.
.
.
.
.
.
.
Tiada hari tanpa gebrakan itu lah Jena, tiba-tiba melintas di otak saja ide yang sangat tidak diekspektasi oleh suaminya. Siapa yang kira Jena mengajak Ardi untuk jalan atau lari di sekitar villa. Bagi Ardi itu sesuatu yang mudah tapi Jena, hal yang baru dan cukup menguras tenaga.
"Mas, istirahat dulu." ucap Jena, nafasnya sudah memburu hampir melewati tanjakan yang sangat naik. Mungkin kalau diukur dengan busur lebih dari 45 derajat kali kemiringan sudutnya.
"Istirahat lagi? Tadi sebelum menanjak udah istirahat loh sayangku. Semangat Mama Jena, itu udah mau sampai jalan rata." ucap Ardi yang berjalan di depan Jena, suaminya itu masih mencoba menyemangati.
Salah strategi sepertinya Jena, dikira bakal mudah tapi sebaliknya. Ternyata banyak spot tanjakan yang tersembunyi di sini, maklum Jena sendiri tidak tau. Jarang mau eksplor agak jauh kalau kesini bareng buntut-buntut mereka.
"Hah hah capek." Nafasnya tersengal-sengal setelah menaklukan tanjakan. Jena langsung duduk asal-asalan, sesegera mungkin mendudukan pantatnya.
"Minum dulu sayang. Atur nafas dan rilex" ucap Ardi menyodorkan air minum.
"Enggak lagi deh ngide buat lari sama kamu Mas, jalan yang kamu pilih sungguh-sungguh tidak berperikemanusiaan untukku." ucap Jena lebay. Manusia jompo ngide lari ya begini.
"Cuma 2 kelokan dan tanjakan aja loh, nih 2 km doang sayangku. Pulangnya nanti turun terus." ucap Ardi memperlihatkan smartwatchnya.
"Mending pilates aja aku Mas." ucap Jena
"Hahaha ya udah besok daftar pilates aja, jangan ngide gini lagi. Orang enggak pernah lari dikomplek juga kamu. Maaf ya, Mas pilih jalur ini biar bisa lihat pemandangan ke bawah. Tuh jalan yang biasa kita lewatin kelihatan dari sini." Ardi menunjuk ke jalan yang biasanya mereka lewati kalau mau ke villa.
"Eh iya, bagus banget ternyata. Sepadan lah sampe mandi keringat kaya gini. Next liburan kita ajak twins ke daerah ini ya Mas." ucap Jena seakan lupa akan keluh kesahnya.
Walau melelahkan dan agak kapok tapi Jena akui ini sangat menyenangkan untuk dilakukan. Apalagi kalau mengajak anak-anak mereka, pasti seneng dan excitednya. Mungkin kedepannya Jena harus persiapan dulu agar tidak terlalu tepar.
"Boleh, tapi harus berangkat agak pagi sih. Perjalanan bakal agak lama karena pasti banyak distractnya." ucap Ardi
"Haha iya juga ya Mas, sama aku aja dari tadi berhenti mulu minta istirahat. Apa lagi sama anak-anak." ucap Jena, sadar diri guys.
"Mungkin harus bawa sepeda juga sayang, lebih seru kalau anak-anak bersepeda. Di sini jalanannya aman kok, enggak banyak lalu lalang kendaraan. Jalan desa ini, sepi kalau jam segini pada beraktifitas." ucap Ardi
"Enak ya kayaknya hidup di desa, jam segini tenang banget loh. Sayuran tinggal petik, ke pasar deket, udara bersih dan enggak bising." ucap Jena
KAMU SEDANG MEMBACA
Life With You
General FictionSequel dari Dosen Duda Itu Suamiku. ini kisah Jena dan Ardi bersama anak kembarnya.
