Mulan adalah cinta pertama Yedam, gadis yang sama pintarnya dengan Yedam. Mereka sudah lama saling mengenal, tapi bagi Mulan, Yedam itu rival abadinya. Berbeda dengan Mulan, Yedam menganggap Mulan adalah Semestanya.
Sedari kecil mereka selalu menda...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
--
Malam yang baru saja berlalu masih terasa kelam bagi Mulan. Kenangan akan pertengkaran sengit dengan Yedam bagai duri yang terus menusuk hatinya. Ia merenung, mencoba memahami bagaimana semuanya bisa terjadi begitu cepat. Mengapa Yedam tiba-tiba meluapkan amarah tanpa memberinya kesempatan untuk menjelaskan? Dan mengapa pula ia, Mulan, ikut tersulut emosi, membiarkan egonya menguasai diri? Seharusnya ia bisa lebih tenang, menahan lidahnya, dan tidak membalas dengan nada yang sama tingginya. Namun, suasana yang sudah terlanjur panas membuatnya kehilangan kendali, hingga kata-kata pedas pun terlontar dari bibirnya, membalas setiap cercaan Yedam.
Semalaman Yedam tak kunjung pulang. Kecemasan mencengkeram hati Mulan. Ke mana perginya suaminya? Apakah ini akhir dari segalanya? Apakah ia akan ditinggalkan sendirian, meratapi kebodohannya?
"Yedam, kamu ke mana... hiks," bisiknya lirih di tengah kesunyian rumah yang terasa begitu dingin tanpa kehadiran Yedam. Air mata kembali membasahi pipinya. "Maafin aku... aku cuma mau kasih kamu kabar bahagia, tapi kenapa tiba-tiba kamu marah..."
Mulan memukul pelan kepalanya dengan telapak tangan. "Bodoh banget sih kamu, Lan! Kenapa nggak bisa tahan emosi?" cercanya pada diri sendiri. Ia tahu betul, baik dirinya maupun Yedam sama-sama memiliki ego yang tinggi, seperti dua gunung yang sulit untuk saling merendah.
Hingga mentari pagi menyapa lewat celah jendela, Mulan masih enggan untuk menghubungi Yedam terlebih dahulu. Ada secuil rasa bahwa ini tidak sepenuhnya kesalahannya. Yedam-lah yang pertama kali membentaknya, dan harga dirinya menolak untuk mengalah begitu saja. Namun, di balik keras kepalanya, kerinduan dan kekhawatiran terus menggerogoti hatinya.
Tiba-tiba, suara pintu terbuka memecah keheningan. Jantung Mulan berdebar kencang. Yedam pulang. Tanpa berpikir panjang, Mulan berlari kecil menghampiri suaminya, menatap wajahnya yang tampak lelah dengan mata yang sembab. Yedam pun mendekat dan langsung memeluk Mulan erat. Air mata Mulan yang sedari tadi ditahannya akhirnya tumpah membasahi bahu Yedam. "Maafin aku, Dam," isaknya di dalam pelukan.
Yedam hanya diam, namun tangannya bergerak lembut mengelus kepala Mulan, seolah menenangkan badai yang berkecamuk di dalam dirinya. Setelah beberapa saat, Yedam sedikit melonggarkan pelukannya dan menatap Mulan dengan tatapan lembut. "Kamu udah sarapan belum?" tanyanya dengan suara pelan. Mulan hanya menggeleng kecil, masih dalam dekapan Yedam.
Yedam melepaskan pelukannya sepenuhnya dan menggandeng tangan Mulan, membawanya duduk di sofa. "Aku bikinin makanan ya," ucap Yedam lembut, mengusap pipi Mulan dengan sayang. "Kasian adeknya pasti lapar."
Mulan hanya bisa menatap punggung Yedam yang menjauh menuju dapur dengan perasaan lega yang luar biasa. Ia hampir tak percaya dengan apa yang terjadi. Dalam benaknya, ia sudah membayangkan Yedam akan kembali dengan amarah yang sama, bahkan mungkin hanya untuk mengambil barang-barangnya dan pergi meninggalkannya. Kekhawatiran yang begitu nyata kini terpatahkan oleh kelembutan Yedam. Air mata yang tadi membasahi pipinya kini berganti dengan harapan dan penyesalan yang mendalam. Ia berjanji pada dirinya sendiri, ia harus belajar mengendalikan emosinya, belajar untuk lebih mendengarkan daripada berdebat, terutama pada Yedam, suaminya.
••••••
Minggu demi minggu berlalu dengan cepat, membawa perubahan yang semakin nyata pada diri Mulan. Kandungannya kini semakin membesar, perutnya membundar indah menyimpan kehidupan baru. Jadwal hari ini adalah sesi latihan yoga khusus untuk ibu hamil. Mulan mengikuti setiap gerakan dengan hati-hati, ditemani oleh Yedam yang setia mendampingi di setiap sesinya. Yoga ini bukan hanya sekadar olahraga, melainkan sebuah upaya untuk menjaga kebugaran fisik dan mental, mempersiapkan diri menyambut kehadiran sang buah hati. Yedam selalu memastikan Mulan merasa nyaman dan aman selama latihan, sesekali membenarkan posisi tubuh Mulan atau memberikan semangat dengan senyuman hangatnya.
Usai berkutat dengan gerakan-gerakan yoga yang menenangkan namun menguras tenaga, Mulan kini tengah beristirahat di sebuah matras lembut. Peluh membasahi pelipisnya, namun wajahnya memancarkan kebahagiaan. Tak lama kemudian, Yedam datang menghampirinya membawa sebuah piring berisi potongan buah-buahan segar yang telah dikupasnya dengan telaten. Aroma manis buah naga, mangga, dan semangka langsung menggoda indra penciuman Mulan.
"Ini, aku kupasin buah," ujar Yedam lembut sambil berjongkok di sisi Mulan. Ia mengambil sepotong buah naga berwarna merah muda dan menyuapkannya perlahan ke mulut Mulan. "Makan yang banyak ya, Dudung," lanjutnya sambil mengelus lembut pipi Mulan.
Mulan terkekeh mendengar panggilan sayang Yedam untuk calon bayi mereka. "Kok Dudung?" tanyanya penasaran, menikmati rasa manis buah naga di lidahnya.
Yedam tersenyum lebar, matanya berbinar-binar. "Soalnya suara detak jantungnya bunyinya 'dung... dung... dung...'" ia menirukan bunyi detak jantung dengan nada riang.
Mulan kembali terkekeh mendengar jawaban polos suaminya itu. Ia merasa begitu beruntung memiliki Yedam di sisinya, dengan segala perhatian dan keunikan yang dimilikinya. "Lan," panggil Yedam lagi, kali ini nadanya sedikit lebih serius. "Aku boleh pegang perut kamu nggak?" pintanya dengan tatapan penuh harap.
Mulan mengangguk lembut, mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Yedam dan membimbingnya ke perutnya yang membundar. "Boleh dong, kan Dudung juga pengen dielus ayahnya," jawab Mulan dengan senyum penuh kasih.
Yedam meraih perut Mulan dengan kedua tangannya, mengelusnya perlahan dengan penuh kehati-hatian. Ia mendekatkan telinganya ke arah perut Mulan, mencoba menangkap suara kehidupan di dalamnya. Terdengar jelas di telinganya detakan kecil yang ritmis, denyut kehidupan yang tumbuh di rahim istrinya. Entah mengapa, suara sederhana itu tiba-tiba membuatnya merasa begitu sensitif. Air mata tanpa sadar mulai menitik membasahi pipinya. Ia merasakan keajaiban dan tanggung jawab besar yang kini ada di pundaknya.
"Makasih ya, Lan, udah mau jaga Dudung," ucap Yedam lirih, suaranya bergetar menahan haru. Ia mencium lembut perut Mulan, menyalurkan rasa cinta dan terima kasihnya.
Mulan mengusap air mata Yedam dengan lembut, merasakan kehangatan cintanya yang tulus. "Makasih juga kamu udah mau sama aku terus, Dam," balas Mulan dengan suara yang sama lembutnya. Ia menggenggam erat tangan Yedam, menyalurkan rasa syukur dan cintanya yang tak terhingga. Dalam keheningan yang penuh kasih itu, mereka berdua merasakan ikatan yang semakin kuat, ikatan cinta yang akan segera bertambah dengan kehadiran buah hati mereka, si kecil Dudung yang detak jantungnya telah menyatukan hati mereka.
•••TBC•••
Bentar lagi tamat gais jangan lupa votmen nya yah hehe, sarangek