.
.
.
.
.
.
.
.
Gerimis kecil-kecil turun menerpa jalanan, bau khas semerbak memenuhi ruangan. Bukankah bergelung selimut sangat terasa lebih nyaman? Ya, benar tapi sayangnya tidak untuk sore ini. Hari ini mereka harus bersiap untuk memenuhi undangan dari pihak Universitas tempat Ardi bekerja, tempat Jena kuliah dulu.
Tepat hari ini adalah ulang tahun Universitas yang ke 66, sering disebut juga Dies Natalis. Ada perayaan sekaligus acara award untuk civitas akademika Universitas. Baik untuk dosen, staf administrasi dan mahasiswa nanti ada kategorinya masing-masing. Acara tersebut digelar di auditorium utama Universitas yang berada di tengah lingkungan kampus.
Tunik kebaya kutubaru bercorak bunga berwarna navy dengan dasaran soft pink menjadi pilihan Jena, dipadukan dengan rok lilit polos sesuai corak bunganya. Pergerakkannya sedikit leluasa karena bisa disesuaikan dengan kondisi perutnya. Sedangkan Ardi mengenakan setelan jas berwarna sama dengan bawahan istrinya.
Mereka pergi hanya berdua saja tanpa twins, lagi-lagi harus menitipkan ke rumah orangtua mereka. Kali ini dititip ke Bundanya Jena, mumpung ada Rania juga yang akan menemani di sana. Ceritanya mau ngapel di rumah saja Algan itu, quality time dengan Keyna dan ketambahan twins.
"Pelan-pelan agak licin sayang." ucap Ardi, membantu Jena turun dari mobil. Sigap tangan kanan Ardi merengkuh pinggang Jena, memastikan istrinya itu aman. Tangan kirinya memegang payung karena gerimis masih turun.
"Iya, ini Mas kan juga pegangi aku. Aku pasti terlindungi jika bersama kamu." ucap Jena, juga memegangi perut Ardi.
Untungnya Ardi memiliki akses prioritas untuk tamu undangan. Akses prioritas parkir dekat pintu masuk 1 auditorium, diperuntukan untuk para lansia dan ibu hamil. Suaminya itu mendaftarkannya dari jauh-jauh hari, karena kalau tidak bisa kehabisan. Bisa-bisa mereka harus parkir di lapangan dan harus jalan kaki jauh.
"Malam Bu Jena, lama tidak berjumpa. Apakabar, sehatkan? Malam juga Pak Arditya." seseorang yang menunggu di depan pendaftaran menyapanya Ardi dan Jena.
"Kabar baik Bu Ana. Alhamdulillah sehat, Bu Ana sehat? Kok sendiri Pak Dewa kemana?." ucap Jena
"Alhamdulillah sehat. Itu Mas Dewa lagi ambil ID card, ketinggalan di mobil." ucap Ana
"Kebiasaan Pak Dewa itu, saat mengajar aja bisa-bisa balik ke ruangan karena lupa bawa laptop." ucap Ardi, sebuah kesaksian kepikunan seorang Dewantara.
Tanpa ID card tidak akan bisa masuk auditorium, id card akan di scan saat dibagian pendaftaran masuk.
"Namanya lupa Pak Ardi, kek jenengan tidak lupa aja sama koreksian skripsi anak bimbingan yang ketinggalan di rumah." ucap Dewa, serangan balik langsung dilemparkan ke Ardi.
"Ih! Kamu hamil lagi ya? Selamat Bu Jena Pak Ardi, semoga lancar sampai lahiran." ucap Ana, menyadari perut buncit Jena.
"Lo lo lo, yang ini belum kabar-kabar. Kalau tidak ketemu di sini pasti nanti kabarnya saat membagi nasi box saat udah lahir. Selamat ya kalian, si twins bakal jadi mas-mas." ucap Dewa
Kabar kehamilan Jena memang belum banyak yang tau, selain keluarga kemarin. Ardi memang sangat menjaga karena ya menunggu kepastian dulu. Setelah ada kepastian pun juga tidak langsung menggembar gemborkan kehamilan Jena. Prinsipnya seperti hubungan privat bun not secret.
KAMU SEDANG MEMBACA
Life With You
Ficción GeneralSequel dari Dosen Duda Itu Suamiku. ini kisah Jena dan Ardi bersama anak kembarnya.
