21

42 1 0
                                        

Rain terdiam mendengar ucapan Sean. Berusaha untuk menyadarkan dirinya dari apa yang di dengarnya itu bisa saja sebuah godaan atau mungkin rayuan.

"Apa?" kata Rain pelan dengan raut wajah terkejut, begitu juga dengan Yoohan yang menampakkan raut wajah terkejut.

"Kenapa kau terkejut? Bukankah aku sudah berkata dengan sangat jelas?" kata Sean dengan tatapan lembut pada Rain.

"..." Rain masih terdiam mencerna setiap perkataan yang diucapkan oleh Sean.

"Kenapa sangat serius begitu? Aku hanya bercanda." Kata Sean dengan tawa diakhir kalimatnya, Rain tersenyum canggung.

"Aku kira itu nyata, aku bahkan sampai berpikir kalau perkataan Winter itu benar." Kata Rain di dalam hatinya.

"Yak! Bercanda mu keterlaluan. Hampir saja aku ingin membatalkan investasi." Kata Yoohan dengan tawa di akhir kalimatnya.

"Itu hanya candaan kan?" kata Sean.

"Tentu saja!" kata Yoohan, mereka berdua pun tertawa kecuali dengan Rain.

Kedatangan Mina menghentikan kegiatan tawa mereka.

"Apa yang sedang kalian bicarakan? Aku juga ingin bergabung." Kata Mina semangat lalu duduk di dekat Rain.

"Kau tidak perlu ikut bergabung, berbicara saja dengan para karyawan laki-laki itu dan tinggalkan adikmu disini seorang diri." Kata Yoohan tanpa ekspresi.

Mina yang menyadari perubahan suasana pada Yoohan pun memberikan senyum paksanya.

"Maaf, tadi aku hanya ingin mengambil sampanye saja, tapi tiba-tiba mereka mengajakku berbicara. Tidak enak juga jika aku menolaknya setelah mereka tahu kalau aku adalah anak dari mantan presdir dan saudara dari presdir baru, jika aku menolak bukankah itu juga akan memberi pengaruh pada oppa." Kata Mina menjelaskan.

"Pengaruh apa?" tanya Yoohan.

"Apa saja, misalnya presdir baru ini memiliki adik yang sombong dan lain sebagainya." Kata Mina.

"Aku tidak peduli akan ucapan mereka." kata Yoohan.

"Tapi aku peduli, aku tidak ingin oppa dibicarakan dengan tidak baik. Bagi oppa itu adalah hal yang biasa, tapi bagi beberapa orang itu adalah hal yang buruk. Terutama bagi mereka yang mengalaminya sendiri." kata Mina serius, membuat suasana jadi hening.

"Mina... mau berdansa denganku?" tawar Sean mencoba untuk menghentikan suasana hening itu. Mina tersenyum menanggapi tawaran itu.

Sean pun membawa Mina ke lantai dansa lalu mulai berdansa.

"Woah... aku iri, kak Mina sangat mahir berdansa. Sean oppa juga sangat pandai." Kata Rain kagum, Yoohan tertawa kecil.

Yoohan bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangannya pada Rain.

"Mau berdansa denganku?" tanya Yoohan tersenyum manis, Rain menoleh.

"Aku tidak bisa berdansa oppa." Kata Rain lalu terkekeh kecil.

"Tapi kau bisa belajar kan?" tawar Yoohan lagi.

"Tentu saja, oppa tahu kan kalau aku bisa belajar dengan cepat." Kata Rain.

"Kalau begitu ayo pergi ke lantai dansa." Kata Yoohan.

Rain mengangguk sambil tersenyum, lalu berjalan pergi bersama Yoohan ke lantai dansa.

Dan benar saja, hanya dalam beberapa saat Rain sudah bisa mengikuti pergerakan Yoohan walaupun tidak semahir Yoohan, Mina, dan Sean.

Entah sejak kapan para karyawan lainnya hanya berdiri di pinggir memberikan ruang pada mereka untuk berdansa. Mereka memberikan tatapan kagum, kepada kedua pasangan dansa itu.

The Safe TimeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang