Chapter 24

98 11 1
                                        

Sejak zaman dahulu, iblis sudah ada di kalangan anak cucu Adam. Menyusup dan membaur untuk menjerumuskan mereka ke lubang dosa. Dan manusia yang tamak adalah yang paling disukai. Nafsu duniawi membutakan mereka untuk memuaskan keserakahan yang tak ada habisnya.

Di suatu masa, Nomor 4 diutus ke dunia manusia untuk menggoda raja. Alasannya jelas. Manusia yang diberi kekuasaan tak terbatas cenderung menjadi pemimpin yang otoriter dan bahkan tiran pada rakyatnya. Penyiksaan dan penghilangan nyawa bagi mereka yang dianggap pembangkang adalah hal yang lumrah.

Salah satunya menimpa seorang pemuda yang tengah diadili di ruang persidangan. Dengan tangan terikat dan tubuh penuh luka-luka, ia dipaksa bersimpuh di hadapan raja yang tengah menodongkan pedang ke arahnya. Sedang di kanan kirinya, para pengawal bersenjata siap siaga melaksanakan perintah yang keluar dari mulut sang raja.

"Dasar kurang ajar. Berani-beraninya kau melawan perintah raja," ujar pria nomor satu di negeri itu dengan nada arogansi yang absolut.

Namun, pemuda itu tidak ciut meski nyawanya sudah di ujung tanduk. Alih-alih memohon pengampunan, ia mendongak dan menunjukkan senyum remehnya. Membuat sudut mata sang raja berkedut, merasa terhina. Lalu dengan sudut bibir yang sobek dan meninggalkan perih, dia berkata, "Orang yang menyalahgunakan kekuasaannya untuk keserakahan dan pesta pora tidak pantas disebut raja!"

Perkataan pemuda itu lantas saja membuat raja menjadi berang. "Kau memang pantas mati!" 

Syatt! Ayunan pedang dilayangkan dan menebas kepala pemuda itu tanpa belas kasih. Darah seketika memuncrat mengenai jubah kebesaran sang raja. Cairan merah segar menetes dari pedang yang dingin jatuh ke lantai, diikuti dengan tubuh yang ambruk dan kepala yang menggelinding.

Dan dari balik ruang penghakiman itu, Nomor 4 menyaksikan kejadian tersebut sambil bersedekap. Meski miris, ia tahu bahwa sudah tugasnya untuk mengajak manusia berbuat keburukan.

Namun, sedikit yang ia tahu, di kemudian hari ia akan berada di posisi yang sama dengan pemuda tersebut.

Dengan tangan yang terikat dan kaki yang dipaksa bersimpuh, Nomor 4 dibawa ke ruang pengadilan neraka.

Seorang iblis tua dengan rambut panjangnya yang beruban membacakan tuntutannya di hadapan Nomor 4. "Iblis Nomor 4, kau dianggap bersalah karena telah membuat manusia memiliki kekuasaan dan menjadikannya tiran. Hal itu membuat dunia menjadi kacau dan menimbulkan banyak korban."

Merasa tidak adil, Nomor 4 lantas menyampaikan pembelaannya. "Tunggu sebentar! Kenapa aku salah?! Kita kan iblis, bukankah aku dikirim untuk menghancurkan dunia?"

Raut sang hakim tampaknya tidak senang. "Dasar bodoh! Aku tidak bilang kau bisa mengacaukan semua seenaknya. Untuk itu, sesuai aturan kau harus dimusnahkan. Namun, karena kemampuanmu memenangkan hati raja sangat diperhitungkan, maka statusmu sebagai Iblis Nomor 4 akan dihapus, dan kau harus menyelesaikan 30.000 perbuatan baik."

Palu diketok. Dan begitulah hukuman yang harus dijalani Nomor 4. Meski merasa tidak adil, tidak ada yang bisa ia lakukan. Ia hanyalah iblis rendahan yang tak punya kuasa. 

Hari-harinya sebagai iblis yang biasa berkeliaran di muka bumi terpaksa dihentikan. Nomor 4 harus kembali ke neraka dan menjalani hari-hari penghukumannya yang membosankan dengan melakukan magang. Berulang kali dia merasa hukuman ini sangatlah konyol. Bagaimana tidak? Ia adalah iblis, berbuat jahat adalah hal yang baik untuknya. Namun sekali lagi dia tidak punya pilihan. Ia harus segera menyelesaikan hukumannya agar bisa kembali ke kehidupannya semula.

Di suatu hari, saat tengah menanam bunga di ladang yang tandus, Nomor 4 didatangi oleh Iblis Nomor 7. Seorang wanita tua gemuk yang menjadi guru para iblis di pusat pelatihan iblis. 

devil number 4 - [hhj x hyj]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang