Chapter 29

39 4 0
                                        


selamat membaca^^

-------------


Sinar mentari yang menyeruak bebas ke dalam kamar hotel memaksanya menyipitkan mata. Terlalu silau. Yeji melenguh ketika mengerjap.

Saat matanya sudah bisa dibuka sepenuhnya, ia mengalihkan pandangan ke sekitar, dan langsung menyadari kehadiran Nomor 4 di ruangan itu.

Pria itu duduk di kursi di sisi kasurnya, tampak santai menggulir layar tablet di tangan sembari menunggunya terbangun.

"Kau sudah bangun?" sapanya santai.

Yeji menyadari ruangan ini berbeda dengan yang di vila.
"Kenapa aku di sini? Bagaimana dengan vilanya..."

Nomor 4 mematikan layar tabletnya. "Kau kecapekan. Karena kasurku lebih nyaman, jadi aku menidurkanmu di sini. Tak perlu khawatirkan soal vilanya, aku sudah mengubah ingatan mereka." Pria itu mengedikkan bahu tak acuh. "Mungkin mereka juga tidak sadar kau pergi."

Begitu rupanya. Ya, semalam semuanya terasa begitu kacau. Liburan yang mereka agendakan terpaksa batal karena insiden tak menyenangkan itu.

Kejadian semalam masihlah terasa tidak nyata baginya. Ingatannya tentang Chaewon kembali terlintas di kepalanya. Bagaimana awal mula pertemanan mereka, masa-masa menyenangkan sehabis perkuliahan, hingga obrolan keduanya di pantai semalam.

Sejak kapan? Sejak kapan Iblis Nomor 2 telah menyamar sebagai Chaewon? Atau sejak awal sosok Chaewon yang ia kenal itu sebenarnya memang tidak ada?

"Yeji," suara Nomor 4 membuyarkan lamunannya. "Kau kenal Nomor 2, 'kan? Iblis biasanya mendekati manusia lewat mimpi." Nomor 4 sengaja memberi jeda, bertanya hati-hati. "Waktu itu... kau sengaja tidak menolaknya karena ibumu atau kau tidak mau melepaskan temanmu?"

Yeji tidak bisa menjawab pertanyaan itu.

Dia sendiri juga sebenarnya tidak tahu mana yang memberatkan alasannya—ibunya atau Chaewon. Atau sebenarnya ia tahu. Sebab bagaimana pun, baik Ibu maupun Chaewon adalah sosok yang berarti baginya. Mungkin karena itu lah meskipun Nomor 2 menyamar menjadi ibunya atau Chaewon, tanpa sadar ia tak bisa menolak ajakannya.

Nomor 4 menyadari perubahan wajah Yeji. Gadis itu lebih banyak diam menyimpan pikirannya.

Perlahan, dengan gerakan lembut, Nomor 4 mendekatkan dirinya. Kasur yang semula hanya diisi satu orang kini terasa mendapat beban satu lagi. Pria itu ikut duduk di sampingnya—begitu dekat. Dalam sekon yang terasa intens itu, Yeji tak kuasa menggerakkan tubuhnya barang sejari kelingkingpun untuk sekadar memberi jarak.

Ia terus tertuju pada pria itu.

Nomor 4 menatapnya tepat di mata. Iris semerah darah itu seolah merasuk ke dalam sukmanya, begitu dalam.

"Aku janji," ucapnya dengan kesungguhan. "Aku akan membuatmu tetap hidup. Jadi, kau juga harus berjanji— kau tidak akan semudah itu mengikutinya lagi."

Saat itu Yeji memang tak memberinya jawaban apapun, tetapi Nomor 4 tak peduli. Sebab ia tahu—gadis itu mempercayainya.

.

.

.

"Loh, katanya pergi bersenang-senang. Kok jam segini sudah pulang?"

"Semuanya sakit karena kebanyakan minum. Sudahlah, jangan kebanyakan tanya, aku mau tidur. Jangan bangunkan aku."

Soobin melenggang menuju kamarnya. Mengabaikan raut bingung adiknya yang mendapati kakaknya pulang ke rumah lebih awal dari seharusnya.

devil number 4 - [hhj x hyj]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang