Kedoknya telah terbongkar.
Perlahan wujud wanita tua yang tersenyum lembut itu berubah menjadi wanita muda yang menyeringai dengan biji matanya yang memerah terang. Nomor 2 berdiri kokoh dengan rupa aslinya, menatap junior kesayangannya dan malaikat itu bergantian.
Di kubu lain, kehadiran iblis itu adalah satu hal yang ingin mereka hindari. Tujuan mereka hanya ingin membawa Kang Seulgi pergi dari sini. Namun, jika kondisinya sudah terlanjur begini, salah satu dari mereka harus mengalahkan Nomor 2 agar Kang Seulgi selamat.
"Aku akan menghadapi Nomor 2," sekonyong-konyong Winter mengajukan diri, maju selangkah di depan Nomor 4. "Kau bawa Kang Seulgi dari sini."
Nomor 4 sempat ragu, menatap Kang Seulgi di belakang dan Nomor 2 bergantian sebelum seruan Winter menyadarkannya, "Lindungi Yeji!"
Sialan! Dipacu oleh waktu, Nomor 4 segera mengambil keputusan; menuju Kang Seulgi dan mendorong kursi rodanya hingga mereka berhasil kabur dari sana dengan menembus dinding. Untuk saat ini membawa wanita paruh baya itu adalah prioritasnya.
Setelah kepergian keduanya, di ruangan temaram itu kini tinggal lah sang malaikat dan sang iblis.
Dua wanita beda entitas itu saling menatap dengan sorot yang berbeda; yang satu tenang dan satunya was-was. Tentu Nomor 2 adalah yang tenang. Dia lah yang memegang kendali di sini. Tak ada gentar setitik pun dalam air mukanya.
Nomor 2 mendekap lengannya, mengkonfrontasi Winter dengan percaya diri. "Aku tidak ada urusan dengan malaikat."
"Aku mendapat perintah dari dunia malaikat untuk melenyapkanmu," ujar Winter tenang namun penuh penekanan. "Awalnya, dunia malaikat dan dunia iblis memang sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing, tapi mengambil jiwa manusia secara tidak adil dianggap dosa besar dan akan ditangani langsung oleh dewa."
Ucapan makhluk suci itu terdengar seperti omong kosong memuakkan di telinganya. Nomor 2 mendengus hampir tertawa. "Haah.... dosa besar?"
Tap tap. Kakinya perlahan melangkah menuju sang malaikat.
"Katanya malaikat adalah kaki tangan dewa, tapi kalau kaki tangan itu memutuskan untuk bergerak atas kemauannya sendiri,"
Kaki itu berhenti melangkah, tepat di ujung sepatu boots hitam Winter yang bergeming.
"apa itu masih bisa disebut kaki tangan?"
Rahang Winter mengeras.
"Yah, bisa dibilang, itu adalah produk cacat."
"Diam..." tukas Winter dalam, menahan emosinya agar tidak meluap saat itu juga. Ia menatap iblis itu dengan tatapan sama nyalangnya— tak ingin kelihatan terintimidasi karena ia tahu dirinya lebih unggul. Untuk saat ini ia hanya perlu mengulur sedikit waktu sampai Nomor 4 telah menjauh dari tempat itu.
"Kudengar kau adalah iblis elite. Apa yang membuatmu bertindak sejauh—"
Tercekat. Tenggorokan Winter mendadak tercekat. Ucapannya tersendat, sesuatu terasa menyergap membuat tubuhnya tak bisa digerakkan.
Apa ini?
Apa iblis punya kekuatan seperti ini?
Seharusnya mereka tidak akan bisa mengalahkan malaikat!
Nomor 2 tersenyum tenang, merasa di atas awan. "Jangan memasang tampang menyedihkan begitu. Kau membuatku merasa tidak enak."
Ia meneleng, menyusuri wajah malaikat yang tampak menyedihkan itu. Melihat Winter tak berdaya membuatnya merasa semakin berkuasa. Perlahan tangannya naik, menyentuh lembut helaian rambut panjang wanita yang lebih pendek darinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
devil number 4 - [hhj x hyj]
Fanfiction[Devil Number 4 | Webtoon!AU | Devil!Hyunjin X Human!Yeji] Hwang Yeji, si mahasiswa miskin yang hampir putus asa pada hidupnya. Suatu hari, datang padanya seorang iblis tampan yang menawarkan kenikmatan dunia yang bisa ia genggam jika Yeji mau membu...
![devil number 4 - [hhj x hyj]](https://img.wattpad.com/cover/383141231-64-k12694.jpg)