" T i g a p u l u h t i g a "

39 0 0
                                        

Yedam mengulurkan kertas yang terlipat rapi itu kepada Mulan tanpa menjawab pertanyaannya, tanpa ekspresi di wajahnya. Mulan mengerutkan kening, merasa ada sesuatu yang aneh dengan sikap suaminya. Dengan susah payah, ia meraih kertas itu dan membukanya. Jantungnya mencelos saat matanya menangkap kata-kata yang tertera di sana, hitam di atas putih, dingin dan menusuk: SURAT PERCERAIAN.

"Yedam... ini... apa maksudnya?" tanya Mulan dengan suara bergetar, air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. Ia tak mengerti, mengapa suaminya tiba-tiba memberikan surat cerai di saat seharusnya mereka tengah berbahagia menyambut kelahiran putra mereka.

Yedam akhirnya membuka suara, namun nadanya dingin dan tanpa emosi. "Terima kasih, Mulan. Terima kasih karena kamu sudah mengandung dan merawat bayi ini selama sembilan bulan."

Mulan semakin tak mengerti. Ucapan Yedam terdengar begitu formal dan jauh. "Maksud kamu apa, Dam? Ini anak kita... kenapa kamu ngomong kayak gini?"

Yedam menghela napas panjang, namun tatapannya tetap dingin. "Sekarang waktunya aku menepati janjiku."

"Janji apa?" tanya Mulan semakin panik, jantungnya berdebar kencang merasakan ada sesuatu yang sangat buruk akan terjadi.

"Janji bahwa aku akan menceraikanmu setelah bayi ini lahir," jawab Yedam dengan nada datar, seolah mengucapkan sesuatu yang biasa saja.

Mulan terperanjat. Air matanya kini tumpah membasahi pipinya. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Janji... janji apa, Yedam? Kapan kamu pernah berjanji seperti itu? Kenapa... kenapa kamu melakukan ini padaku? Padahal kita baru saja..." ucapannya tercekat oleh isak tangis.

Yedam hanya menatapnya tanpa ekspresi. "Itu sudah lama sekali. Sekarang semuanya sudah selesai. Kamu sudah melahirkan anakku, dan aku sudah menepati janjiku."

Mulan menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Ia mencoba mengingat-ingat, adakah janji seperti itu yang pernah terucap di antara mereka. Namun, yang ia ingat hanyalah janji-janji cinta, janji untuk selalu bersama, janji untuk membesarkan anak mereka dengan penuh kasih sayang.

"Aku tidak mengerti, Dam... kamu kenapa tiba-tiba jadi seperti ini? Apa salahku? Kenapa kamu ingin menceraikanku setelah kita baru saja dikaruniai seorang anak?" Mulan berusaha meraih tangan Yedam, namun suaminya itu menarik tangannya menjauh.

"Entahlah, Mulan. Mungkin aku memang tidak pantas untukmu. Mungkin ini memang jalan yang terbaik untuk kita semua," jawab Yedam singkat, menghindari tatapan Mulan.

Mulan semakin histeris. "Terbaik bagaimana, Dam? Kita baru saja menjadi orang tua! Anak kita baru saja lahir! Kenapa kamu tega ngelakuin ini?"

Yedam hanya diam, membuang muka. Ia tampak seperti orang yang kerasukan, sebuah perubahan drastis yang tak bisa dipahami oleh Mulan. Pria yang selama ini ia kenal penuh kasih sayang, kini berdiri di hadapannya seperti orang asing yang dingin dan kejam. Kebahagiaan yang baru sekejap mereka rasakan kini hancur berkeping-keping, digantikan oleh rasa sakit dan kebingungan yang tak terhingga. Mulan tak tahu apa yang merasuki suaminya hingga ia tega menuntut cerai di saat istrinya baru saja melahirkan putra mereka.

Pikiran Mulan langsung berkecamuk. Ia mencoba keras mengingat-ingat kembali malam di mana amarah Yedam meledak tanpa terkendali. Kilas balik kejadian itu muncul bagai kaset rusak dalam benaknya. Ia ingat betul tatapan mata Yedam yang penuh luka dan tuduhan, dan di tengah luapan emosi itu, samar-samar ia mendengar Yedam mengucapkan sesuatu tentang perpisahan setelah anak itu lahir. Namun, saat itu, di tengah kebingungan dan rasa sakit hatinya, ia tak sepenuhnya menyadari makna ucapan Yedam. Ia mengira itu hanya luapan amarah sesaat, sesuatu yang akan dilupakan Yedam seiring berjalannya waktu.

Kini, kata-kata dingin dalam surat cerai itu bagai petir di siang bolong. Ia kelimpungan, tak menyangka bahwa ucapan Yedam malam itu adalah sebuah janji yang kini hendak ditepatinya. Selama ini, ia berusaha meyakinkan diri bahwa Yedam sudah melupakan semuanya, bahwa mereka akan kembali menjalani hidup normal sebagai suami istri yang akan segera menjadi orang tua.

Tiba-tiba, serangkaian kejanggalan yang selama ini ia abaikan mulai terangkai menjadi sebuah gambaran yang menyakitkan. Mengapa Yedam tidak pernah lagi menyinggung malam itu? Mengapa ia tidak pernah bertanya tentang Hyunjin, tentang bagaimana Mulan bisa berakhir di klinik bersalin bersamanya? Mengapa Yedam tiba-tiba berubah dari yang begitu dingin menjadi begitu lembut di keesokan harinya?

Kini, Mulan mulai memahami semuanya. Keheningan Yedam, ketidakpeduliannya terhadap penjelasan Mulan, bahkan sikap manisnya selama kehamilan, semuanya terasa seperti kepura-puraan. Yedam tidak pernah benar-benar memaafkannya. Ia hanya menunggu saat yang tepat, saat janjinya terpenuhi, untuk meninggalkannya. Rasa sakit yang lebih dalam menusuk hatinya, bukan hanya karena perceraian yang tiba-tiba ini, tetapi juga karena ia merasa telah dibodohi dan dipermainkan selama ini.

"Oh, jadi ini semua cuma pura-pura ya, Dam? Semua perhatian kamu, semua kebaikan kamu selama ini... cuma akting?" timpal Mulan dengan suara bergetar, namun ada nada sinis yang kentara di dalamnya. Air mata terus mengalir di pipinya, namun kali ini bukan hanya karena kesedihan, melainkan juga karena rasa marah dan pengkhianatan yang begitu dalam. Ia menatap Yedam dengan tatapan terluka namun penuh tuntutan, mencari jawaban atas kepura-puraan yang baru saja terungkap.

Yedam tetap membisu. Ia tidak menjawab pertanyaan Mulan, tatapannya mengarah ke lantai, menghindari sorot mata istrinya yang penuh dengan kekecewaan. Keheningan yang menyelimuti ruangan itu terasa semakin mencekam, hanya isak tangis Mulan yang memecahnya. Ketidakmauan Yedam untuk menjawab seolah mengkonfirmasi dugaan Mulan, bahwa semua kebaikan suaminya selama ini hanyalah sebuah sandiwara belaka.

Yedam menatap Mulan dengan sorot mata yang sulit diartikan, namun ada tekad yang kuat terpancar darinya. "Aku akan membawa anak ini bersamaku," ucapnya tegas, tanpa sedikit pun keraguan dalam nada suaranya. "Aku adalah ayahnya, dan aku berhak atasnya."

Kata-kata Yedam bagai pisau yang menghujam jantung Mulan. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya, air matanya semakin deras mengalir. "Tidak, Dam... kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Dia anakku juga! Aku yang mengandungnya selama sembilan bulan, aku yang mempertaruhkan nyawaku untuk melahirkannya! Kamu tidak berhak mengambilnya dariku!" isak Mulan histeris, mencoba bangkit dari ranjang namun tubuhnya masih terlalu lemah.

"Tega kamu, Dam... tega kamu mau bawa anak kita pergi, bahkan aku sendiri belum benar-benar melihat bagaimana wajahnya, bagaimana suaranya, bahkan aku juga belum sempat memberinya ASI," lirih Mulan dengan suara tercekat, air matanya semakin deras membasahi pipinya. Ia membayangkan bayi mungilnya, yang baru saja ia perjuangkan kelahirannya dengan segenap jiwa dan raga, akan direnggut darinya begitu saja. Sentuhan lembut di perutnya yang kini kosong terasa begitu menyakitkan. Ia belum sempat mendekapnya dengan benar, belum sempat menyusui dan merasakan kehangatan tubuhnya. Bayangan akan kehilangan momen-momen pertama itu menghancurkan hatinya. "Dia anakku juga, Dam... kenapa kamu begitu kejam?" isaknya, menatap Yedam dengan tatapan penuh keputusasaan.

•• Tbc ••

Vote dan Komen nya yukkks biar aku tambah semangat nulis nya

2 episode lagi tamat nihh

☆ 𝐌𝐞𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡 || 𝐁𝐚𝐧𝐠 𝐘𝐞𝐝𝐚𝐦 ☆Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang