Winter menundukkan kepalanya. Dia tidak berani bertatapan dengan seseorang yang saat ini sedang melihatnya dengan tatapan mengintrogasi.
"Kau tidak akan mengatakan siapa orangnya?" kata Jina pada Winter.
Winter mengatupkan mulutnya rapat lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Kau membuatku sakit kepala." Kata Jina sambil memijat pelipisnya.
Mendengar itu Winter pun melihat Jina sekilas lalu kembali menundukkan kepalanya ketika melihat tatapan Jina yang sedang tidak bersahabat.
"Baiklah, aku tidak akan menanyakan siapa orangnya. Tapi kau tahukan kalau tindakanmu itu bisa saja beresiko pada karir mu?" kata Jina berusaha tenang, Winter menganggukkan kepalanya pelan.
Jina menghentikan pembicaraan mereka sejenak karena mereka sudah sampai di lokasi pemotretan. Mereka pun segera masuk ke dalam ruang rias dan ganti pakaian untuk Winter.
Melihat keadaan yang cukup aman Jina pun kembali melanjutkan pembicaraan mereka. Jina berusaha berbicara setenang mungkin supaya tidak ada orang luar yang mendengar pembicaraan mereka karena saat ini hanya mereka berdua yang ada di dalam ruangan.
"Bagaimana jika ada yang berhasil mengambil foto kalian? Kau tidak berpikir kalau itu bisa saja jadi berita skandal berpacaran?" kata Jina lagi.
"Kau tidak akan menjawab?" tanya Jina setelah melihat Winter yang hanya diam saja.
Perlahan Winter pun mendongkakkan kepalanya lalu melihat Jina yang tampaknya sangat khawatir padanya.
"Aku punya alasan karena tidak mengatakan siapa orangnya kepada kakak. Dan aku juga tahu kalau aku salah karena tidak berpikir panjang ketika datang berkunjung ke rumahnya di malam hari."
"Saat berada di rumahnya, aku bahkan berpikir kalau perbuatanku itu salah karena bisa saja itu berdampak buruk bagi kami berdua. Aku ingin segera pergi meninggalkan tempat itu, tapi situasinya tidak mendukung untuk aku segera pulang."
"Karena itu aku minta maaf dan aku tidak akan mengulanginya lagi." Kata Winter merasa bersalah.
Jina bisa merasakan penyesalan pada perkataan dan tindakan dari Winter. Dia bukannya marah, hanya saja dia khawatir dengan Winter. Dia tidak mau Winter mengalami kesulitan karena mendapatkan skandal pacaran yang bisa saja mendapat respon tidak baik di saat dirinya sedang naik daun saat ini.
"Baiklah, lain kali berhati-hatilah. Memang lucu, tapi kau tahukan kalau dirimu juga bisa dikendalikan oleh respon para netizen, begitulah hidup seorang publik figure." Kata Jina memperingati.
"Iya, aku mengerti." Kata Winter dengan perasaan sedih dalam hatinya kerena dia kembali diingatkan kalau dalam profesinya saat ini dia tidak bisa melakukan dan mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya.
"Aku akan pergi untuk memanggil tata rias dan busana." Kata Jina lalu pergi meninggalkan Winter di dalam ruangan itu seorang diri.
Winter pun merebahkan dirinya di atas sofa setelah kepergian Jina. Dia menatap ke langit-alngit ruangan dengan tenang.
"Apakah memang sesulit ini untuk bisa bahagia?"
"Kebahagiaanku di renggut begitu saja demi kebahagiaan orang lain."
"Apakah melupakan adalah tindakan yang tepat?" kata Winter lalu membuang nafasnya pelan.
Winter pun menutup matanya. Dia berusaha memendam semua kesedihan, kekesalan, dan ketidakadilan yang dirasakannya saat ini. Dia mencoba untuk memulihkan dirinya mejadi sosok yang diinginkan orang lain, bukan sosok yang diinginkan olehnya. Winter membuka matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Safe Time
Fanfiction📌 Follow Dulu Sebelum Baca 😊 Menjadi terbaik dalam bidang pekerjaanku adalah hal yang terhebat, tapi menjadi terbaik baginya adalah hal yang luar biasa. Karena itu aku memerlukan waktu yang bisa membuat perjalanan hidup terkesan menyenangkan serta...
