.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dunia seakan hening meski banyak orang berlalu lalang di sekitar. Tubuhnya lemas hanya mampu tertunduk bertumpu pada satu tangan yang menopang kepala dengan sedikit gemetar. Tangannya sudah sedingin es menandakan ada sebuah ketakutan. Sekilas beberapa potong memori kelam memenuhi otak mengingatkan akan trauma yang pernah ada. Trauma yang sudah dikubur dalam muncul kembali karena sebuah kejadian, menjadi sebuah trigger untuknya.
Trigger beralur yang hampir sama persis, bedanya Ardi ikut berperan dalam kejadian ini. Awal pagi ini berjalan seperti biasa Jena di rumah, twins sekolah dan dirinya sendiri berangkat mengajar seperti biasa. Tidak ada sesuatu yang salah sampai sore harinya.
Sudah direncanakan kemarin mereka akan mengunjungi Nita yang sudah melahirkan. Pulang dari kampus Ardi langsung menjemput Jena di rumah untuk pergi ke kediaman orangtuanya, kebetulan Nita memilih menetap di sana. Sedangkan Twins sudah berada di rumah Eyangnya dari sepulang sekolah. Baru sekitar sepuluh menit berkendara mereka terlibat kecelakaan berdua.
"ARDI."
Suara sangat familiar membuat Ardi mencari sumber suara itu. Retno lari tergopoh-gopoh di susul dengan Dina dan Genta di belakangnya. Tanpa mengajukkan pertanyaan Retno langsung memeluk anaknya, mengusap punggung Ardi yang gemetar. Kondisi anaknya juga cukup memprihatinkan, luka di kepala dan tangan kirinya disangga. Ardi sangat terlihat kacau dengan air mata memenuhi wajah.
"Bernafas Ardi, kita di sini. Kamu enggak sendiri." ucap Retno
"Ardi takut, Ma." ucap Ardi, mengadukan ketakutannya ke sang Ibu. Ketakutan akan kehilangan lagi seperti dulu datang kembali.
"Mereka pasti kuat, jangan putus berdoa." ucap Retno
Kecelakaan yang dialami Ardi dan Jena, lumayan parah karena airbag sampai mengembang. Mereka tertabrak dari samping sisi Ardi mengenai bagian depan, di perempatan jalan tepatnya. Ada mobil merah dari sisi kanan yang menerobos lampu lalu lintas dengan kecepatan tinggi, padahal sudah jelas lampu sudah beralih ke merah. Sedangkan dari sisi Ardi sudah hijau, otomatis semua jalan. Sebelum menabrak mobil Ardi dan Jena, pengendara itu menabrak beberapa motor yang jalan lebih dulu. Beruntungnya Ardi membelokan stirnya dengan waktu yang tepat, meminimalisir benturan yang ada.
"ARDI, Ya Allah Le." ucap Arum yang baru datang tergopoh-gopoh, sama seperti Retno. Bedanya sambil menggandeng Keyna.
"Jena gimana?." tanya Arum
Gelengan kepala dari Ardi yang belum menerima kabar istrinya. "Belum tau masih observasi, tadi pingsan tapi kepalanya luka." ucap Ardi, sedikit menjelaskan keadaan Jena yang hampir sama dengannya.
"Keluarga Ibu Jeana Kanaya Susanto." panggil Dokter
"Ya Dok? Saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya?." tanya Ardi
"Bu Jeana sudah siuman, tadi pingsan karena shock pasca kejadian. Tidak ada cidera yang serius di kepala, kondisinya berangsur stabil. Kondisi janin juga dalam keadaan baik, tidak ada pendarahan atau kontraksi. Selanjutnya, Bu Jeana akan dipindahkan ke kamar perawatan untuk observasi lanjut. Untuk memastikan tidak ada komplikasi yang muncul setelah kecelakaan." jelas Dokter
KAMU SEDANG MEMBACA
Life With You
Ficção GeralSequel dari Dosen Duda Itu Suamiku. ini kisah Jena dan Ardi bersama anak kembarnya.
