Chapter 28

65 4 0
                                        

long time no see!! 

happy reading, ya :)

-----------------------------------------



Sejak dulu hidupnya memang tak pernah mudah.

Dibesarkan oleh orang tua tunggal yang mengidap depresi dan hidup di bawah garis kemiskinan menempanya menjadi gadis yang kuat. Atau bisa dibilang—dipaksa kuat.

Dia ingat sekali, dulu saat dinyatakan diterima di universitas, yang dia pikirkan pertama kali adalah bagaimana cara membayar biaya masuknya.

"Kan ada pinjaman uang dari negara, kamu tinggal daftar saja. Bicarakan dengan ibumu, lalu daftar setelah mendapat persetujuannya. Kamu harus kuliah, Yeji. Selama ini kamu sudah berusaha keras bukan? Kamu pasti akan mendapat banyak kesulitan, tapi semuanya akan teratasi asal kamu berjuang keras."

Ucapan wali kelasnya itu terdengar seperti harapan palsu di telinganya. Sesuatu yang terasa bisa ia raih sejengkal lagi, tapi kemudian dia dihadang oleh jurang nan curam. Sementara ibunya berada di sana, di ujung seberang sambil menatap dingin, hanya untuk mendapati saat Yeji mengulurkan tangan, wanita itu akan berbalik tak acuh.

Suatu hari, isi sepucuk surat yang ditinggalkan di atas meja serasa menghantam dadanya di siang bolong.

'Kita harus pindah dari tempat ini sampai akhir bulan. Aku sudah membawa semua barangku. Sekarang kamu harus cari tempat untukmu tinggal.

Aku sudah hidup sebagai ibumu selama dua puluh tahun. Mulai sekarang, jangan panggil aku ibu.'

Surat itu layaknya momentum yang telah dinanti-nanti oleh ibunya. Momen yang pas untuk meninggalkannya. Untuk sesaat Yeji sulit mencerna kalimat demi kalimat yang baru dibacanya. Pikirannya menjadi kosong seketika. Ia menatap sekeliling. Kosong. Barang-barang mereka sudah tidak ada. Mungkin Ibu sudah menjualnya di pasar loak.

Akhirnya, tiba juga saat ini, simpulnya dengan senyum perih.

Ia sudah menduga suatu saat hal ini akan terjadi. Berkali-kali ia sudah mempersiapkan hatinya, bagaimana jika Ibu pergi meninggalkannya? Apa yang harus ia lakukan? Apa ia harus memohon agar Ibu mau menerimanya lagi? Atau ia harus merelakan saja dirinya dibuang sebagaimana Ayah dulu pergi meninggalkan mereka? Serta berbagai situasi lainnya pernah ia coba proyeksikan di kepalanya. Namun, tetap saja saat waktunya tiba begini, tak ayal hatinya tetap terasa sakit.

Dan begitu saja, Yeji dan ibunya menjadi asing.

Setelah resmi menjadi sebatang kara, kini Yeji harus memikirkan nasibnya ke depan. Ia harus bertahan hidup, bagaimanapun caranya.

Ia mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai kasir di minimarket. Gajinya memang tak seberapa, tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Sembari belajar tekun untuk beasiswanya, Yeji mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dari pekerjaan paruh waktu. Memang tidak mudah. Di saat anak-anak lain menikmati kehidupan kampus, mengakrabkan diri, mengikuti organisasi, berpacaran, Yeji tak punya waktu untuk itu semua. Begitu jam perkuliahan usai, ia akan melesat cepat meninggalkan kampus untuk bekerja. Pagi sampai siang kuliah, sore sampai malam bekerja. Terus berlangsung begitu. Hari-hari sibuk nan melelahkan buat Yeji tak sempat memikirkan ibunya.

Tapi terkadang, ada saat-saat di mana ia mulai berpikir betapa menyedihkan hidupnya. Di kamar kosan murahan yang bisa ia usahakan, ada malam-malam sepi di mana ia hanya termenung menatap kosong langit-langit.

devil number 4 - [hhj x hyj]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang