⚠️• FOLLOW SEBELUM BACA‼️
⚠️• DI LARANG MENIRU, MENJIPLAK, MENYALIN, MENGCOPY, DAN MEMPLAGIAT CERITA INI!!!!
________________________________________________
"Aku memang tidak pernah berharap untuk di cintai, karena aku tau kau tidak pernah mencinta...
𓆝𓆟𓆞 𓆩•Happy Reading•𓆪 [ Jangan Lupa Vote dan Coment ]
📖📖📖
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dengan pelan dan hati-hati, Jander membuka pintu kamar. Karena kata bibi Melin tadi, Jervan sedang tertidur di kamar setelah sempat rewel karena tidak mau tidur dan menyusu, lalu terus-menerus ingin di gendong ke balkon kamar untuk melihat ke luar.
Namun ini, saat Jander sudah seberusaha mungkin membuka pintu kamar dengan pelan dan hati-hati lalu melihat ke dalam kamar, hal pertama yang justru Jander lihat adalah wajah putranya yang sedang menengok ke arahnya dengan senyum ceria.
Jervan terlihat tengah tengkurap di tengah ranjang, menatap ke arah pintu lalu tersenyum dan bergumam kesenangan. Bahkan setelahnya, Jervan langsung menjatuhkan kepalanya ke selimut lalu tertawa terendam di atas selimut sebelum mengangkatnya lagi lalu berguling tidur terlentang.
Melihat tingkah putranya itu, Jander langsung terdiam. Memejamkan matanya sebentar lalu terkekeh gemas menatap pada Jervan yang ternyata tidak tidur dan sedang asyik bermain, sementara yang justru tertidur adalah Mommynya.
Jadi, bukan Mommynya yang menjaga Jervan, tetapi Jervan-lah yang menjaga Mommynya. Karena Mommynya kini tampak terlihat tertidur dengan nyenyak.
"Kenapa tidak tidur?" tanya Jander dengan pelan, melangkah masuk mendekati pada ranjang.
Mendengar Daddynya yang sedang berbicara, Jervan langsung menatap sambil tersenyum lalu mengangkat kedua kakinya ke atas.
"Mamamamam," gumam Jervan.
"Seharusnya tidur, jika Mommy sedang tidur."
Jervan langsung menghempaskan kedua kakinya ke ranjang. Melihat itu, Jander langsung geleng-geleng kepala, melihat tingkah putranya lalu setelahnya Jervan tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya ke atas minta di gendong.
"Cekapcekapcekap."
Jander justru langsung melipat kedua tangannya di depan dada, sambil menatap dengan kening mengerut. Melihat Daddynya yang tidak mau menggendongnya sambil menatapnya, Jervan langsung terdiam. Menatap pada Daddynya dengan bingung lalu matanya mengerjap-ngerjap dengan bibir mengerucut dan tidak lama dari itu, Jervan justru langsung tertawa tanpa sebab sampai Jander ikut tertawa dan gemas sendiri.
"Mamamam."
"Tidak boleh gendong, Daddy belum mandi."
Seolah paham, Jervan langsung menoleh melihat ke arah pintu kamar mandi sambil bergantian menatap pada wajah Daddynya. Jander yang lagi-lagi di buat gemas akan kepintaran putranya itu, langsung mencium pipi Jervan dan Jervan dengan cepat langsung menarik rambut Daddynya sambil membuka mulut kesenangan bersiap untuk menggigit namun Jander dengan cepat menahannya.