Historical Fiction #4
By: Alwaysje
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
[Tamat]
Lerajee tidak pernah meminta untuk dilahirkan sebagai setengah pribumi.
Ketika semua orang hanya memandangnya sebagai anak iblis sebab namanya yang disematkan oleh...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Manusia akan memulai harinya kala mentari terbit di ufuk timur. Sesaat, celah-celah genting menciptakan tirai sutra untuk segera dibuka oleh manusianya. Bising suara beras beradu dengan air, lidi membentur kerikil menyingkap guguran daun. Tak pernah sekalipun manusia-manusia itu mendustai keindahan fajar sang Maha Kuasa.
Tanpa terkecuali Koespatni.
Wanita itu menepuk pelan kemben yang membelit pinggangnya dengan ketat dan menutupinya dengan kebaya kembang yang dipenuhi warna. Meraih sebuah tusuk konde dan menata rambutnya.
"Arepngendi kowe?-- mau kemana kamu?" tanya sang ibu.
"Ke padepokan."
"Gawe opo toh nduk, selesai tugasmu disana. Kamu bukan lagi penari padepokan!" tegur ibunya. Koespatni tak acuh, kemudian melangkah meninggalkan kamarnya.
"Koespatni!"
Wanita muda itu menghela nafasnya. "Biyung, jangan halangi aku."
Sang ibu tidak lagi menghalangi. Koespatni sadar akan tindakannya. Betul, ia seakan berdosa. Terlanjur sudah. Biarlah ia menjadi pendosa di hadapan orang-orang terkasihnya. Koespatni tahu, ia hidup untuk ini.
Mengiringi langkah putrinya, wanita tua itu hanya menatap sendu. Kaki yang tak lagi beralaskan selop indah itu, menapak bumi dengan mantab, menuju arah bukit, tempat padepokan berdiri. Koespatni seakan percaya bahwa sang bumi tidak akan melukai kaki indahnya. Koespatni percaya, hutan, gunung, laut, langit, sungai dan angin tidak akan menggoyahkan niatnya.
Koespatni ingin menyelesaikan segalanya. Setelahnya berlutut dan memohon ampun atas segala dosa yang menodainya. Terakhir, ia akan pasrah pada siapapun yang memegang nyawanya.
>>>>>
"Saya ingin bertemu dengan Kile Roell dan... wie ben jij?--siapa kau?"
Kipas sutra dan renda yang indah. Kayunya berukir nama dan ujung pengaitnya terbuat dari emas. Gaunnya khas desainer Eropa, mengkilap, serasi dengan tas di tangannya. Seorang jongos di belakang merangkah dengan menggeret koper besar nan berat milik wanita itu. Lerajee terdiam.
Hindia Belanda tidak cocok dengan gaum mewahnya. Kipasnya terus bergerak menciptakan angin yang tak seberapa. Matanya meneliti tajam Leraje. Dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Lantas senyumnya mengembang begitu sinis, tatapannya mulai merendahkan.
"Lerajee, wie is daar?" Victor mendekat dan bagaimana senyum lebar wanita itu terkembang sempurna. Lebih dari senyum yang ditujukannya pada Lerajee.
"Tidak tahu. Mencari papa." Lerajee menjawab pelan. Kemudian hendak berbalik. Firasatnya kian buruk. Ah, senyuman wanita itu. Persis seperti milik Victor. Saat Lerajee beranjak, kemudian kakinya terhenti hanya untuk berbalik sesaat. Tampak wanita itu memeluk Victor erat. Amat sangat erat.