𓆝𓆟𓆞
𓆩•Happy Reading•𓆪
[ Jangan Lupa Vote dan Coment ]
📖📖📖
Apa semua itu adalah mimpi?
Semua yang terjadi itu... adalah mimpi atau sebuah kenyataan? Mimpi atau kenyataan yang akan tetap menjadi mimpi buruk bagi Jander.
Namun, jika semua ini adalah mimpi. Jander ingin bangun. Jander ingin segera bangun dari tidurnya, bangun dari mimpi buruknya, dan menyadari jika semua itu benar-benar tidak terjadi.
Semua itu adalah mimpi buruk.
Akan tetapi, Jander tetap tidak bisa terbangun. Jander tidak bisa terbangun dari tidurnya dan tidak bisa sadar dari mimpi buruknya. Bahkan, saat Jander memaksakan diri untuk sadar. Ia tidak bisa melakukan apapun. Jander tidak bisa sadar, tidak bisa bergerak, tidak bisa terbangun, dan tidak bisa berlari, atau bahkan mencegah kematian di depan matanya.
Semua itu nyata bukan mimpi.
Ya, Tuhan.
"ISTRIKU MASIH HIDUP! Sayang, ayo bangun. Kumohon bangun, Sayang," Jander kembali meraung berteriak, menatap pada wajah istrinya yang pucat pasih.
"Jander."
"Jangan pergi... kumohon jangan pergi, aku sangat mencintaimu."
"Jander... Jander!"
"Kumohon, jangan pergi."
"JANDER!"
Itu mimpi buruk ◡̈
Jander langsung membuka mata. Kaget dengan nafas terengah-engah, dan keringat yang terlihat membanjiri wajahnya.
Setelah itu, Jander mengangkat kepala menatap pada wajah Ayahnya yang berada tepat di hadapannya sambil menatapnya dengan raut muka penuh ketegangan dan khawatir. Jander bingung, lalu menatap dan melihat pada sekelilingnya di mana semua orang ada di sana tengah menatapnya dengan raut muka bahagia namun juga penuh khawatir.
"Cepat bangun, ada apa denganmu?" tanya Tama sambil menatap bingung pada putranya. Di mana semua orang tengah tegang dan khawatir, Jander justru tertidur atau pingsan.
"D-di mana, Istriku? Di mana, Greesa?"
Jander tampak terlihat kebingungan, seperti orang yang habis keluar dari goa. Carissa yang melihat langsung mendekat, mengusap lembut wajah pucat putranya lalu meraih tangan Jander.
"Greesa, ada di dalam sedang menunggumu. Kamu tidak ingin masuk menemani, istrimu?" tanya Carissa, Jander sedikit bingung untuk mendengar dan sadar.
Namun setelannya, Jander segera beranjak berdiri. Berjalan dengan sempoyongan menuju pada pintu, sampai semua orang tersenyum melihat khawatir menatapnya. Dokter Arion yang berdiri di depan pintu ruang operasi langsung membukakan pintu, mempersilahkan Jander untuk masuk.
Setelah masuk ke ruang operasi dan mendengar pintu tertutup, Jander langsung tersadar. Melihat dan menyadari semuanya, Jander langsung terdiam dengan air mata yang langsung mengalir di pipinya tanpa ia minta. Terlebih lagi saat melihat semua orang tersenyum senang menatapnya tanpa raut muka penuh emosi dan tangisan.
KAMU SEDANG MEMBACA
||MATCHMAKING [END]
Romantizm⚠️• FOLLOW SEBELUM BACA‼️ ⚠️• DI LARANG MENIRU, MENJIPLAK, MENYALIN, MENGCOPY, DAN MEMPLAGIAT CERITA INI!!!! ________________________________________________ "Aku memang tidak pernah berharap untuk di cintai, karena aku tau kau tidak pernah mencinta...
![||MATCHMAKING [END]](https://img.wattpad.com/cover/378511012-64-k540109.jpg)