Chapter 31

1.7K 166 32
                                        

Freya sudah melihat dan mengingat bagaimana perjuangan Marsha dulu padanya. Sekarang dia telah melihat seorang Marsha yang berbeda. Seorang wanita cuek dan tak acuh.

Harus diakui, kalau dia sangat rindu.

Lamunan Freya pun terpotong setelah melihat apa yang Marsha lakukan. Tadi dia melihat dia sedang mengumpulkan baju baju kotor. Tapi selanjutnya, Freya sedikit kaget dengan yang Marsha lakukan.

"Ngapain?" Freya memegang tangan Marsha yang hendak meraih sabun cuci baju.

"Mesin cuci mati"

"Oh ya?" Setelah itu Freya memeriksa mesin cuci. Dan benar, mesinnya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyala.

"Nanti laundry aja. Jangan nyuci, jangan cape cape ya"

"Udah lah, gapapa. Aku juga gak ngapa-ngapain"

"Marsha.." Marsha tetap melanjutkan aktivitasnya mencuci baju, dengan duduk di bangku pendek. Freya meringis melihat posisi istrinya yang sangat tidak nyaman. Perut yang mengganjal disana, membuat Marsha harus ekstra hati-hati.

Lagi lagi wanita itu diam mengabaikan suruhan Freya agar tak mencuci lagi. Freya akui dirinya lumayan sedih, karena apa yang Freya minta sekarang Marsha tidak mengindahkannya. Semua seperti angin ditelinga Marsha.

Tapi Freya tidak akan membiarkan Marsha merasa sendirian lagi. Dia pergi mengambil bangku pendek lain lalu duduk disebelah Marsha. Hal itu membuat wanita disampingnya mengerjap kebingungan "kamu ngapain?"

"Mau nyuci lah"

"Jangan.. kamu kan mau kerja, udah sana!"

"Iya nanti, masih jam segini"

"Jam segini.. ini lima belas menit lagi mau masuk loh. Udah sana" Marsha mendorong freya untuk segera berdiri, tapi suaminya itu membandel. Dia tetap ditempat duduknya. "Nanti kalo telat dimarahi kak shani. Kamu dipecat mau?"

"Yaudah gue bilang aja, gara gara Marsha kak. Gitu"

"Kok aku sih?"

"Ya elo nyuci baju" Freya menatap Marsha. Memberi kode pada wanita itu bahwa tatapan Freya mengatakan. Dia tidak mau Marsha lelah.

"Aku kan udah bilang. Daripada gak ngapa-ngapain, mangkanya..." Marsha belum menyelesaikan ucapannya, tapi Freya sudah pergi meninggalkan wanita itu tanpa pamit.

Untuk seperkian detik wanita itu tampak kaget dengan gerakan Freya yang tiba tiba. Detik berikutnya, ada perasaan yang sedikit sesak didadanya. Padahal dia sendiri yang menyuruh Freya agar segera pergi, tapi kenapa dia juga yang tidak rela ditinggal.

Marsha mengambil nafas panjang untuk menenangkan hatinya yang hampir tersayat. Ia harus terbiasa dengan ini semua. Dia harus terbiasa tanpa Freya. Hari hari telah banyak berlalu, perut Marsha juga bertambah besar. Semakin dekat dengan kelahiran bayinya, semakin dekat juga perpisahan antara dirinya dan Freya.

Wanita itu kembali mencuci baju kotornya.

Namun beberapa menit kemudian, dia dibuat terkejut dengan kembalinya Freya ke tempat duduknya. Dengan Freya yang sudah berganti baju menjadi lebih santai. Suaminya itu bersikap seperti tidak terjadi apa apa.

"Fre.." "sssstt" ucapan Marsha dibungkam Freya dengan telunjuknya ketika Marsha terlihat ingin protes. "Gue udah izin gak masuk sama kak shaninya langsung. Jadi Lo diem. Gausah bawa bawa kak shani buat ngusir gue"

Marsha pun tidak bisa berkutik lagi, alasannya menggunakan shani sudah tidak bisa digunakan. Dia hanya pasrah mencuci baju kotor dengan suaminya. Freya mencuci bajunya sendiri, Marsha juga. Tapi beberapa kali Freya mengambil baju Marsha yang sulit dicuci. Dia tidak mau Marsha kecapekan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 25, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Selfish || Fresha Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang