Sean berjalan di sepanjang lorong di dalam pesawat menuju letak kursinya berada sesuai dengan tiket yang di pesannya. Dia memesan tiket kelas bisnis agar dia bisa lebih nyaman selama perjalanan jauh menuju ke Amerika.
"Permisi, saya duduk tepat di sebelah anda." Kata Sean menyapa orang yang duduk di sebelah kursinya.
Orang itu menganggukkan kepalanya tanpa melihat Sean yang sudah duduk di sebelahnya setelah meletakkan tas dan kantungan yang dibawanya dengan aman.
Karena penasaran Sean sedikit melirik orang yang ada di sebelahnya, orang itu memakai masker dan kacamata hitam sehingga membuat wajahnya hampir tertutupi sepenuhnya.
"Masih saja ada orang yang berpakaian seperti itu di dalam ruangan? Semoga saja bukan orang jahat." Kata Sean di dalam hatinya.
Sean pun memutuskan untuk menyibukkan dirinya sendiri. Dia mengambil laptop dari dalam tas lalu memakainya untuk mengerjakan pekerjaan perusahaan yang harus diselesaikan segera mungkin.
Untuk tetap terjaga selama perjalanan supaya bisa menyelesaikan pekerjaan itu Sean mengambil permen kopi dari kantung jasnya lalu memakannya sambil menyamankan posisi duduknya.
Sean bisa melihat orang di sebelahnya sempat melihatnya memakan permen itu.
"Apakah anda ingin permen juga?" tawar Sean pada orang itu.
"Tidak, saya tidak suka permen rasa kopi." Kata orang itu menolak.
"Ternyata begitu, saya juga memiliki rasa yang lain." Kata Sean sambil merogoh kantung jasnya lagi dan menawarkan permen rasa lain, rasa susu dan cokelat.
"Apakah rasa strawberry tidak ada? Aku suka permen rasa strawberry." Katanya.
"Tidak ada, rasa strawberry." Kata Sean.
"Seharusnya anda juga membelinya, padahal rasa itu sangat enak." Kata orang itu.
"Iya?" kata Sean bingung dengan jawaban orang itu.
"Kenapa juga aku harus membeli permen yang sesuai dengan seleranya? Padahal kami juga tidak akan bertemu jika bukan karena perjalanan ini saja." Kata Sean di dalam hatinya.
"Anda tidak sedang membicarakan saya di dalam hati kan?" kata orang itu membuat Sean gelagapan.
"Bagaimana dia tahu?" kata Sean di dalam hati.
"Tidak, tidak mungkin." Kata Sean dengan senyum paksanya.
"Intinya saya tidak memiliki permen rasa strawberry dan tidak akan membeli juga. Ambil ini jika anda ingin makan permen rasa kopi, susu atau cokelat saja." Kata Sean lalu segera meletakkan permen itu di dekat orang itu lalu kembali fokus dengan pekerjaannya.
"Iya." Kata orang itu, lalu melihat Sean memakan satu permen kopi lagi.
"Anda jangan banyak memakan permen kopi jika belum sarapan, nanti perut anda bisa sakit, 2 saja sudah cukup kan." Kata orang itu.
"Darimana dia tahu jika perutku akan sakit jika memakan terlalu banyak permen kopi? Dan lagi dia tahu batas konsumsiku hanya 2 permen. Mungkin hanya kebetulan saja kan?" kata Sean di dalam hatinya.
"Iya." Kata Sean dengan senyum canggungnya.
"Tapi anda tahu darimana saya belum sarapan?" kata Sean.
"Tadi aku melihat anda membawa kantung makanan. Lalu tidak perlu melihat pun saya sudah tahu, itu kan kebiasaan anda." Kata orang itu santai.
"Iya?" kata Sean semakin bingung.
"Hah... aku benci berpura-pura." Kata orang itu membuang nafasnya kasar lalu segera membuka kacamata dan masker yang dipakainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Safe Time
Fiksi Penggemar📌 Follow Dulu Sebelum Baca 😊 Menjadi terbaik dalam bidang pekerjaanku adalah hal yang terhebat, tapi menjadi terbaik baginya adalah hal yang luar biasa. Karena itu aku memerlukan waktu yang bisa membuat perjalanan hidup terkesan menyenangkan serta...
