Mina dan Sean sedang makan malam bersama di restoran yang biasa di datangi Mina bersama keluarganya. Mereka duduk di meja tepat di pinggir gedung, sehingga dari posisi duduk itu mereka bisa melihat pemandangan di sekitar gedung yang indah.
"Makanannya enak kan?" kata Mina ketika melihat Sean yang sudah memasukkan sendok pertama ke dalam mulutnya.
"Iya, sangat enak." Kata Sean takjub dengan rasanya.
"Syukurlah kalau kau menyukai rasanya." Kata Mina senang lalu memakan makanannya.
"Makanan mahal memang tidak akan mengecewakan." Kata Sean mengingat berapa harga makanan yang mereka pesan itu.
Mendengar itu Mina segera menggelengkan kepalanya dengan cepat seakan mengatakan dia tidak setuju dengan perkataan yang dikatakan oleh Sean karena mulutnya penuh dengan makanan.
Melihat tindakan itu Sean terkekeh pelan lalu menutup mulutnya agar makanan yang ada di dalam mulutnya tidak keluar.
"Ada apa denganmu? Kenapa bertingkah aneh seperti itu?" kata Sean setelah dia menelan makanannya.
"Bertingkah aneh?!" kata Mina tidak terima.
"Iya..." kata Sean masih mencoba menahan tawanya karena dia merasa sangat terhibur dengan tingkah Mina.
"Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Jika pria lain melihatku seperti itu mereka pasti berpikir aku itu lucu." Kata Mina dengan kesal.
"Ada apa dengan dia? Dia benar-benar tidak romantis sama sekali." Kata Mina di dalam hatinya.
Mendengar itu Sean pun tampak berpikir sejenak.
"Memang lucu..." Kata Sean membuat hati Mina tiba-tiba terasa hangat, Mina tersenyum tipis.
"Karena lucu makanya aneh. Kau bukanlah tipe orang yang seperti itu, tidak cocok." Kata Sean membuat Mina kembali kesal.
Melihat Mina yang tidak memberikan respon apa-apa, Sean pun kembali bertanya.
"Apakah aku melakukan kesalahan?"
"Tidak, masalahnya adalah aku. Sepertinya aku terlalu berharap lebih." Kata Mina lalu melanjutkan aksi makannya.
Merasa ada yang janggal dengan itu, Sean berniat ingin bertanya hingga sampai suara dentingan sendok makan dan piring Mina yang terdengar dengan jelas membuat Sean mengurungkan niatnya. Dia tahu kalau Mina sedang marah dan tidak tepat untuk bertanya tentang hal itu padanya sekarang.
"Tapi apakah ada latar belakang yang spesial dari makanan ini?" tanya Sean mengubah topik pembicaraan karena sebenarnya tadi dia berhasil menangkap sesuatu dari respon Mina yang sepertinya tidak setuju dengan perkataannya.
Perlahan Mina pun melihat Sean yang menunggu tanggapannya. Mina pun meletakkan sendok makannya lalu membersihkan sekitar bibirnya menggunakan tissue.
"Makanannya memang mahal, tapi itu bukanlah poin utama kenapa makanannya enak." Kata Mina mulai bercerita.
"Pemilik sekaligus koki utama di restoran ini adalah teman ibu." Kata Mina membuat Sean cukup terkejut mengetahui fakta itu.
"Mereka adalah teman sekampung. Mereka sama-sama datang ke kota untuk mengejar mimpi masing-masing. Semuanya yang mereka lakukan berjalan dengan baik dan lancar, ibu yang sibuk belajar desain pakaian sedangkan bibi Im sibuk meningkatkan skill memasaknya." Kata Mina menyebut teman ibunya sebagai bibi Im.
"Dengan kerja keras dan dukungan bersama membuat mereka menjadi anak perantau yang cukup sukses dan mapan di kota orang lain. Bahkan mereka juga bersamaan menemukan teman hidup dan akhirnya membentuk sebuah keluarga, mereka adalah teman seperjuangan yang hebat." Kata Mina tersenyum tipis menceritakan pertemanan sejati ibunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Safe Time
Fiksi Penggemar📌 Follow Dulu Sebelum Baca 😊 Menjadi terbaik dalam bidang pekerjaanku adalah hal yang terhebat, tapi menjadi terbaik baginya adalah hal yang luar biasa. Karena itu aku memerlukan waktu yang bisa membuat perjalanan hidup terkesan menyenangkan serta...
