Mulan adalah cinta pertama Yedam, gadis yang sama pintarnya dengan Yedam. Mereka sudah lama saling mengenal, tapi bagi Mulan, Yedam itu rival abadinya. Berbeda dengan Mulan, Yedam menganggap Mulan adalah Semestanya.
Sedari kecil mereka selalu menda...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
___
Mulan menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya pada sofa empuk ruang keluarga. Tatapannya menerawang, mengingat kembali pertengkaran hebatnya dengan Yedam delapan bulan silam. Emosi yang membara, kata-kata yang terlontar tanpa terkendali, semuanya terasa begitu nyata sekaligus bagai mimpi buruk yang untungnya telah berlalu. Ajaibnya, pagi setelah malam penuh badai itu, Yedam kembali dengan kelembutan dan cinta yang berlipat ganda, seolah amarah semalam hanyalah ilusi. "Sudahlah, itu sudah berlalu," batin Mulan dengan senyum tipis. Kini, hatinya dipenuhi kebahagiaan yang tak terhingga, menanti dengan penuh harap kehadiran "Dudung", buah cinta mereka yang sebentar lagi akan mengisi hari-hari mereka.
Waktu terasa berjalan begitu lambat sekaligus begitu cepat. Tak terasa, kehamilannya kini telah memasuki usia 9 bulan. Perutnya semakin membesar, terasa semakin berat namun juga semakin dekat dengan saat yang dinantikannya. Ia tengah memasuki masa Hari Perkiraan Lahir (HPL). Tinggal menghitung hari, bahkan mungkin jam, sampai ia bisa mendekap sang buah hati di dalam gendongannya. Setiap gerakan kecil di dalam perutnya terasa seperti bisikan rindu, semakin membuatnya tak sabar.
Malam itu, Mulan terbangun dari tidurnya dengan sensasi aneh di perut bagian bawah. Awalnya ia mengira hanya kontraksi palsu yang sering ia rasakan beberapa minggu terakhir. Namun, kali ini rasanya berbeda. Lebih kuat, lebih teratur, dan disertai dengan rasa nyeri yang semakin intens. Ia mencoba mengatur napas seperti yang diajarkan di kelas persiapan persalinan, namun rasa sakitnya semakin menjadi-jadi.
"Awwh..." rintih Mulan pelan, mencoba tidak membangunkan Yedam yang terlelap di sampingnya. Namun, pergerakannya gelisah membuatnya terbangun.
"Lan? Kamu kenapa?" tanya Yedam dengan suara serak khas bangun tidur, namun matanya langsung terbuka lebar melihat ekspresi kesakitan di wajah Mulan.
"Dam... kayaknya... kayaknya ini kontraksi beneran," jawab Mulan dengan suara tertahan, mencoba menahan gelombang nyeri yang kembali menyerang.
Yedam yang tadinya masih setengah sadar langsung tersentak bangun sepenuhnya. Matanya membulat panik, namun ia berusaha keras untuk tetap tenang. "Kontraksi? Yang bener, Lan? Udah berapa menit sekali?" tanyanya cepat sambil meraih tangan Mulan.
Mulan mencoba mengingat. "Tadi... sekitar sepuluh menit... tapi sekarang... kayaknya makin deket... lima menit sekali mungkin..." jawabnya sambil meringis menahan sakit.
Tanpa membuang waktu, Yedam langsung meloncat dari tempat tidur. "Ya Tuhan! Kita harus segera ke rumah sakit!" serunya dengan nada cemas namun penuh tindakan. Ia dengan sigap membantu Mulan duduk, mengambilkan air minum, dan meraih tas perlengkapan bayi yang sudah jauh-jauh hari mereka siapkan.
"Pelan-pelan ya, Sayang," ucap Yedam lembut namun tergesa-gesa sambil memapah Mulan berjalan menuju mobil. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam, namun tangannya menggenggam erat tangan Mulan, memberikan kekuatan dan ketenangan.