⚠️• FOLLOW SEBELUM BACA‼️
⚠️• DI LARANG MENIRU, MENJIPLAK, MENYALIN, MENGCOPY, DAN MEMPLAGIAT CERITA INI!!!!
________________________________________________
"Aku memang tidak pernah berharap untuk di cintai, karena aku tau kau tidak pernah mencinta...
𓆝𓆟𓆞 𓆩•Happy Reading•𓆪 [ Jangan Lupa Vote dan Coment ]
📖📖📖
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Di mana yang sakit?"
"Di tengah perut," jawab Greesa, sambil terisak menangis. Jander langsung mengusap perut istrinya dengan lembut sambil mencium kening Greesa.
Selena, Demian, Tama, dan Carissa, yang kini melihat tampak khawatir. Karena tadi, saat mereka tengah asik menonton tv di lantai satu dan Jander yang sedang pergi ke dapur untuk mengambilkan sesuatu. Meninggalkan Greesa sendirian di kamar karena masih tertidur. Tapi ternyata, tidak lama setelah Jander pergi, Greesa mulai terbangun dari tidurnya dan langsung mencari suaminya.
Jander yang tidak ada di kamar membuat Greesa panik dan setelahnya langsung menangis. Suara tangisannya terdengar begitu nyaring karena Greesa menangis penuh histeris sambil memanggili nama suaminya, pintu kamar yang tidak tertutup, membuat Selena, Demian, Tama, dan Carissa yang kini berada di lantai bawah terkejut mendengarnya begitupun dengan Jander yang baru saja akan pergi menaiki tangga.
Mereka dengan cepat langsung menghampiri dan melihat pada Greesa di kamar karena takut terjadi sesuatu.
Namun saat mereka melihat ke kamar, mereka mendapati Greesa yang duduk di tengah ranjang. Menangis tersedu-sedu dengan bibir mengerucut sambil memeluk bantal, terlihat seperti anak kecil yang kesepian karena tidak memiliki teman. Membuat Carissa dan Selena merasakan iba dan kasihan melihatnya, lalu Jander dengan cepat mendekat dan menenangkan istrinya.
"Sudah, jangan menangis terus, nanti perutmu semakin sakit," ujar Jander dengan lembut sambil menghapus air mata Greesa.
"Kau pergi meninggalkanku ..."
"Aku hanya ke luar sebentar."
"Kenapa tidak bilang?" tanya Greesa, sambil terisak. Jander hanya diam lalu memeluknya dengan lembut.
"Perutnya masih sakit, Sayang?" Carissa bertanya yang langsung di anggukin Greesa.
"Sedikit, nyeri."
"Papah panggilkan dokter Ceena agar di periksa, ya?" tawar Tama. Greesa langsung menggeleng sambil mencengkram bahu suaminya.
"Tidak mau di periksa."
"Hanya sebentar saja," beritau Jander.
"Tidak mau."
Mereka saling pandang. Mengerti dan sulit jika Greesa sudah menolak, karena jika di paksa lagi akan berujung pada suara tangisan.
"Kalau begitu, minum dulu, Sayang. Supaya perutnya tidak sakit dan bisa sedikit tenang," ujar Selena yang sudah memegang segelas air lalu membantu Greesa meminumnya.
Dengan perlahan dan hati-hati, Greesa meneguk air di dalam gelas hingga tersisa setengahnya. Setelah itu, Greesa terdiam dan bersandar lemah di dada suaminya. Jander pun memeluknya dengan lembut, sambil mengusap-usap tubuh istrinya lalu mencium kepala Greesa.