Historical Fiction #4
By: Alwaysje
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
[Tamat]
Lerajee tidak pernah meminta untuk dilahirkan sebagai setengah pribumi.
Ketika semua orang hanya memandangnya sebagai anak iblis sebab namanya yang disematkan oleh...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku update lagi!! Selamat membaca >>>>>
"Moet ik boos of verdrietig zijn?-- haruskah aku marah atau bersedih?"
Kile memandang Patricia yang terduduk di depan ranjang Koespatni. Dua wanita itu sungguh berhasil membuatnya gila hanya dengan mendengar fakta yang selama ini keduanya sembunyikan.
Di kamar itu hanya ada mereka. Tapi, sama-sama dipenuhi kekalutan. Mereka ingin berbicara dengan tenang, namun sia-sia saja. Pada akhirnya hati mereka menjerit karena luka yang tercipta tanpa tahu apa penyebabnya. Entah sebab pengkhianatan, kebohongan, atau sebab lain, mereka tidak tahu dari mana asal luka itu.
"Patricia," panggil Kile.
"Thomas bilang mencintaiku, tapi dia merendahkanku seperti aku seekor serangga yang pantas untuk diinjak. Hanya karena aku seorang wanita dan dia mengharapkan aku memberinya seorang putra, tapi aku gagal, Thomas memberiku penyiksaan batin yang luar biasa. Thomas bilang mencintaiku tapi dia tidak pernah menyentuhku semenjak ia tahu aku tidak akan pernah bisa memberikannya keturunan. Thomas-- aku membencinya Kile, sangat membencinya."
Kile terdiam. Ia bersandar pada pintu dan menunduk. Harusnya Patricia bicara padanya pada saat itu.
"Siapa aku bagimu?" tanya Kile penuh kekecewaan.
"Kau seperti saudara untukku," jawab Patricia lemah.
"Tapi kau menyembunyikannya selama belasan tahun, Patricia!" Kile menaikkan nada bicaranya. Dadanya naik turun. Sakit sekali. "Aku tidak akan ragu membantumu jika itu yang kau mau. Meskipun itu berakhir menghancurkan reputasiku dan membuatku harus mati di tangan Thomas--" Kile menjeda kalimatnya menahan air mata yang mendesak untuk keluar.
"Sejak kita meninggalkan Netherlands hingga tiba di Hindia-Belanda ini. Kau juga tanggung jawabku, Patricia."
Patricia tertegun, semakin dalam menunduk. Menyadari kesalahannya.
"Tapi kau sepertinya tidak pernah mengerti."
Kile memandang sekilas pada wajah Koespatni yang tampak damai terlelap dengan wajah pucatnya. Ada setitik rasa bersalah saat mengingat kejadian malam itu. Kile menghela nafas, memutuskan untuk keluar dan menenangkan dirinya.
Patricia terdiam. Ia beralih pada Koespatni. Tangannya ia raih dan ia genggam. Menangis disana, meminta maaf berkali-kali. Andai ia bisa berpikir lebih jernih dan membicarakan semua rasa sakitnya pada Kile. Akankah semua berakhir bahagia? mungkin saja semua ini tidak akan pernah terjadi.
"Vergeef me," bisiknya. Isakannya begitu kuat dan terdengar hingga keluar.
Kile yang belum benar-benar meninggalkan kamar itu menghela nafas berat. Hidup Patricia selama ini tidak kalah beratnya. Wanita itu juga memendam lukanya. Ia mendesah sekali lagi dan melihat putrinya yang duduk termenung di teras samping villa itu.