⚠️• FOLLOW SEBELUM BACA‼️
⚠️• DI LARANG MENIRU, MENJIPLAK, MENYALIN, MENGCOPY, DAN MEMPLAGIAT CERITA INI!!!!
________________________________________________
"Aku memang tidak pernah berharap untuk di cintai, karena aku tau kau tidak pernah mencinta...
𓆝𓆟𓆞 𓆩•Happy Reading•𓆪 [ Jangan Lupa Vote dan Coment ]
📖📖📖
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Papah sudah mengurus masalah, Tantemu."
Jander yang mendengar, langsung menatap pada Ayahnya. "Papah, tau semuanya?"
Tama menghela nafas sebentar. "Papah bertanya pada William dan Matteo, jadi setelah itu Papah yang mengurus dan sudah memindahkan Tantemu jauh dari sini."
"Kemana Papah memindahkannya?"
"Kamu tidak perlu tau, karena itu urusan Papah," ujar Tama. Jander langsung mendesis. Melihat itu Tama langsung menatap kesal pada kebiasaan putranya.
"Jangan berbuat macam-macam. Papah memang tidak mengawasi mu, tapi Papah selalu tau apa yang kamu lakukan di luar sana."
"Papah takut jika aku membunuhnya?"
"Jangan gila, kamu mau membunuh keluargamu sendiri?"
"Wanita itu tidak pantas di sebut sebagai keluarga, karena darahnya mengalir dari iblis."
"Walau dari iblis atau hantu sekalipun, dia tetap keluarga kita."
"Aku sudah berkeluarga, bilang saja itu keluarga Papah," sahut Jander dengan enteng. Tama yang mendengar langsung kaget, menatap kesal pada putranya yang terus melawan.
"Buang kebiasaan burukmu itu, kamu kini sudah menikah dan Greesa sedang hamil. Papah tidak ingin cucu Papah nanti menurunkan sifatmu."
"Bukankah itu hal wajar dan seharusnya? Karena Papah yang sudah berubah saja, masih tetap menurunkan sifat buruk Papah kepadaku."
Mata Tama langsung melotot. Jander yang melihat pada Ayahnya tampak tidak takut lalu meminum tehnya dengan santai
"Tapi Papah tidak pernah membunuh orang dan mengajarimu hal buruk seperti itu."
"Aku tidak pernah membunuh. Mereka saja yang mati sendiri karena tidak mampu bertahan hidup untuk menerima akibatnya," Jander menyahut tanpa mau mengalah untuk membela dirinya. Membuat Tama seketika langsung kehilangan kata-kata, bingung dan pusing harus menghadapi putranya sendiri seperti apa, sambil kini menghela nafas agar tekanan darahnya tidak naik.
"Lalu bagaimana dengan menantu, Papah. Kamu sudah menjelaskan semuanya kepada Greesa dan meminta maaf pada istrimu sendiri?"
"Hm."
Tama menghela nafas dengan tenang. "Ingat pesan, Papah. Jangan sampai berkelahi lagi dan mengulangi kesalahan yang sama."
"Kami tidak akan berkelahi jika wanita itu tidak datang."