Winter melipat kedua tangannya di depan dada sambil berbicara santai dengan Rain. Sesekali terlihat senyum tulus muncul di bibirnya ketika mengingat seseorang yang sudah menguasai pikirannya sejak tadi.
"Melihat responmu sepertinya kau memang menyukainya." Kata Rain.
"Iya, sudah lama aku tidak merasa sesemangat ini." kata Winter ikut tersenyum.
"Lalu, bagaimana untu selanjutnya?" tanya Rain.
Perkataan Rain membuat senyuman di bibir Winter memudar secara perlahan. Tiba-tiba dia merasa khawatir untuk mereka ke depannya.
"Sepertinya aku sudah bertindah terlalu gegabah." Kata Winter.
"Gegabah apanya?" kata Rain.
"Masa larangan pacaranku masih ada 1 tahun lebih lagi. Itu berarti kami tidak bisa memperjelas hubungan kami." Kata Winter.
"Memangnya kenapa? Asalkan bisa berkomitmen hubungan kalian bisa diperjelas, itu hanya masalah status saja." Kata Rain.
"Entahlah, aku tidak yakin." Kata Winter dengan senyum hambar.
"Karena yang sudah terikat status pun tidak menjamin." Kata Winter dengan tatapan kosongnya.
Rain mengerti arti dari perkataan dan tatapan itu. Tanpa sengaja ingatan dulu kembali muncul ke permukaan.
"Kalau begitu lakukan saja dengan gayamu." Kata Rain, Winter menoleh.
"Gaya ku?" kata Winter.
"Iya, tunjukkan rasa sukamu secara ugal-ugalan supaya dia tidak melarikan diri." Kata Rain dengan senyum jahilnya.
"Yak, justru dia akan lari jika aku bertingkah seperti itu." kata Winter merasa terhibur, mereka pun tertawa bersama.
"Semua orang itu tidak sama. Aku yakin kau akan mendapatkan yang berbeda dari sebelumnya." Kata Rain dengan nada lembut.
"Kenapa kau bisa seyakin itu?" kata Winter.
"Karena aku mendoakan kebahagiaanmu." Kata Rain sambil tersenyum tulus.
Winter pun membalas senyuman itu dengan senyum yang sama. Dia sangat bersyukur bisa memiliki sahabat seperti Rain yang selalu bisa menjadi penghibur dan penyemangat dalam hidupnya.
"Aku juga mendoakan kebahagiaanmu." Kata Winter.
"Kalau begitu aku hanya tinggal menunggu saja." Kata Rain.
"Iya, mari menunggunya bersama-sama." Kata Winter, Rain mengangguk.
"Tapi sampai saat ini apakah memang belum ada seorang pria yang menarik perhatianmu?" tanya Winter penasaran.
"Tidak ada." Kata Rain.
"Dari sekian banyaknya pelanggan dan rekan kerjamu?" tanya Winter.
"Iya, tidak ada." Kata Rain lagi sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak mungkin! Jika dipikir-pikirkan lagi bisa saja bukannya tidak ada, hanya dirimu saja yang tidak terbuka dengan orang-orang yang tertarik padamu?" kata Winter.
"Memang tidak ada, karena kau juga tahu kalau wajahku tidak di publish." Kata Rain.
"Ah aku terlupa!" kata Winter sambil memukul kealanya pelan.
"Tapi..." kata Rain tertahan lalu mengalihkan pandangannya ke segala arah karena ragu untuk menceritakan.
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu? Ceritakan padaku!" kata Winter penasaran.
"Kau tahu kan kalau hari ini kami pergi ke acara natal perusahaan ayah." Kata Rain membuka cerita, Winter mengangguk cepat.
"Di acara itu ayah akhirnya memberi pengumuman kalau Yoohan oppa akan menjadi direktur utama untuk menggantikan ayah." Kata Rain, Winter melongo terkejut.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Safe Time
Fanfiction📌 Follow Dulu Sebelum Baca 😊 Menjadi terbaik dalam bidang pekerjaanku adalah hal yang terhebat, tapi menjadi terbaik baginya adalah hal yang luar biasa. Karena itu aku memerlukan waktu yang bisa membuat perjalanan hidup terkesan menyenangkan serta...
