36. Nothing

32 2 0
                                        

Author's POV

Seorang gadis dengan setelan formalnya berjalan memasuki sebuah gedung yang di kelilingi oleh hamparan rumput hijau di pusat kota Los Angeles dengan senyum yang merekah, beberapa staff kian menyapanya dengan sorot mata takjub dan dengan rendah hatinya gadis itu membalasnya dengan senyuman lebar.

Memasuki lift khusus dengan kartu akses yang diberikan oleh kekasihnya, gadis itu langsung diantarkan ke salah satu lantai dimana ruangan kekasihnya itu terletak. Pintu lift terbuka, seorang wanita yang sangat ia kenali kemudian berlari menyambut kehadirannya.

"Ashley my darling, where have you been?" Tara, asisten pribadi Niall adalah orang tersebut.

Ashley tersenyum kecil, matanya menatap Tara seolah keduanya tengah berbicara melalui sorot matanya masing-masing.

"You know it, Taz. But I'm here now, so everything is fine." balas Ashley.

Ini sudah hampir seminggu semenjak perbincangan intensnya dengan Niall, keduanya telah kembali seperti sedia kala namun sepertinya orang-orang disekitar mereka belum banyak yang tau akan hal itu. Baik Niall maupun Ashley benar-benar hanya fokus untuk memperbaiki hubungan mereka yang sempat renggang kemarin tanpa melibatkan orang lain lagi kedalam hal tersebut.

Itu bagus, karena keduanya tidak ingin lagi ada orang lain yang ikut campur ke dalam hubungan yang telah mereka jalin selama ini.

Tara memeluknya erat, untuk beberapa saat Ashley merasakan kehadiran Sofia ketika Tara memeluknya. Oh, dia merindukan kakak perempuannya.

"Aku sangat mengkhawatirkanmu, Ash. Setelah mengantarkanmu pulang di hari itu, aku sudah sangat siap untuk mematahkan kepala Niall. Too bad ternyata begitu aku sampai dirumahnya ia baru saja meluapkan emosinya sehingga aku tak berani menghampirinya." Tara mulai berceloteh.

Ashley melepaskan pelukan mereka, kemudian menatap Tara dengan penuh penasaran. "Apa maksudmu dengan Niall meluapkan emosinya?"

"Ya, kurasa terjadi pertengkaran hebat antara dirinya dan dia yang namanya tidak perlu kita sebut setelah kau pergi. Aku tak tahu pasti, namun Deo mengatakan Niall benar-benar marah besar saat itu. Baik aku maupun Deo tidak berani menyapanya hingga berhari-hari, trust me you wouldn't want too see the anger version of him." celotehnya lagi.

Ashley sempat terkikik begitu mendengar penuturan Tara yang tidak disangkanya hari ini, niatnya hari ini hanya ingin menghampiri Niall karena kebetulan pekerjaannya selesai lebih cepat untuk minggu ini. Ia tak menyangka akan bertemu Tara yang justru memberikan beberapa detail yang tidak diketahuinya seperti saat ini.

"Well, what matters is we're on a good term now. Maafkan aku sudah merepotkanmu juga membuatmu khawatir, tapi terima kasih untuk semuanya, Tara. Kau benar-benar tulus padaku dan aku sangat menghargai itu." ucap Ashley.

Tara kembali memeluknya, namun kali ini hanya pelukan singkat. Wanita itu juga beberapa kali menepuk pundak kanannya seakan memberikan semangat. "Senang mendengarnya, kalau begitu ayo.. kurasa kau sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Niall bukan?" godanya pada Ashley.

Ashley tertawa kemudian mengikuti Tara yang membawanya menuju ruang kerja Niall, keduanya bertemu dengan Kate yang nampaknya tengah sibuk dengan komputer yang ada dihadapannya. Ketika keduanya semakin mendekat, Kate langsung mengalihkan pandangannya.

"Niall sedang ada meeting dengan beberapa brand dan mungkin baru akan selesai sekitar 30 menit lagi, namun kau bisa menunggunya di dalam, Ash." ujarnya cepat, seakan sudah paham akan maksud tujuan Ashley kesini.

Ashley mengangguk, sejujurnya ia tidak mengetahui hal tersebut. Ia sempat mengirimkan pesan pada Niall sekitar satu jam yang lalu namun lelaki itu belum membalasnya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 07, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Another WorldTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang