Chapter 30

40 4 1
                                        

special update sebelum tahun baru!!

------------------------






Kehidupan pada musim dingin di kota Seoul pada dasarnya sama saja seperti musim lainnya. Orang-orang menjalani keseharian; bekerja, bersekolah, berbelanja. Lalu lintas yang padat. Udara berpolusi. Kucing liar yang mengendus-ngendusi sampah. Semua sama. Hanya saja, di cuaca dingin sekarang ini orang-orang tak betah berlama-lama di luar. Berbeda dengan Winter dan Nomor 4 yang malah berkeliaran ke segala penjuru kota Seoul guna mencari Kang Seulgi.

"Ketemu?"

Nomor 4 yang bersedekap sambil bersandar di mobil, bertanya pada Winter yang tengah mengamati aplikasi maps di layar tabletnya. Mereka sudah berkendara puluhan kilometer berjam-jam ke berbagai tempat mengikuti petunjuk maps, tetapi tak kunjung mendapatkan hasil. Mencari seseorang yang telah lama menghilang di kota besar sama saja seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Sulit!

Wanita itu mendesis ragu. Matanya masih tertuju pada layar tabletnya. Jika Kang Seulgi memang berada di radius jangkauan mereka, maka tabletnya akan memberi tanda. Tapi ini nihil. 

Winter menyerah, ia mendongak sambil menahan topinya agar tidak terbawa angin.

"Kurasa dia tidak ada di Seoul. Sepertinya ini akan memakan waktu lama."

Nomor 4 tidak bisa berkomentar banyak. Dia tahu pekerjaan ini memang membutuhkan usaha dan kesabaran. Tetapi untuk saat ini, lain daripada itu, dia tidak bisa tahan untuk tidak mengomentari penampilan Winter yang menurutnya sangat mengganggunya saat ini.

"Omong-omong, bisa nggak kau ganti baju dulu," ucapnya gamblang, memuntahkan keluhannya setelah menahan-nahannya sejak tadi.

Winter langsung melihat dirinya sendiri. Saat ini ia mengenakan dress hitam dan floppy hat dengan warna senada. Ia yakin tidak ada yang salah dengan penampilannya saat ini.

"Memangnya kenapa? Kau bilang pakai baju santai saja."

"Ya memang. Tapi sekarang kan Korea sedang dingin sekali!"

"Aku nggak kedinginan, tuh," sahutnya bodo amat.

Memang sedari tadi orang-orang terus memandang ke arahnya yang tampak santai-santai saja berpenampilan 'terbuka' di saat kebanyakan mereka membungkus tubuh dengan mantel tebal. Tapi Winter tak peduli. Toh, ini kan tubuhnya. 

Tak ingin didebat lagi, Winter melengos begitu saja melewati Nomor 4 yang menghalangi pintunya seraya berkata, "Memangnya aku harus mempedulikan sudut pandang manusia?"

"Tapi kan—"

Blam! Pintu mobil ditutup.

Sementara Winter sudah berada di dalam mobil, Nomor 4 yang masih di luar tak mampu menahan emosinya. Sikap malaikat yang seenaknya itu sebenarnya tak beda jauh dengan Nomor 4, hanya saja menghadapi sikap menyebalkan orang lain tentu saja membuatmu jadi jengkel juga.

"Terus, siapa yang memutuskan jadi perempuan karena merasa dua laki-laki yang bepergian bersama terlihat aneh?! Setidaknya kau harus konsisten, dong!" serunya kesal, tapi Winter di dalam seolah tak mendengarkannya.

"Sudahlah, cepat masuk. Kita harus pergi," balas wanita itu tenang.

"Argh!!" Nomor 4 menendang angin untuk lampiaskan kekesalannya. Satu dengusan keluar sebelum ia berjalan memutar masuk ke mobil. Ia memakai belt-nya dengan kekesalan yang menggumpal di dalam dada dan menyalakan mesin. "Jangan coba-coba mengubah topik, ya. Aku tahu kau hanya suka melihat dirimu sebagai wanita."

devil number 4 - [hhj x hyj]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang