XXIX. X─ Sentimental

497 57 35
                                        

"Ibu, maaf! Amane nggak akan nakal lagi, Amane nggak mau!"

Berkali-kali Amane memohon pada Ibunya untuk tidak menyeretnya, pelupuk mata anak kecil itu berderai air mata, membasahi bulu mata tebal yang lentik.

Ibunya. Ibunya yang cantik, selalu cantik, dan paling tercantik.

Di mata Amane, Ibu-lah manusia paling tercantik di Dunia. Ibu-lah yang paling lembut. Tutur katanya selembut kapas, senyum dan pelukannya sama hangatnya seperti matahari pagi yang masih beraromakan embun di tepi dedaunan.

Tapi, (Nama)...

Tolong katakan padaku,

...kenapa Amane yang begitu memuja ibunya malah diperlakukan seperti itu?

────·•·────

Kami tengah bermain rumah-rumahan. Sosok yang kami panggil 'Papa' itu tidak mampu mengenali kami.

Ayo tebak, siapa yang mana?

Peter Ratri tidak peduli.

Diantara Minerva dan Marvin, Papa tidak mengetahui yang mana Yorka dan mana yang merupakan (Nama). 

Bukan karena disembunyikan, tidak, Papa terlampau acuh untuk memedulikan tentang siapa mereka sebelum menjadi Minerva dan Marvin.

Papa hanya peduli bahwa mereka adalah Ratri, dan hanya mengakui bahwa nama mereka adalah Minerva dan Marvin. 

Minerva Ratri & Marvin Ratri.

Bagi Papa, itu cukup untuk menyatakan identitas dari dua anak yang terlahir dari embrio yang dikembangkan dengan menggunakan sperma kakaknya.

Tapi seburuk-buruknya manusia tidak akan memakan anak keturunannya.

"Aku membawakan buku sejarah mengenai perang dunia kedua khusus mengenai Jepang, sesuai dengan permintaan Marvin."

Terasa sangat aneh, asing, Papa memeluk Minerva dan Marvin sebagai bentuk sapaan begitu ia kembali menjenguk mereka.

Peter Ratri mengelus kepala Minerva dan Marvin, tersenyum jenaka saat ujung jemarinya menyentuh surai putih mereka yang mulai tumbuh.

"Rambut kalian sudah mulai tumbuh," Pria dewasa itu terkekeh, "Sebenarnya kenakalan apa yang kalian lakukan hingga Professor Gloriem naik pitam?" Pertanyaan itu diajukan dengan nada humor.

Minerva, yang Papa tandai sebagai anak ramah dengan kepribadian manis itu tersenyum tengil, "Aku berniat membantu menyelesaikan laporannya!"

Bagi Papa, asal setengah darah Ratri mengalir di tubuh dua anak itu, itu sudah membuktikan nilai mereka.

"Tapi tulisanmu terlalu jelek untuk disebut sebagai tulisan," Marvin, seperti biasa, meskipun tanpa berekspresi, mendelik pada cerminannya. Salah satu tangan anak laki-laki itu masih saja menggenggam boneka kelinci putih.

Minerva balik mendelik, "Konyol, kamu juga 'kan menonjok dinding hingga retak," Anak perempuan itu kemudian kembali menatapi Papa, "Papa, aku ingin bermain layangan, kedengarannya sangat seru!" Sekilas, pipi pucat hampir tanpa warna itu terlihat merona begitu disertai dengan cengiran.

𝐀𝐑𝐔𝐓𝐀𝐋𝐀─ 𝐩𝐫𝐨𝐦𝐢𝐬𝐞𝐝 𝐧𝐞𝐯𝐞𝐫𝐥𝐚𝐧𝐝Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang