Historical Fiction #4
By: Alwaysje
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
[Tamat]
Lerajee tidak pernah meminta untuk dilahirkan sebagai setengah pribumi.
Ketika semua orang hanya memandangnya sebagai anak iblis sebab namanya yang disematkan oleh...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ada kesalahan ternyata tadi, maaf yaa Ini bab terakhir sebelum epilog ya guys
Selamat membaca!! >>>>>
Dalam hati berkali-kali mengumpati para serdadu dan pribumi yang berebut untuk bisa menikmati surga dunia setelah sang nyonya kembali. Anabertha menatap dengan santainya ke arah luar sembari menumpukan siku pada kusen jendela. Sudah dibilang, rumah ini tidak akan membuka jasa layanan wanita lagi. Kalau mereka kesini ya, yang didapati hanya asrama perempuan, bukan ladang bisnis seperti yang mereka tahu sebelumnya.
Ya, kabar si Nyonya yang bertobat sudah menjadi perbincangan. Banyak dari mereka tidak percaya dan datang secara langsung guna membuktikannya.
Alih-alih menerima penjelasan dari beberapa wanita serta pekerja pria di Rumah Nyonya, mereka justru malah membuat keributan yang membuat Anabertha pusing tak karuan. Kadang terhibur, kadang pula terganggu.
Matanya memberat melihat perdebatan itu tidak kunjung selesai. Ia memberi isyarat pada beberapa gadis yang kembali dari sungai setelah mencuci beberapa keranjang pakaian tampak ragu masuk ke dalam. Anabertha dengan tangannya malah meminta mereka untuk berbalik dan duduk saja sampai perdebatan itu selesai. Entah butuh berapa lama lagi bagi mereka menyelesaikannya.
Sampai, matanya tidak sengaja melihat seseorang yang sudah beberapa minggu tak ia lihat batang hidungnya. Dengan gerakan cepat pergi bersembunyi agar laki-laki itu tidak mengetahui keberadaannya. Tapi, rupanya usahanya sia-sia.
"Anabaertha!"
"Saya tau kau bersembunyi dan masih mendengar suara saya."
Anabertha diam. Menggigit bawah bibirnya, ia tidak ingin pertahanannya runtuh. Apalagi teriakan itu mengundang rasa penasaran sang ibu, Patricia.
"Ada apa? kenapa dia kemari?" tanya Patricia. Yang ia tahu, Victor sudah memutuskan hubungan dengan Anabertha, jadi seharusnya semua telah diselesaikan lebih awal. Bukan malah baru sekarang. "Kalian belum mengakhiri hubungan itu?"
"Lantas mengapa dia mencarimu?"
"Tidak tahu, lebih baik mama jangan menunjukkan diri!"
"Tapi keributan apa lagi itu?" Nada bertanya dengan sedikit kekesalan itu hanya dibalas gelengan kepala oleh Anabertha.
"Anabertha!"
Gadis itu memejamkan mata. Merasa Victor juga mulai mengganggu karena tidak berhenti memanggil-manggil namanya. Ia kembali membuka jendela karena kesal dan menatap pada Victor di bawah sana.
Victor tersenyum di tempatnya. Pada akhirnya mereka bertemu.
"Ada apa?"
"Membayar hutang!"
Anabertha menggeleng. "Tidak ada hutang dan urusan kita selesai."
"Anabertha, saya sudah berjanji."
"Saya tidak akan masalah jika kamu membatalkannya."