30. tsunami

6 0 0
                                        


"Udah hampir tiga minggu tapi sama sekali enggak ada kabar tentang Embun, Mentari, Sabina sama Aruna" kata Dara memecah keheningan antara dirinya dan Livia.

Livia menatap Dara dengan mata berkacanya.

Saat ini Dara dan Livia duduk di atas ayunan, tepatnya di taman belakang sekolah.

"Atau kita balik berdua aja kali yah? kan siapa tau mereka udah balik duluan ke 2023" lanjut Dara sambil memperhatikan Livia yang menundukan pandangannya.

Livia menggeleng.

"Enggak mungkin ra, peraturannya enggak kayak gitu, jumlah yang pulang harus sama dengan jumlah yang datang itu yang tertulis di buku panduan kak Aidan" jelas Livia.

Dara mengangguk.

Livia mengayunkan ayunan dengan pelan, begitu dirinya mulai terayun dengan cepat gadis tersebut segera menyeka air mata yang sedikit mengalir di ujung matanya.

Suasana di taman belakang sekolah kini hening, angin sepoi terus bertiup menerpa wajah Dara dan Livia.

Ⓦⓐⓛⓚ Ⓘⓝⓣⓞ Ⓣⓗⓔ Ⓟⓐⓢⓣ

2023, Pantai Bulan Sabit

Aidan menatap laut lepas sambil tersenyum tipis.

"Bang" panggil Sebastian sambil membawa dua cangkir kopi.

Aidan berbalik menatap Sebastian yang menyodorkan segelas kopi untuknya.

"Makasih" ucap Aidan lalu berjalan kearah sebuah bangku yang posisinya menghadap laut.

Sebastian mengikuti Aidan.

"Bang, emang semua yang lo catet buat mereka itu beneran? Mereka bisa balik kalau udah nemu benda - benda itu?" tanya Sebastian pada Aidan yang sedang meniup kopi yang hendak diminumnya.

Aidan menghentikan aktifitas meniup kopinya sejenak, lelaki tersebut menatap sekilas wajah Sebastian yang menunggu jawabannya.

"Mereka terlalu percaya sama gue" jawab Aidan sambil tertawa pelan.

Sebastian mengerutkan dahinya, bingung.

"Sebenarnya yah mereka bisa kembali kapan aja mereka mau, mereka berenam tinggal masuk aja ke portal terus tentuin tahun terus ... sampai deh" lanjut Aidan lalu menyesap kopi.

"Bang lo parah banget udah sebulan lebih loh mereka disana" celetuk Sebastian yang tidak tega dengan keenam gadis yang tidak tau apa - apa tersebut.

"Itu tandanya mereka menikmati saat - saat mereka di tahun itu" sahut Aidan.

"Tapi anehnya keluarga mereka sama sekali enggak ada yang nyariin mereka, buktinya aja sampe sekarang dihp mereka engga ada notif apa - apa" lanjut Aidan sambil berbalik menatap kebelakang tepatnya kearah dua mobil yang terparkir, kedua mobil tersebut adalah mobil Dara dan Aruna.

"Bang ... soal perhiasan yang membawa kekuatan" kata Sebastian yang sempat membaca buku panduan.

Tawa Aidan pecah.

"Kekuatan yang sebenarnya bersumber dari kepercayaan dan keyakinan mereka, kalau mereka percaya dan yakin punya kekuatan yah mereka akan beneran punya kekuatan" jelas Aidan sambil tertawa.

"Kok lo bisa hafal bang? Bukannya ini kali pertama lo nyoba portal itu yah? Katanya mereka kelinci percobaan" tanya Sebastian.

Aidan menghembuskan nafasnya.

"Sebenarnya ini kali ketiga, manusia pertama yang make portal ini gue sendiri" kata Aidan sambil menunduk.

"Emang siapa yang kedua?" tanya Sebastian.

𝗪𝗮𝗹𝗸 𝗜𝗻𝘁𝗼 𝗧𝗵𝗲 𝗣𝗮𝘀𝘁Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang