Hyunjin Pov's
"Cantik."
Hanya satu kata itu yang mampu mendeskripsikan pemandangan di hadapanku saat Mulan perlahan menuruni anak tangga. Kebaya berwarna putih gading yang membalut tubuhnya tampak begitu anggun, setiap detail bordirannya memancarkan keindahan yang memukau. Hiasan kepala berupa sanggul dengan ronce melati yang menghiasi rambutnya semakin memperkuat aura tradisional Jawa yang begitu melekat. Cahaya lampu aula pernikahan memantul lembut pada wajahnya yang dirias flawless, menonjolkan senyum tipis yang terukir di bibirnya.
Melihatnya begitu mempesona dalam balutan gaun pengantin membuat hatiku mencelos. Rasa iri yang begitu menusuk tiba-tiba menyeruak, menghantam dadaku dengan keras. Aku iri pada lelaki beruntung yang akan berdiri di sampingnya di altar sana, yang akan memiliki Mulan seutuhnya. Bohong besar jika aku mengatakan telah sepenuhnya mengikhlaskan Mulan untuk menikah dengan orang lain. Dia adalah cinta pertamaku, jejak kasih yang terukir begitu dalam di relung hatiku, dan mungkin akan menjadi yang terakhir.
Setiap langkah Mulan menuruni tangga terasa seperti detik-detik yang menggerogoti sisa-sisa harapan di dalam diriku. Aku menyaksikan dengan hati hancur saat ia tiba di bawah, disambut oleh senyum bahagia Yedam. Keduanya tampak serasi, bagai raja dan ratu dalam kisah dongeng. Namun, kebahagiaan mereka adalah duri yang menghujam relung jiwaku.
Setelah akad nikah selesai dan Mulan secara sah menjadi istri Yedam, sebuah tekad bulat tiba-tiba muncul dalam benakku. Aku sudah tidak memiliki niatan lagi untuk menjalin hubungan dengan wanita manapun. Biarlah rasa sakit ini menjadi pengingat abadi tentang cinta yang tak tersampaikan. Biarlah aku menua dan akhirnya meninggal dalam kesendirian, menyimpan rapat kenangan tentang Mulan, wanita pertama dan mungkin satu-satunya yang benar-benar kucintai. Aula pernikahan yang dipenuhi kebahagiaan itu terasa begitu sunyi dan dingin bagiku, seolah merayakan akhir dari sebuah mimpi yang tak pernah menjadi kenyataan.
Author Pov's
Suara penghulu yang lantang mulai mengucapkan ijab kabul menggema di seluruh aula pernikahan yang didekorasi indah. Mata cokelat milik Hyunjin mulai berkaca-kaca, hatinya terasa diremas kuat. Setiap kata yang terucap terasa seperti tusukan belati yang menghujam jantungnya. Ia sudah tidak sanggup lagi menyaksikan momen sakral yang akan terjadi beberapa saat lagi, momen yang akan merenggut orang yang diam-diam dicintainya. Dengan langkah gontai, Hyunjin memutuskan untuk meninggalkan aula pernikahan yang terasa menyesakkan itu.
Ia berjalan cepat menuju arah kamar mandi, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai basah oleh air mata di balik keramaian tamu undangan. Begitu sampai di depan pintu kamar mandi, ia segera masuk dan menguncinya dari dalam. Sandaran pintu menjadi saksi bisu tubuhnya yang merosot ke lantai. Kesedihan yang selama ini ia tahan akhirnya meledak.
Hyunjin terduduk di sudut kamar mandi yang dingin, merangkul lututnya erat, menyembunyikan wajahnya di antara lipatan tangannya. Isakan tertahan mulai keluar dari bibirnya, semakin lama semakin keras. Air mata mengalir deras membasahi gaun pesta yang ia kenakan.
"Kenapa kau berikan aku nasib seburuk ini, Tuhan?" bisiknya lirih di tengah tangisnya. Suaranya bergetar menahan kepedihan. "Kalau memang dia bukan takdirku, kenapa kau mempertemukan aku dengannya? KENAPA?!"
Dalam keputusasaan, Hyunjin memukul dinding keramik di sampingnya dengan keras. Rasa sakit di tangannya sedikit mengalihkan rasa sakit di hatinya. Ia kembali memukul dinding itu beberapa kali, hingga buku-buku jarinya memerah dan tergores, setetes darah mulai merembes keluar. Isakan tangisnya semakin lirih, bercampur dengan erangan kesakitan fisik.
Ia terus saja mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi, menariknya kuat-kuat seolah ingin menghilangkan semua kenangan dan perasaan yang membebani pikirannya. Sesekali ia memukulkan tangannya ke lantai yang dingin, melampiaskan rasa sakit yang tak tertahankan di dalam dadanya. Kamar mandi itu menjadi penjara sunyi bagi hatinya yang hancur, tempat di mana ia bisa meluapkan segala kesedihan dan kekecewaan tanpa ada seorang pun yang melihat. Aroma sabun dan kelembaban kamar mandi bercampur dengan bau air mata dan keputusasaan yang menguar dari dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
☆ 𝐌𝐞𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡 || 𝐁𝐚𝐧𝐠 𝐘𝐞𝐝𝐚𝐦 ☆
TeenfikceMulan adalah cinta pertama Yedam, gadis yang sama pintarnya dengan Yedam. Mereka sudah lama saling mengenal, tapi bagi Mulan, Yedam itu rival abadinya. Berbeda dengan Mulan, Yedam menganggap Mulan adalah Semestanya. Sedari kecil mereka selalu menda...
