Sekelebat memori menyeruak, membawa Yedam terlempar kembali ke pusaran malam penuh amarah. Setiap kata dingin yang terlontar dari bibir Mulan menghantam relung hatinya, meremukkan keyakinan yang susah payah ia rajut. Ia sempat berkhayal, setelah segala upaya penerimaannya, Mulan akan melihat tulus cintanya dan membuka hati sebagai seorang istri.
Namun, kenyataan menamparnya dengan kejam. Angan-angannya pupus. Ia merasa bak wayang yang dipermainkan nasib, cintanya yang ia curahkan sepenuh jiwa ternyata bertepuk sebelah tangan. Isak tertahan menggerogoti dadanya, napasnya tercekat oleh kepedihan. Dalam remuk redam hatinya, sebuah keputusan bulat lahir. Ia akan merelakan Mulan pergi, menuruti keinginan tersirat yang selalu ia tangkap. Ia akan membebaskan wanita yang teramat dicintainya dari belenggu pernikahan yang mungkin terasa menyesakkan baginya.
Meski luka menganga di kalbunya, Yedam mencoba tegar. Ia akan mengikhlaskan Mulan mengejar bahagianya sendiri, walau tanpa dirinya di sisi. Toh, jejak cinta mereka akan abadi dalam diri sang buah hati yang sebentar lagi lahir. Anak itu akan menjadi saksi bisu ketulusan cintanya, sekaligus penawar lara di hatinya. Dengan tekad sepahit empedu namun sekuat baja, Yedam memantapkan diri untuk mengakhiri ikatan ini, demi kebahagiaan Mulan, meski harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri.
Jangan terburu menghakimi Yedam dan menuduhnya bersandiwara dalam merawat Mulan. Kalian keliru. Cinta Yedam pada Mulan, juga pada janin yang dikandung istrinya, adalah nyata, membara layaknya mentari pagi. Ia tak suka melihat Mulan terbebani pikiran dan tekanan selama masa kehamilan yang rentan. Karena itulah, dengan segenap kasih sayang dan ketulusan, ia mencurahkan perhatian, memastikan Mulan dan calon buah hati mereka merasa aman, nyaman, dan terlindungi. Setiap suapan makanan, setiap elusan lembut di perut Mulan, setiap kata penyemangat yang ia bisikkan, semua itu lahir dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Percayalah, hati Yedam juga tercabik-cabik membayangkan harus berpura-pura dingin, berpura-pura tak peduli, apalagi sampai mengajukan gugatan cerai pada wanita yang masih sangat ia cintai. Itu adalah pilihan pahit, sebuah pengorbanan besar yang merobek-robek jiwanya. Namun, dalam benaknya yang kalut, ia meyakini bahwa inilah satu-satunya jalan agar Mulan bisa benar-benar meraih kebahagiaan yang selama ini ia cari. Mungkin, di mata Mulan, pernikahan ini adalah sebuah belenggu, sebuah rantai yang menghalanginya untuk terbang bebas. Maka, dengan berat hati, Yedam memilih untuk melepaskan ikatan itu, membiarkan Mulan mengejar mimpinya, meskipun mimpinya itu tak lagi menyertakan dirinya. Ini adalah paradoks cinta yang menyakitkan: melepaskan orang yang dicintai demi kebahagiaan orang itu sendiri, meskipun hatinya sendiri hancur berkeping-keping.
••••••
Gelombang kebahagiaan yang sempat menyelimuti keluarga Mulan seketika sirna, digantikan oleh keterkejutan dan amarah yang membakar. Gugatan cerai yang diajukan Yedam merupakan kejutan yang tidak terduga, menghancurkan harapan akan keluarga bahagia yang baru saja mereka impikan. Orang tua Mulan, yang baru saja berbahagia menyambut kelahiran cucu pertama mereka, tak dapat menerima kenyataan pahit ini. Mereka menatap Yedam dengan tatapan tak percaya dan penuh tuntutan.
"Yedam! Apa maksud semua ini?!" seru ayah Mulan dengan nada tinggi, rahangnya mengeras menahan emosi. "Setelah semua yang terjadi, setelah Mulan mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan anakmu, kenapa kamu tiba-tiba mengajukan surat cerai? Ini lelucon yang sangat tidak lucu!"
Ibu Mulan, dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya, tak kalah terpukul. "Iya, Dam! Kami kira kamu benar-benar mencintai Mulan. Kami kira kalian akan menjadi keluarga yang bahagia. Kenapa kamu tega melakukan ini pada anak kami? Dia baru saja melahirkan, dia masih lemah!"
Justin, adik Mulan, yang sedari tadi hanya diam, kini ikut angkat bicara dengan nada penuh kekecewaan. "Mas Yedam, aku pikir Mas orang baik. Aku percayaMas bisa jaga kak Mulan dan keponakanku. Tapi kenapa... kenapa Mas malah melakukan hal seperti ini?"
Mereka semua menuntut penjelasan dari Yedam, mencari tahu alasan di balik tindakan yang begitu tiba-tiba dan menyakitkan ini. Mereka tak habis pikir, mengapa di saat seharusnya kebahagiaan merajai, Yedam justru menghancurkan segalanya dengan permintaan cerai yang tak terduga. Mereka menganggap ini bukan hanya lelucon yang tidak lucu, tetapi sebuah pengkhianatan besar terhadap cinta dan komitmen yang seharusnya ada dalam pernikahan.
"Maafkan saya, Pah, Mah," ucap Yedam lirih, menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan kedua orang tua Mulan yang tampak begitu kecewa dan marah. "Tapi... mungkin ini memang keputusan terbaik untuk saya, Mulan, dan juga bayi kita."
Ia mengangkat wajahnya, menatap dengan mata sendu kepada mereka. "Yedam... Yedam sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi. Yedam tidak suka melihat Mulan terus menderita hidup bersama Yedam. Mungkin dengan melepaskan Mulan, dia akan menemukan kebahagiaannya sendiri."
Belum sempat kata-kata Yedam meredup, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Ayahnya berdiri tegak di hadapannya, wajahnya merah padam menahan amarah. "Gini cara Papah mengajarimu, hah?! Lari dari tanggung jawab?! Kamu pikir pernikahan itu main-main?!" bentaknya.
Ibunya tak kalah geram, air mata kekecewaan terlihat jelas di matanya. "Kamu sudah diberikan kepercayaan oleh Om Stefano untuk menjaga Mulan, membimbingnya menjadi istri yang solehah. Tapi malah seperti ini kelakuanmu, Dam! Kamu mengecewakan kami semua!" Suaranya bergetar menahan tangis, tak menyangka putranya akan mengambil keputusan sepicik ini di saat seharusnya ia menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab.
Yedam membisu. Ia sadar betul bahwa ia telah mengecewakan banyak pihak, terutama kedua orang tuanya dan keluarga Mulan. Ia tahu, di mata mereka, tindakannya tidak dapat dibenarkan. Namun, di dalam hatinya yang remuk, ia merasa inilah satu-satunya jalan yang harus ia tempuh, demi kebahagiaan Mulan yang ia yakini tidak akan pernah ia temukan bersamanya. Ia sudah membulatkan tekad, meskipun keputusan itu mengoyak-ngoyak jiwanya.
Satu per satu, orang-orang yang tadi mengerumuninya dengan amarah dan kekecewaan pergi meninggalkan Yedam dalam kesunyian yang menyesakkan. Ayahnya menggelengkan kepala dengan raut wajah kecewa yang mendalam. Ibu Mulan menangis terisak sambil dipeluk oleh ayah Mulan. Justin menatapnya dengan tatapan dingin sebelum akhirnya berbalik badan dan mengikuti langkah kedua orang tuanya.
Kini, Yedam berdiri seorang diri di ruang tunggu rumah sakit yang ramai namun terasa sunyi baginya. Kata-kata pedas, tamparan keras, dan air mata kekecewaan menggantung di udara, menghantuinya. Ia tahu, ia telah membuat kesalahan besar di mata semua orang. Namun, di tengah kesepian dan penyesalan yang mendalam, ia tetap berpegang pada keyakinannya bahwa keputusannya ini, meskipun menyakitkan, adalah yang terbaik untuk Mulan. Ia berharap, suatu hari nanti, Mulan akan mengerti dan menemukan kebahagiaannya, meskipun kebahagiaan itu tidak bersamanya. Sementara itu, Yedam harus menanggung sendiri kesepian dan beban keputusannya.
•• Tbc ••
Vote dan Komen nya yukkks biar aku tambah semangat nulis nya
Btw kalau ada kritik saran tentang penulisanku feel free buat diutarakan ya gais <3
1 episode lagi tamat
KAMU SEDANG MEMBACA
☆ 𝐌𝐞𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡 || 𝐁𝐚𝐧𝐠 𝐘𝐞𝐝𝐚𝐦 ☆
Teen FictionMulan adalah cinta pertama Yedam, gadis yang sama pintarnya dengan Yedam. Mereka sudah lama saling mengenal, tapi bagi Mulan, Yedam itu rival abadinya. Berbeda dengan Mulan, Yedam menganggap Mulan adalah Semestanya. Sedari kecil mereka selalu menda...
