Mentari pagi menyapa lembut melalui jendela ruang tunggu klinik bersalin. Di sana, Mulan terduduk sendirian. Jemarinya sesekali mengetuk-ngetuk pahanya, berusaha menyembunyikan kegugupan yang sedari tadi menyeruak di dadanya. Hari ini adalah hari yang dinantikannya sekaligus hari yang membuatnya sedikit cemas. Setelah beberapa minggu merasakan perubahan aneh pada tubuhnya, akhirnya ia memberanikan diri untuk memeriksakan diri.
Pintu ruangan dokter terbuka, dan seorang perawat memanggil namanya dengan senyum ramah. Mulan menarik napas dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar tak karuan. Ia melangkah masuk ke ruangan yang terasa hangat dan nyaman itu. Dokter wanita paruh baya menyambutnya dengan senyum yang menenangkan.
Setelah serangkaian pertanyaan dan pemeriksaan fisik yang lembut, tibalah saat yang paling mendebarkan. Dokter mengarahkan Mulan untuk berbaring di ranjang periksa. Gel dingin terasa menyentuh perutnya saat alat USG mulai bergerak perlahan. Mulan menatap layar monitor dengan saksama, mencoba memahami gambar abu-abu yang samar-samar terlihat.
Hening sejenak, hanya suara alat USG yang terdengar. Kemudian, dokter menunjuk ke sebuah titik kecil di layar. "Ini dia, Ibu Mulan," ucap dokter dengan nada lembut namun penuh arti. "Sudah terlihat kantung kehamilannya."
Mulan tertegun. Matanya membulat, dan bibirnya sedikit terbuka tanpa suara. Ia menatap titik kecil itu, mencoba mencerna kata-kata dokter. Kantung kehamilan... berarti...
Dokter melanjutkan sambil tersenyum, "Usianya diperkirakan sekitar enam minggu. Selamat ya, Bu Mulan, Anda hamil."
Seketika, air mata menggenang di pelupuk mata Mulan. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata haru dan bahagia yang tak tertahankan. Perasaan lega, bahagia, dan tak percaya bercampur aduk menjadi satu. Ia meraba perutnya dengan lembut, seolah ingin merasakan kehadiran makhluk kecil yang kini bersemayam di dalamnya.
"Benarkah, Dok?" tanya Mulan dengan suara bergetar, masih tidak sepenuhnya percaya dengan apa yang didengarnya.
Dokter mengangguk sambil tersenyum lebar. "Benar sekali, Ibu. Selamat datang di perjalanan yang luar biasa ini."
Mulan kembali menatap layar USG. Titik kecil itu kini terasa begitu istimewa, begitu berharga. Ia membayangkan betapa kecilnya ia, namun sudah membawa perubahan besar dalam hidupnya. Rasa gugup yang tadi sempat menghantuinya kini berganti dengan kebahagiaan yang meluap-luap.
Keluar dari ruangan dokter, Mulan berjalan dengan langkah yang lebih ringan. Senyum tak pernah pudar dari bibirnya. Ia memegang erat hasil USG di tangannya, sebuah bukti nyata dari keajaiban yang sedang terjadi di dalam dirinya. Di luar sana, mentari terasa bersinar lebih terang, seolah ikut merayakan kabar bahagia ini. Mulan menarik napas dalam, menghirup udara sekitar yang terasa lebih segar dari biasanya. Ia hamil. Sebuah babak baru dalam hidupnya telah dimulai.
Dari kejauhan dia melihat sosok yang lama tak terlihat olehnya "Mulan" panggil pria tersebut dengan berlari kecil ke arah yang terpanggil.
"Apa kabar Lan, ngapain disini? kamu sakit kah?" tanya Hyunjin.
Mulan menarik napas dalam. Ini bukan cara yang ia bayangkan untuk berbagi kabar ini, namun takdir seolah mempertemukan mereka di sini. "Aku... hamil, Kak."
Reaksi Hyunjin sungguh di luar dugaan Mulan. Matanya yang tadinya terlihat lelah, tiba-tiba berbinar. Sebuah senyum lebar merekah di wajahnya, senyum yang sudah lama tidak Mulan lihat.
"Sungguh?" tanya Hyunjin, nada suaranya penuh antusiasme. "Kamu hamil? Selamat, Lan!"
Mulan sedikit terkejut dengan reaksinya. Ia mengira Hyunjin akan terkejut atau bahkan merasa tidak nyaman. Namun, yang ia lihat justru kebahagiaan yang tulus.
KAMU SEDANG MEMBACA
☆ 𝐌𝐞𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡 || 𝐁𝐚𝐧𝐠 𝐘𝐞𝐝𝐚𝐦 ☆
Teen FictionMulan adalah cinta pertama Yedam, gadis yang sama pintarnya dengan Yedam. Mereka sudah lama saling mengenal, tapi bagi Mulan, Yedam itu rival abadinya. Berbeda dengan Mulan, Yedam menganggap Mulan adalah Semestanya. Sedari kecil mereka selalu menda...
