Setelah melewati pekan ujian yang tegang dan penuh tekanan, libur akhir semester semakin tampak di depan mata. Musim gugur yang senantiasa menemani pun perlahan menuju akhirnya, memberi jalan bagi musim dingin untuk ambil alih. Suhu semakin rendah. Daun-daun kering berguguran, menumpuk di tanah dan membuat pepohonan tampak ringkih dan gundul.
Di tengah udara yang semakin dingin itu, menikmati secangkir kopi hangat dan kudapan manis di kafe terasa begitu pas untuk apresiasi diri setelah ujian.
"Ah, leganya. Tinggal satu ujian lagi lalu kita akan libur panjang," celetuk Chaewon yang berada di antara Yeji dan Soobin.
"Argghh. Kau benar." Soobin yang merasa paling menderita itu hanya berharap ujian akhir ini segera berlalu. Dia sudah muak dengan belajar dan mengerjakan soal—yang ada di kepalanya kini hanyalah liburan dan bersenang-senang. Namun di tengah keluhannya sendiri, Soobin mulai menyadari perubahan sikap Yeji yang sejak tadi tak banyak bicara, bahkan setelah mereka berpisah dengan Chaewon hingga tiba di kafe. Gadis itu terus saja diam, seolah pikirannya sedang melayang entah ke mana.
"Yeji, kau baik-baik saja?" tanya Soobin sembari meletakkan nampan berisi kopi pesanan mereka di meja. Gadis itu segera mengangkat wajah, tersadar seperti raganya ditarik kembali ke dunia nyata. Soobin duduk di sebelahnya dan menyodorkan kopi. "Kau melamun seharian. Apa karena ujian? Sudah jangan terlalu dipikirkan. Nih, minum kopinya."
"Terima kasih," sambutnya dengan senyum tipis.
Soobin tak banyak menuntut penjelasan. Diamnya Yeji itu ia sikapi dengan diam juga. Mungkin gadis itu memang sedang ada pikiran. Jika dia ikut campur dengan bertanya lebih jauh, mungkin hanya akan membuat Yeji tidak nyaman.
Mereka menghabiskan waktu di kafe itu dalam diam. Alunan musik yang menenangkan mengisi atmosfer ruangan. Mereka menyesap kopi sambil memandangi orang-orang yang lalu lalang di luar. Hingga isian kopi dan kudapan manis habis, barulah keduanya memutuskan untuk pergi.
Di perjalanan pulang itu, barulah Yeji mulai bicara.
"Tak terasa tahun ini akan segera berakhir," itu kalimat yang diucapnya, membuat Soobin menoleh bingung. "Ini mungkin terdengar klise, tapi aku menyadari ternyata umurku juga ikut bertambah setahun."
Setengah tertawa, Soobin menanggapi, "Kau mengkhawatirkan itu dari tadi?"
"Bukan, bukan khawatir. Aku cuma merasa takjub saja. Selain itu, Bos..."
"Ah, aku juga mendengarnya. Katanya minggu ini kafe tutup, 'kan? Tak kusangka orang yang sangat sehat itu tiba-tiba bisa sakit."
Saat membahas pria itu, Soobin menyadari perubahan di wajah Yeji. Ada kabut sendu yang menyelimuti di sana. "Kau mengkhawatirkannya, ya?"
Yeji menoleh terlalu cepat, seperti sadar tertangkap basah. "Kelihatan sekali, ya?"
Soobin membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia ragu ingin mengatakan ini, tapi dia sudah lama penasaran akan, "Kau suka.. pada Bos?"
Tidak ada raut terkejut, bersemu ataupun membantah, yang ada hanya telengan bingung. Yeji tidak bisa memberi jawaban pasti atas pertanyaan itu.
"Soobin, menurutmu bagaimana caranya kita bisa membedakan perasaan suka dan tidak suka? Aku tidak tahu apa aku menyukainya karena dia berada di dekatku, tapi saat dia tidak ada atau saat dia sakit, aku merasa kesulitan. Susah menjelaskannya dengan kata-kata."
Yeji teringat momen saat dia menemani pria itu terbaring lemah di atas kasur. Melihatnya tak berdaya begitu membuat Yeji gelisah, kasihan, tak nyaman. Dia tidak paham mengapa dia merasa begitu. Apa kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya pada iblis itu?
KAMU SEDANG MEMBACA
devil number 4 - [hhj x hyj]
Fanfiction[Devil Number 4 | Webtoon!AU | Devil!Hyunjin X Human!Yeji] Hwang Yeji, si mahasiswa miskin yang hampir putus asa pada hidupnya. Suatu hari, datang padanya seorang iblis tampan yang menawarkan kenikmatan dunia yang bisa ia genggam jika Yeji mau membu...
![devil number 4 - [hhj x hyj]](https://img.wattpad.com/cover/383141231-64-k12694.jpg)