kembali tangannya.

"Katakan saja apa yang ingin kau katakan. Orang tuaku tidak sekolot itu. Bahkan sejak aku mendatangimu ke Paris, Ayah sudah tahu semuanya."

Hanna mencoba bernapas dengan benar, sekedar mengurangi kegugupan yang sebenarnya tak perlu. Kalau dipikir-pikir, dia tidak serendah itu. Anak kepala menteri pertahanan, seorang wanita yang memiliki saham di perusahaan baja terbesar di Asia, meski hanya 5% yang di dapat dari hadiah sang ayah menang perdamaian. Dia kaya, cantik, dan juga pintar. Ya, Hanna merapal kalimat itu dalam hatinya.

Mobil audi hitam melaju dengan pasti, berhenti pada sebuah restoran Korea yang masih memegang teguh konsep kuno yang hangat. Dinding kayu yang di pelitur licin, juga tanaman-tanaman hijau yang membuat teduh tersusun rapi di halaman utama. Ketimbang restoran, tempat ini lebih terasa istana di jaman kerajaan Korea tempo dulu.

Hanna melepas sepatu hitam lancipnya dan berganti pada sandal rumahan berwarna abu-abu dengan bordir hurup K besar di atasnya. Mereka berdua masuk dengan tautan tangan yang terasa intens. Melewati lorong panjang yang menampilkan lukisan zaman dulu khas kota Korea, mereka sampai pada sebuah ruangan besar dengan meja kayu yang panjang.

"Selamat siang, Ayah, Ibu."

Hanna hendak mengucap hal yang sama, tapi seorang wanita paruh baya lekas berdiri dengan sumringah dan memeluknya tanpa aba-aba.

"Terimakasih, nak. Kau sudah mau menerima Seokjin menjadi calon suamimu."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 03 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Forgive LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang