Dengan tenang Rain mendengar cerita Winter. Mulai dari bagaimana pertemuan, interaksi, perasaan yang ada dan akhirnya keputusan yang sudah diambil oleh Winter terhadap dia dan seniornya itu.
"Apakah kau sudah bulat untuk keputusanmu?" tanya Rain setelah Winter mengakhiri ceritanya.
Diam selama beberapa saat hingga akhirnya Winter membuka suara.
"Sebenarnya aku juga tidak yakin. Jika mendengar nasihat yang aku terima maka keputusan untuk melupakan perasaan ini adalah langkah terbaik. Tapi..." kata Winter tertahan lalu menghela nafas berat.
"Tapi hatimu masih berpihak padanya. Kau khawatir jika pertemuan kalian akan membuatmu melemah dan perasaan yang kau sembunyikan itu akan kembali muncul ke permukaan." Kata Rain, Winter melihat Rain lekat.
"Aku benar kan?" kata Rain.
"Iya." Kata Winter dengan suara pelan lalu menundukkan kepalanya.
"Lalu memangnya kenapa jika perasaanmu kembali muncul?" tanya Rain, Winter mendongkakkan kepalanya.
"Jika mereka tahu aku menjalin hubungan di tengah karirku saat ini, aku akan mengecewakan banyak orang." Kata Winter.
"Lalu, apakah tidak apa jika kau yang di kecewakan?" kata Rain.
"Karena kau bukan seorang publik figure, kau tidak akan tahu." Kata Winter.
"Iya, aku memang tidak tahu akan larangan pacaran atau peraturan apapun itu. Tapi sebagai seorang manusia bukankah hal yang wajar jika menyukai seseorang dan juga mencoba untuk berkencan di umurmu saat ini?" kata Rain.
"Tapi..." kata Winter tertahan.
"Itu hanya karena kau takut ditinggalkan." Kata Rain dengan tatapan seriusnya.
Sejenak Winter terdiam setelah mendengar perkataan Rain. Sesaat kemudian dia pun menganggukkan kepalanya.
"Iya, aku takut. Aku takut mereka akan meninggalkanku, lalu mereka akan membenciku." Kata Winter jujur.
"Kau bukanlah Tuhan. Kau tidak bisa mengatur perasaan manusia untuk tetap seperti yang kau inginkan." Kata Rain.
"Akan tetapi kau juga perlu mencari kebahagiaanmu. Bukan kebahagiaan yang kau dapatkan dari orang-orang yang ingin mengatur keadaanmu seperti yang mereka inginkan, tapi dari orang yang merasa bahagia ketika memilikimu dalam keadaan apapun itu." kata Rain.
Winter merasa tertegur oleh perkataan Rain. Ingin rasanya Winter bebas mengungkapkan isi hatinya, dia tidak ingin menipu perasaannya. Dia ingin berkata suka jika suka, dan tidak jika tidak suka.
"Apakah tidak apa jika aku berbuat semauku?" tanya Winter.
"Jika kau suka lakukan saja tanpa ragu. Kenapa harus hidup dengan berpura-pura seperti itu?" kata Rain.
Winter menghela nafas pelan lalu tersenyum melihat Rain sambil menganggukkan kepalanya pelan.
"Kau akan mendukungku kan?" kata Winter.
"Tentu saja, asal kau mematuhi peraturan saja." Kata Rain.
Winter mengerutkan keningnya akan perkataan Rain baru saja. Tapi dia mengurungkan kebingungannya dan saat ini dia hanya fokus pada satu hal yaitu untuk berkata jujur dengan isi hatinya.
Satu hal yang dia syukuri adalah ada seorang pemeran figuran yang spesial dalam hidupnya yang akan selalu mendukungnya.
Mereka pun segera melangsung kegiatan sarapan mereka. Tidak dengan wajah murung tapi dengan wajah bahagia.
"Tapi apakah memang semenakutkan itu jika terkena skandal berpacaran?" tanya Rain.
"Jangan bertanya, itu yang paling menakutkan daripada skandal lainnya." kata Winter.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Safe Time
Fiksi Penggemar📌 Follow Dulu Sebelum Baca 😊 Menjadi terbaik dalam bidang pekerjaanku adalah hal yang terhebat, tapi menjadi terbaik baginya adalah hal yang luar biasa. Karena itu aku memerlukan waktu yang bisa membuat perjalanan hidup terkesan menyenangkan serta...
