𓆝𓆟𓆞
𓆩•Happy Reading•𓆪
[ Jangan Lupa Vote dan Coment ]
📖📖📖
"Senang bertemu dengan anda secara langsung Tuan Jander."
Kedua orang tua Hanele, Nyonya Rane dan Tuan David. Tampak kaget dan juga senang, karena mereka tiba-tiba saja melihat Jander yang datang bertamu ke rumah mereka.
Keduanya pun langsung menyambut dan mempersilahkan Jander, Matteo, dan Jovan untuk masuk. Melihat itu Jander tampak langsung diam menatap dan melihat pada sekeliling ruangan rumah yang tampak mewah, lalu tanpa di persilahkan untuk duduk, Jander langsung mendudukkan tubuhnya dengan angkuh di single sofa sambil setelahnya mengangkat satu kakinya di atas paha.
Pemilik rumah yang melihat hanya bisa terkekeh sambil ikut duduk di sofa panjang yang berhadapan dengan Matteo dan Jovan.
"Tunggu sebentar akan saya ambilkan air minum, Tuan."
"Tidak perlu."
"Walaupun begitu tamu tetap harus di sediakan makanan dan minuman," ujar nyonya Rane yang merupakan ibunya Hanele.
Jander yang mendengar langsung menoleh menatapnya, membuat Rane yang melihat langsung kembali duduk di sofa di samping suaminya.
"Saya sedikit terkejut dengan kedatangan anda secara tiba-tiba, Tuan Jander. Tapi walaupun begitu kami merasakan senang,"
"Apa ini mengganggu?"
"Tentu saja tidak," ujar tuan David sambil terkekeh sementara Jander hanya diam sambil menatap pada bola kristal di atas meja.
"Kami juga merasakan senang dan begitu bahagia, karena tidak menyangka jika Tuan Jander akhirnya menyetujui kerja samanya," nyonya Rane ikut bersuara lalu terkekeh bersama dengan suaminya.
"Saya sangat-sangat berterimakasih kepada Tuan Jander, dan pastinya kerja sama kita akan sukses besar."
Keduanya tersenyum dan tertawa. Matteo dan Jovan ikut tersenyum dan tertawa mewakili Jander.
"Ku dengar kau memiliki seorang putri yang cantik?"
Rane dan David langsung menoleh menatap pada Jander saat mendengar ucapan Jander.
"Ya, saya memiliki seorang putri. Ada apa Tuan Jander menanyainya?"
"Hanya ingin mengetahuinya dan mungkin melihatnya sebentar jika putrimu ada di sini."
Mereka tersenyum senang beranggapan lain tanpa tau maksud Jander.
"Putri kami baru saja datang berlibur dari Moskow 2 hari yang lalu."
Jander mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan, sementara Matteo dan Jovan tampak menoleh.
"Apa Tuan Jander ingin menemui dan melihat putri kami? Walau kami tau jika Tuan Jander sudah menikah setidaknya tidak papa untuk menemui dan melihatnya sebentar."
Nyonya Rane tampak terlihat begitu senang lalu setelahnya langsung beranjak pergi memanggil purinya di kamar, melihat itu Jander langsung menoleh menatap sebentar pada Matteo dan Jovan.
Sampai tidak lama setelahnya, apa yang Jander tunggu-tunggu dan mereka cari kini sudah ada di depan mata lengkap dengan apa yang Jander inginkan. Kaki tangan yang telah berani menyakiti istrinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
||MATCHMAKING [END]
Romance⚠️• FOLLOW SEBELUM BACA‼️ ⚠️• DI LARANG MENIRU, MENJIPLAK, MENYALIN, MENGCOPY, DAN MEMPLAGIAT CERITA INI!!!! ________________________________________________ "Aku memang tidak pernah berharap untuk di cintai, karena aku tau kau tidak pernah mencinta...
![||MATCHMAKING [END]](https://img.wattpad.com/cover/378511012-64-k540109.jpg)