.
.
.
.
.
.
Dua minggu paska kecelakaan hidup sudah berjalanan dengan normal seperti biasanya. Kesehatan Jena sudah membaik walau ada catatan tidak boleh kecapekan. Arditya sendiri yang masih harus fisio beberapa kali untuk menyembuhkan cidera tangannya. Suaminya itu hanya libur tiga hari karena sakit, tidak bisa meninggalkan mahasiswa terlalu lama.
Kalau Ardi bilangnya hanya cidera ringan bukan yang sampai retak atau amit-amit patah tulang. Tangan kiri saja yang cidera masih ada tangan kanan yang digunakan. Sangat bisa untuk nulis di papan tulis saat menjelaskan materi. Jadi tidak ada alasan untuk libur lebih lama, tiga hari itu hanya digunakan untuk mengurus Jena.
Kondisi mobil mereka bagaimana? Ya remuk bagian depan. Baru beberapa hari di ambil setelah urusan penyelidikan kepolisian selesai. Langsung masuk bengkel untuk diketok magic seperti baru. Masalah transportasi untungnya Ardi mempunyai 2 mobil, tidak terlalu dipusingkan untuk memesan taxi online untuk sekedar antar jemput twins dan Ardi.
Bedanya kali ini Ardi tidak bisa menyupir sendiri untuk beberapa waktu, jadi memutuskan untuk memperkerjakan supir dan art. Pasangan suami istri sepaket cuma tidak menginap di rumah, tinggalnya tidak jauh dari perumahan. Jena sendiri kebetulan cocok dengan hasil pekerjaannya.
"Bi Sum, jenengan pulang saja tidak apa-apa. Mau takziah tadi katanya, nanti biar saya yang bilang ke Pak Min kalau tetangga depan rumah jenengan meninggal." ucap Jena
Wajah setengah bayanya terlihat merasa bersalah. "Nggih, maaf tidak bisa menemani Bu Jena. Saya pamit Bu, sekali lagi saya minta maaf banget." ucap Bi Sum berulang mengucapkan kata maaf.
"Sambel lotisnya sudah saya buatkan Bu. Tadi tak masukin kulkas." ucap Bi Sum
Tadi memang Ardi menitip pesan agar Bi Sum menemani Jena di rumah ketika Ardi, Twins dan Pak Min keluar ke supermarket untuk belanja. Sudah hampir satu jam belum pulang, sebenarnya Bi Sum tidak masalah untuk menemani Jena lebih lama. Cuma tadi dikabari kalau tetangga depan rumahnya meninggal, tentu tidak enak kalau tidak kelihatan takziah.
"Nggih Bi makasih, hati-hati." ucap Jena, mengawasi Bi Sum berjalan menjauh keluar perumahan.
Suami dan Twins tadi memang belanja kebutuhan mingguan mereka. Selepas maghrib berangkat, berjarak lima belas menit dari rumah. Ini hampir jam setengah sembilan malam belum ada tanda-tanda pulang ke rumah. Padahal semua belanjaan sudah dilist oleh Jena, dirasa juga pasti Ardi sudah sangat hafal tata letak barang di supermarket langganan mereka.
"Ini Papa dan Mas-mas mu kemana ya dek?." ucap Jena sembari mengusap perut, mengajak anaknya berkomunikasi. Hanya merespon Mamanya dengan pergerakan saja. Setidaknya bisa menemani dirinya yang sendiri di rumah.
"Masak cari daun ubi sampe ke petaninya, enggak mungkin to sampe ke Gunungkidul." ucap Jena lagi, kali ini sambil mengirimkan pesan ke Ardi. Menanyakan posisinya sedang dimana.
Dalam rangka ngidamnya Jena, sedari tadi sore sangat ingin sekali makan daun ubi jalar muda. Perkara fyp tiktoknya yang dipenuhi oleh vt petani sayur, ada tanaman ubi jalar yang nyempil. Daun ubi kalau dimakan dengan sambel lotis/sambel brambang itu sangat segar. Padahal daun ubinya hanya direbus saja dengan garam sedikit. Membayangkan saja Jena sampai meneguk air liur beberapa kali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Life With You
Aktuelle LiteraturSequel dari Dosen Duda Itu Suamiku. ini kisah Jena dan Ardi bersama anak kembarnya.
